Ketika Buah Hati Jadi Komoditi

Hot News

Hotline

Ketika Buah Hati Jadi Komoditi






Oleh : Rut Sri Wahyuningsih

Entah ungkapan apa yang pantas untuk mewakili penderitaan saudara kita di Palu. Belum selesai urusan pencarian sanak keluarga dan rehabilitasi infrastruktur, kini ada ancaman sindikat perdagangan anak. Bidang Pemantauan dan Kajian Perlindungan Anak Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia, Amsyarnedi Asnawi, mengingatkan agar otoritas keamanan harus bersiaga penuh untuk menangkal bencana kemanusiaan yang berpeluang terjadi menyusul bencana alam. Orang-orang yang datang dengan jubah pekerja sosial, rohaniwan, dan tim penyelamat pun tetap harus termonitor secara ketat. Berbagai catatan, kata dia, menunjukkan, salah satu modus sindikat perdagangan orang adalah memasuki daerah bencana dengan menyaru sebagai pembawa bala bantuan lalu mengincar anak-anak. Untuk itu, LPA Indonesia mendorong semua pihak agar lebih memproteksi anak-anak yang terpisah dari orangtua atau keluarga mereka agar tidak dipindahkan, diperdagangkan, dan dieksploitasi, Hidayatullah.com (26/09/2016).

Ya, inilah yang terjadi. Rawan perdagangan anak di wilayah gempa Palu. Di saat bencana datang yang meluluh lantakkan semua yang ada di permukaan, ada saja orang-orang yang hilang rasa kemanusiaannya. Mengais rezeki dan mencari peruntungan dengan cara yang zalim. Hal ini hanya terjadi dalam sistem kapitalisme. Dimana Tuhan hanya dianggap sebagai Pencipta, bukan Pengatur. Mereka memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk kebutuhan perutnya dengan aturan yang berasal dari dirinya sendiri, manusia yang lemah dan terbatas.

Bagaimana dalam Islam? Islam akan  melindungi anak-anak korban bencana alam dengan tuntas. Melalui negara, akan mengutamakan penanganan  tanggap darurat yang bertujuan untuk memberikan bantuan segera untuk mempertahankan hidup, memulihkan kesehatan, dan dukungan moral untuk penduduk yang terkena bencana alam. Bantuan tersebut dapat berupa pemberian bantuan khusus, namun bersifat terbatas, seperti sarana transportasi, tempat tinggal sementara, makanan, pemukiman semi permanen di kamp-kamp, dan lokasi lainnya. Hal ini juga dapat melibatkan perbaikan awal untuk infrastruktur publik yang rusak.

Maka negara harus mengambil porsi yang besar dalam tahapan ini, selain karena kewajiban tersebut ada padanya, juga untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk yang masuk bersama dengan bantuan-bantuan dari pihak asing. Segala macam bantuan harus diserahkan pada negara sekaligus bertanggung jawab dalam menyalurkannya pada orang-orang yang membutuhkan bantuan beserta jenisnya dengan tepat.

Jika di baitul mal tidak lagi tersedia dana untuk masa tanggap darurat ini, dapat menggunakan alokasi dana penanggulangan bencana dari wilayah yang lain. Sebagaimana ketika khilafah di bawah pimpinan Umar RA mengalami paceklik, yang diriwayatkan oleh Ibn Syabbah dalam Akhbârul-Madînah dari jalan Al-Haitsam bin Adi, juga dari jalan Al-Walîd bin Muslim Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ”Aku telah diberitahukan oleh Abdurahmân bin Zaid bin Aslam Radhiyallahu ‘anhu dari ayahnya dari kakeknya bahwa Umar Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu untuk mengirim makanan dari Mesir ke Madinah melalui laut Ailah pada tahun paceklik”. 

Instrumen pajak bisa digunakan ketika baitul mal dan bantuan dari wilayah lain dalam khilafah tidak mencukupi. Dengan syarat ditariknya pajak hanya dari golongan masyarakat yang mampu. Kemudian negara akan beralih kepada  langkah-langkah pemulihan, baik jangka pendek dan jangka panjang, termasuk mengembalikan sistem yang mendukung kehidupan masyarakat yang bersifat penting; perumahan sementara; informasi publik; pendidikan; dan program konseling kepada pihak yang lebih rentan menerima trauma seperti perempuan, anak-anak dan lansia.

khalifah Umar bin Khattab RA telah mencontohkan bagaimana negara berperan mengambil porsi terbesar dan terbesar dari sejak sebelum bencana terjadi hingga pasca, yaitu pada saat daerah Hijaz benar-benar kering kerontang akibat musibah paceklik pada akhir tahun ke 18 H, tepatnya pada bulan Dzulhijjah, dan berlangsung selama 9 bulan yang diceritakan dalam At-Thabaqâtul-Kubra karya Ibnu Sa’ad. Penduduk-penduduk pedesaan banyak yang mengungsi ke Madinah dan mereka tidak lagi memiliki bahan makanan sedikitpun. Mereka segera melaporkan nasib mereka kepada Amîrul Mukminîn Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

Umar Radhiyallahu ‘anhu cepat tanggap dan menindaklanjuti laporan ini. Dia segera membagi-bagikan makanan dan uang dari baitul mâl hingga gudang makanan dan baitul mâl kosong total. Dia juga memaksakan dirinya untuk tidak makan lemak, susu maupun makanan yang dapat membuat gemuk hingga musim paceklik ini berlalu. Jika sebelumnya selalu dihidangkan roti dan lemak susu, maka pada masa ini ia hanya makan minyak dan cuka. Dia hanya mengisap-isap minyak, dan tidak pernah kenyang dengan makanan tersebut. Hingga warna kulit Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadi hitam dan tubuhnya kurus; dan dikhawatirkan dia akan jatuh sakit dan lemah. Kondisi ini berlangsung selama 9 bulan. Setelah itu keadaan berubah kembali menjadi normal sebagaimana biasanya. Akhirnya para penduduk yang mengungsi tadi, bisa pulang kembali ke rumah mereka.

Bencana memang qadhaNya Allah, namun ada ranah dimana manusia bisa ikhtiar merubahnya, salah satunya adalah manajemen penanganan bencana alam disusun dan dijalankan dengan berpegang teguh pada prinsip “wajibnya seorang Khalifah melakukan ri’ayah (pelayanan) terhadap urusan-urusan rakyatnya”. Pasalnya, khalifah adalah seorang pelayan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pelayanan yang ia lakukan di hadapan Allah. Maka dengan apa semestinya kita memperbaiki keadaan ini? Tentu sebagai wujud keimanan yang nyata kita harus kembali kepada syariat Allah secara kaffah. Karena hanya aturan berasal dari Allah sematalah yang bisa mengubah keadaan menjadi Rahmatan lil Alamin. Wallahu a'lam bishshowwab.


Penulis adalah Pengasuh Group Online Brownis
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.