Marwah Ulama yang Patah

Hot News

Hotline

Marwah Ulama yang Patah



Oleh : Estriani Safitri


Belum lama pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019, Jokowi-Ma'ruf Amin berkumpul bersama dengan para pendukungnya di Tugu Proklamasi,  Jakarta.  Ada momen menarik dalam acara tersebut. Adalah Kiai Ma'ruf Amin tampak asyik digoyang biduan dangdut di atas panggung. Warganet menyayangkan Kiai Ma'ruf Amin yang ikut bertepuk tangan melihat goyangan pedangdut bernama Sandrina.

Sementara itu, Presidium Persatuan Pergerakan, Andrianto menilai itu merupakan resiko yang harus ditanggung oleh seorang kiai yang masuk ke pusaran politik praktis. Namun, kata dia, seharusnya koalisi partai pendukung paham akan posisi Kiai Ma'ruf Amin sebagai pemuka agama, seharusnya memang tidak perlu di depan. Marwahnya sebagai benteng moral runtuh sudah (Rmol.co, 22/09/2018).

Selain itu, kampanye pilpres 2019 mempertaruhkan segalanya. Keterlibatan ulama dianggap memiliki nilai strategis yang mampu mendongkrak suara. Kubu Prabowo menggunakan Ijtima Ulama. Sedangkan kubu Jokowi, tidak tanggung-tanggung, mengusung KH. Maruf Amin sebagai pendamping Jokowi. Keulamaan KH. Maruf Amin tentu tak diragukan lagi. Di samping beliau sebagai ketua MUI juga sebagai Rois Aam Syuriah PBNU (MediaJakarta.com, 25/09 /2018).

Perang opini pun tak terhindarkan. KH. Maruf Amin mempertanyakan keulamaan peserta Ijtima Ulama. Apakah mereka ulama betulan? punya pondok pesantren di mana? Kiai siapa? Intinya keulamaan peserta Ijtima Ulama diragukannya.

Akhirnya ramai dibicarakan di masyarakat. Siapakah yang bisa disebut ulama atau ulama yang bisa dijadikan panutan. Karena bagi masyarakat, ulama adalah jabatan sakral. Kesakralannya terletak pada kedalaman ilmu serta ketinggian akhlaknya.

Ulama yang sering melakukan riyadloh, puasa, dzikrullah, qiyamul lail serta ibadah-ibadah sunah lainnya mempunyai kedudukan tinggi di masyarakat. Mereka didatangi untuk dimintai doa, karena dianggap doanya mustajab. Bahkan ulama seperti itu dianggap wali Allah. Menjauhkan diri dari kenikmatan dunia, mengutamakan kehidupan akhirat. Masyarakat pun rela diarahkan oleh ulama seperti itu. Apa kata ulama diikuti oleh masyarakat.

Posisi ulama seharusnya ditempatkan sakral seperti itu. Agar kewibawaannya muncul dan daya pikatnya kuat. Akhirnya fatwanya diikuti. Kekuatan ulama justru terletak pada ilmu dan kepribadiannya. Seharusnya mampu membangun narasi yang tepat, dalil yang kuat serta logika yang cemerlang. 

Keadaan di atas tentu dapat melemahkan kepribadian ulama. Bagaimana tidak, jika mereka dihadirkan dalam sebuah acara campur baur antara laki-laki dan perempuan dan berbagai aktivitas lainnya yang jauh dari syar’i. Karena dalam posisi seperti itu, seseorang lambat laun bisa saja terikut arus diri dengan urf  yang ada. 

Seharusnya ulama yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya adalah mereka yang memahami Alquran dan Sunah serta takut kepada Allah. Bukan malah melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah dan tenggelam dalam bobroknya sistem demokrasi. Mencampur adukkan antara hak dan batil dan menghalalkan segala cara demi tahta. 

Dalam perspektif Islam, ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad saw., tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu  yang bersumber dari wahyu. Siapa saja yang menguasai ilmu syar’i serta menghiasi keyakinan dan amal perbuatannya dengan ilmu tersebut layak disebut sebagai ulama pewaris para nabi.

Nabi saw. bersabda, Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu itu, ia mengambil bagian yang banyak (HR Abu Dawud).

Ulama pewaris nabi adalah orang-orang yang mengetahui ajaran Nabi saw., baik yang menyangkut perkara-perkara akidah maupun syariah. Mereka pun berusaha menyifati budi pekerti dan seluruh amal perbuatan beliau dengan ilmu yang bersumber dari Alquran dan Sunah Nabi saw. Mereka takut berpaling atau dipalingkan dari syariah Islam karena makrifatnya yang sempurna kepada Allah SWT dan sifat-sifat-Nya.

Disamping itu, ulama pewaris nabi adalah mereka yang rela menerima celaan, hinaan, intimidasi, pengusiran bahkan pembunuhan demi mempertahankan kemurnian Islam dan membela kepentingan kaum Muslim. Bukanlah mereka yang plintat-plintut dalam berfatwa, menyembunyikan kebenaran, menukar kebenaran dengan kebatilan, serta mengubah pendirian hanya karena iming-iming dunia atau mendapat ancaman. Mereka rela dipenjara dan disiksa demi mempertahankan kebenaran dan menentang kebatilan.

Seorang ulama ketika betul-betul ingin memperbaiki kondisi umat dari berbagai macam problem, maka tidak ada jalan lain kecuali mengambil Islam sebagai solusinya. Yaitu bagaimana agar aturan Islam yang bersumber dari sang pencipta bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Bukannya malah mengambil sistem yang bersumber dari selain-Nya.

Sistem demokrasi telah jelas kecacatannya. Sekian banyak problem yang tak kunjung terselesaikan. Bukannya mengurangi masalah tapi justru menambah banyak masalah. Termasuk dapat memudarkan marwah ulama. 

Dengan demikian, ikutnya ulama dalam panggung politik saat ini sesungguhnya dapat menggerus muruah ulama. Olehnya itu, hanya sistem Islamlah yang dapat menempatkan ulama  sebagai sosok mulia. Sebagai pewaris Nabi yang berperan menjaga umat dari kemungkaran. Sosok yang ada di baris terdepan dalam aktivitas dakwah dan amar makruf nahi munkar. Wallahu a'lam bisshawab.


Penulis Muslimah Media Konawe
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.