Perempuan Materialis Dalam Jerat Ekonomi Kapitalis

Hot News

Hotline

Perempuan Materialis Dalam Jerat Ekonomi Kapitalis



Oleh : Silvi Ummu Azyan 


Keberadaan sebuah negara berkembang, tidak bisa dilepaskan dari eksistensi IMF.Termasuk salah satunya adalah Indonesia. Isu global yang diangkat kali ini adalah Empowering Women. Tentunya sebuah keharusan, bagi negara yang sangat bergantung terhadap organisasi dunia ini untuk menyambutnya.

Rangkaian acara pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank sudah dimulai. Salah satu acaranya adalah seminar bertajuk Empowering Women in the Workplace. Dalam acara tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan perempuan sangat berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Karena itu peran perempuan dalam sebuah pekerjaan harus ditingkatkan.

"Yang pertama harus dipahami dari sebuah negara itu harus ditingkatkan partisipasi tenaga kerja perempuan, baik untuk perekonomian, untuk perempuan dan untuk keluarganya," kata Sri Mulyani dalam seminar Empowering Women in the Workplace, di Hotel Westin, Bali. ( Detikfinance,9/10/18)

Senada juga dengan Sri Mulyani, Putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid mengatakan bahwa kelompok perempuan pada dasarnya memiliki peran yang besar dalam rangka pengentasan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Hal itu disampaikan dalam Forum Tahunan IMF-World Bank tahun 2018 yang digelar di Nusa Dua Bali. Direktur Wahid Foundation ini mengatakan bahwa perempuan dapat dilibatkan secara penuh dalam aktivitas ( NU Online 10/10/18).

Pada pertemuan itu juga anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Evita Nursanty menjadi pembicara pada sesi bertema “Partisipasi Perempuan dalam Pertumbuhan Ekonomi”. Disebutkan, berdasarkan data Organisasi Buruh Internasional (ILO), sebanyak 865 juta perempuan memiliki potensi untuk memaksimalkan kontribusi mereka dalam pembangunan ekonomi ( Solussinews 09/10/18).

Kedok Hegemoni Kapitalisme.
Perempuan senantiasa menjadi sorotan dunia. Segala sesuatu tentang perempuan selalu menarik untuk diperbincangkan. Salah satunya adalah tentang pemberdayaan ekonomi perempuan. Perempuan digiring menjadi pemutar roda kapitalisme. Layaknya budak ekonomi sebagai obyek untuk menghasilkan kekayaan.  Alhasil jumlah tenaga kerja perempuan di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahun hingga 50% lebih,  dibandingkan jumlah pekerja laki-laki ( Independen.id 05/07/2018). 

Dalam hal ini kapitalisme juga telah memanfaatkan istilah pemberdayaan perempuan untuk mengeksploitasi perempuan melalui pekerjaan. Hal tersebut bisa dibuktikan melalui beberapa fakta tentang kondisi para buruh  dalam negeri dan buruh migran tanpa jaminan yang berarti. Tidak hanya itu, perempuan juga menjadi target pasar kapitalis yang menggiurkan. Berdasarkan riset tahunan The Asian Parent Indonesian Digital Mums Survey 2018, Ibu di Indonesia merupakan penentu keperluan rumah tangga. 

Demikianlah bak gayung bersambut, menjadi pemutar roda kapitalisme sekaligus pangsa pasar yang empuk. Maka tak heran lagi, suburnya komunitas sosialita hingga di luar logika. Berbagai assesoris wanita nilai ratusan juta pun laris manis di negeri ini. Kehidupan glamour menghiasi sebagian kehidupan keluarga Indonesia di tengah carut marutnya ekonomi.

Pemberdayaan perempuan telah menjauhkan perempuan dari peran utamanya. Kesibukannya bekerja telah mengikis fungsi utamanya sebagai ibu, isteri dan aktivitas politik perempuan. Tingginya kasus perceraian, KDRT dan rusaknya generasi adalah bukti nyata gagalnya perempuan dalam menjalankan perannya. Tawuran, narkoba, kejahatan anak, kecanduan games on line, seks bebas yang menimpa generasi kian tak terbendung. Ibu sebagai pendidik dalam keluarga telah hilang dalam gegap gempita kapitalis.

Kapitalisme ibarat racun pemikiran yang membawa kepada Kefatalan berpikir. Hal ini telah membawa opini global tentang perempuan. Bahwa pemberdayaan perempuan adalah dengan bekerja. Perempuan bisa dinilai maju, terhormat jika  menghasilkan materi. Sebaliknya, bila perempuan tergantung kepada suami secara finansial maka dianggap tidak berharga dan terhormat. 

Jadi jelas bahwasanya, 'Pemberdayaan Ekonomi Perempuan' hanyalah kedok barat dalam melancarkan hegemoni kapitalisme. Tak ada sedikitpun sumbangsih dalam peningkatan ekonomi negeri. Yang ada justru munculnya dampak buruk. Termasuk salah satunya perempuan menjadi korban kepentingan barat. Naudzubillah.

Islam Memuliakan Perempuan

Islam memuliakan perempuan dan menempatkannya  sesuai kodrat penciptaannya. Perempuan adalah ibu generasi. Di pundaknya terletak tanggung jawab yang besar untuk melahirkan dan mendidik generasi berkualitas tinggi sebagai aset bangsa. Agar peran tersebut berjalan dengan baik, Islam menetapkan sejumlah aturan yang mengatur pola relasi antara laki-laki dan perempuan agar terwujud keselarasan dan keharmonisan dalam rumah tangga.

Aturan-aturan tersebut meliputi hukum tentang pernikahan, hak dan kewajiban suami isteri, kehamilan, kelahiran, penyusuan, jaminan nafkah, pendidikan anak, dan lainnya. Islam menjaga peran keibuan (motherhood) dan perwalian kaum laki-laki. Selain itu, Islam juga menjamin hak-hak ekonomi perempuan. Termasuk bagaimana perempuan harus dijamin kebutuhan finansialnya setiap saat. 

Islam mengijinkan  perempuan  bekerja dengan syarat  bukan dalam kondisi penghinaan dan penindasan. Melainkan dalam kondisi lingkungan yang terjamin keamanannya dan bermartabat. Perempuan yang bekerja berdasarkan pilihannya tanpa keterpaksaan dan mendapatkan haknya sebagai pekerja secara jelas. Mendapat upah yang adil dalam jaminan lingkungan yang aman dan tidak ikhtilat. Interaksi mereka dengan laki-laki dipenuhi dengan kehormatan dan perlindungan.  Setiap perkataan dan tindakan yang merepresentasikan bentuk pelecehan atau eksploitasi akan segera ditangani.

Selain itu juga, perempuan sebagai bagian dari masyarakat, maka peran perempuan pun tidak bisa diabaikan begitu saja. Sungguh Islam telah memberikan ruang yang leluasa untuk berkiprah sebagai bagian dari anggota masyarakat, seperti kebolehanya  terlibat dalam beberapa mu’amalah, melakukan aktivitas dakwah/amar ma’ruf nahi munkar serta memperhatikan urusan umat ( politik) yang hukumnya memang wajib, dan lain-lain. Kewajiban ini tersirat dalam firman Allah SWT:
Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (laki-laki/perempuan) yang menyeru kepada al-khoir (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali-Imran[3]:104)

Namun semua itu dapat diwujudkan dengan diterapkannya Islam secara kaffah. Dengan adanya dukungan sistem ini maka peran mulia perempuan dapat diwujudkan. Maka dari itu, jelaslah bahwa penerapan Islam adalah kebutuhan seluruh umat manusia. Penerapannya adalah kewajiban bagi seorang muslim.  Keberadaanya  merupakan janji dari Allah SWT. Wallahualam bishahwab.


Penulis adalah Member WCWH dan Muslimah Peduli Negri 
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.