Sanggupkah Kapitalisme Mengasuh "Generasi Z"?

Hot News

Hotline

Sanggupkah Kapitalisme Mengasuh "Generasi Z"?


(Sumber ilustrasi: mix.co.id) 


Oleh : Sri Purweni (Praktisi Pendidikan danPemerhati Masalah Remaja)

Menjadi orang tua di era milenium tentu saja tak mudah, apalagi jika gagap teknologi dan buta informasi alamat celakalah diri. Jika mengamati polah remaja kini sungguh memprihatinkan, betapa mirisnya melihat  satu sekolah terdapat 12 siswinya hamil, seperti yang ditemukan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Lampung. (Tribun Lampung 2/10/18).

Belum lagi jika memperhatikan tren yang mengkhawatirkan di kalangan remaja. Jika sebelumnya banyak video porno yang bocor hingga ditonton anak-anak, sekarang trennya beda. Anak-anak tidak lagi menonton tapi melakukannya bersama teman-temannya (Pikiran rakyat, 3/10/18). Astagfirullah.

Dan lebih mencengangkan adalah aktivitas menyimpang dimana warga Kabupaten Garut beberapa hari ini dibuat heboh dengan terungkapnya keberadaan grup Facebook gay siswa SMP/SMA di Garut. Screenshot laman grup FB tersebut menyebar di berbagai grup aplikasi pesan WhatsApp beberapa hari ini.(Kompas,6/10/18).

Tak disangsikan lagi fakta di atas menguak betapa orang tua saat ini mempunyai saingan terberat dalam mengasuh remaja yang akrab dengan gawai (baca : generasi Z). Dengan gawai mereka dapat mengakses dunia. Karena itu informasi baik positif maupun negatif tak terbendung hingga gawai sendiri bak mata pisau yang siap mengancam mereka.

Derasnya informasi di era milenium tak mungkin dibendung, apalagi dibawah "asuhan" kapitalisme yang hanya mementingkan cara mengeruk keuntungan yang semaksimal mungkin. Lantas gawaikah yang pantas dikambinghitamkan atas permasalahan remaja yang liar hingga asusila? Kemana negara yang seharusnya dapat menjadi pengayom bagi rakyatnya?  Akankah pengasuhan menjadi masalah bagi masing-masing kita sebagai orang tua?

Mungkin sebagai orang tua kita harus memahami bahwa anak perlu apresiasi hingga anak tak kehilangan jati diri atau kurang kasih sayang. Hingga anak tak mencari pelarian untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan jalan interaksi antara laki-laki dan perempuan hingga berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan.  Naudzubillah!

Seorang pemuda hendaknya memiliki konsistensi yang tinggi dalam memegang teguh prinsip-prinsip yang telah diyakini sesuai dengan ajaran agamanya.  Pemuda muslim bukanlah seseorang yang mudah tergiur oleh keindahan dunia semata yang hanya melunturkan aqidah dan keyakinan terhadap ajaran agama Islam.

Negeri ini memerlukan sosok pemuda kritis yang dapat memikirkan problematika umat hingga membawa kebaikan. Karena rakyat terlalu lelah untuk memikul beban hidup yang semakin sulit dan menghimpit. "Sesungguhnya pada tangan-tangan pemudalah urusan umat dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat",  demikian kata pujangga Mesir Syekh Mustofa al-Ghalayaini.

Bagaimana kita dapat mengharapkan generasi yang dapat mengurusi umat,  menghiasi negeri kita jika yang disuguhkan adalah para idola yang tidak mendidik. Dimana fungsi negara yang seharusnya dapat membendung konten-konten yang tak pantas untuk dipertontonkan. Terutama perilaku yang menyimpang seperti LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender) yang akan mengundang azab Allah.

Kapitalisme yang sekarang diadopsi di negeri ini tak mengerti mengasuh gejolak generasi Z hingga hanya membuahkan masalah. Hanya dengan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, yang akan menginspirasi dan menuntun generasi emas yang unggul. Generasi yang dengan karyanya akan memberi sumbangsihnya untuk kebaikan umat. Maka tiada pilihan selain taat pada aturan sang Pencipta. Wallahu 'alam bishshowab.


Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.