Tambang Pasir dan Daya Rusak Air

Hot News

Hotline

Tambang Pasir dan Daya Rusak Air





Oleh : Hasni Tagili, M. Pd

Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Konawe melakukan peninjauan terhadap tambang pasir bermasalah yang tersebar di Kecamatan Konawe beberapa hari lalu (Sultrakini.com, 18/09/2018).


Lokasi kunjungan di Kecamatan Konawe, tersebar di tiga titik. Masing-masing titik ada di Desa Asoniwowo, Sanggona dan Uete. Keberadaan ke tiga tambang galian C ini dinilai bermasalah, karena berdampak buruk terhadap warga sekitar. Khususnya ancaman banjir dari sungai Konaweha yang ditimbulkan jika musim penghujan tiba.


Ketua Komisi II DPRD Konawe, Beni Setiadi, menuturkan pihaknya baru sebatas melakukan peninjauan lokasi tambang dan menyerap aspirasi baik dari warga maupun pemerintah setempat. Setelah itu, pihaknya akan langsung melakukan konsultasi ke Balai Wilayah Sungai IV terkait status keberadaan tambang yang beroperasi di area bantaran sungai Konaweha.


Lebih lanjut, Beni menuturkan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup terkait UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup), karena tambang ini ternyata tidak ada Amdal-nya (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).


Untuk sementara, akan direkomendasikan agar pengelola tambang pasir tersebut berhenti beroperasi. Jika nanti tambang itu terbukti tidak punya izin, maka selanjutnya akan ditutup. Sebab, keberadaan tambang ini memang dikhawatirkan menimbulkan daya rusak terhadap air.


Daya Rusak Lingkungan


Deanna Kemp dalam Just Relations and Company-Community Conflict in Mining (2010), menyebut sumber konflik di sektor pertambangan berakar pada relasi yang tidak setara antara warga dan korporasi (pengusaha). Hubungan yang tidak setara itu berakibat pada pembagian keuntungan yang tidak adil. 


Dalam kajian Deanna Kemp, eskalasi konflik dipicu oleh kepentingan ekonomi atau ketahanan sumber-sumber penghidupan, akses dan kepemilikan terhadap tanah dan air serta dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas industri ekstraktif. 


Selain itu, konflik dapat bersumber pada masalah gender, pelemahan terhadap kohesi sosial dan keyakinan budaya, kekerasan atau pelecehan hak-hak dasar warga (HAM) dan ketidak-adilan dalam distribusi keuntungan. Dengan kata lain, konflik terjadi karena perusahaan tambang mengabaikan persoalan-persoalan lingkungan yang terkait erat dengan dimensi kemanusiaan.


Senada, para pakar yang lain pun tetap konsisten pada temuan mereka bahwa kelalaian dan kurangnya koordinasi oleh pihak manajemen perusahaan telah menjadi penyebab terjadinya konflik antara korporasi dan warga komunitas setempat dalam hal konflik pertambangan. 


Dampak negatif yang menimbulkan eskalasi konflik yang lebih besar ketika penambangan terjadi di atas tanah komunal atau adat (hak ulayat masyarakat adat), dimana terjadi benturan paradigma, persepsi, pemaknaan nilai-nilai kearifan lokal antara korporasi dan masyarakat adat setempat berkaitan dengan tanah dan segenap pranata budayanya. Dalam banyak kasus, korporasi hanya melihat tanah dan segenap kekayaannya dalam perspektif ekonomi-bisnis (nilai komoditi). 


Sementara itu, bagi sejumlah masyarakat adat nusantara, memandang tanah dalam perspektif kultural sebagai ibu yang memberi makan kepada mereka. Ibu tanah ini harus dirawat dan dipelihara, bukannya dijual untuk dihancurkan.


Pengelolaan Tambang Ramah Lingkungan


Sudah banyak diketahui, bahwa pertambangan pastilah merusak lingkungan. Namun alibi yang dikeluarkan oleh para pengusaha, tambang hanyalah merubah rona lingkungan, tidak merusak lingkungan. Memang beberapa perusahaan menerapkan pertambangan ramah lingkungan. Lantas bagaimana perusahaan yang tidak melakukan kegiatan pertambangan ramah lingkungan menurut perspektif Islam?


Barang tambang diberikan Allah untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Dalam Alquran, hal ini dijelaskan dalam QS. Ar-Ra’d: 17, yang artinya, “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan- perumpamaan.”


Dalam pemanfaatan sumber daya alam pertambangan, hampir semua perusahaan saat ini lebih menitikberatkan pada faktor ekonomi dibanding faktor moral dan etika lingkungan. Upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan hanya pada tataran sains dan teknologi untuk mengurangi dampak lingkungan yang ada. 


Pada hakikatnya dalam mencegah pencemaran dan perusakan lingkungan terhadap pertambangan, harus didasarkan rencana pertambangan yang sistematis yang mempertimbangkan aspek kerusakan lingkungan dari eksplorasi sampai pada reklamasi. 


Agama Islam mempunyai pandangan dan konsep yang sangat jelas terhadap perlindungan dan pengelolaan lingkungan sumber daya alam, karena manusia pada dasarnya khalifah Allah di muka bumi yang diperintahkan tidak hanya untuk mencegah perilaku menyimpang (nahi munkar), tetapi juga untuk melakukan perilaku yang baik (amr ma’ruf).


Pengelolaan sumber daya alam tambang harus tetap menjaga keseimbangan dan kelestariannya. Karena kerusakan sumber daya alam tambang oleh manusia harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. 


Prinsip ini didasarkan pada QS. Ar-Rum: 41 yang menyatakan bahwa “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Wallahu a'lam bisshawab.


Penulis Praktisi Pendidikan Konawe
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.