Uang Panas Di Lembaga Universitas

Hot News

Hotline

Uang Panas Di Lembaga Universitas


Oleh: Fitri Suryani, S.Pd

Aroma korupsi sudah tak asing lagi terdengar dari berbagai lembaga yang ada di negeri tercinta ini. Tak terkecuali lembaga pendidikan sebagai tempat mencetak generasi yang bermartabat. Universitas pun menjadi salah satu lembaga yang terpapar uang panas korupsi.

Seperti yang terjadi di ruangan Rektor Institut Agama Islam Negeri Kendari (IAIN). Kantor tersebut disegel oleh mahasiswa saat menggelar aksi unjuk rasa, pada Kamis (13/9/2018) siang. Tidak hanya menyegel ruang rektor, insiden baku hantam antara mahasiswa dan satpam IAIN juga terjadi di ruang lobi.

Sebagaimana yang disampaikan salah satu mahasiswa IAIN Kendari, Jusbar, menilai adanya sejumlah penyimpangan pada pengelolaan anggaran lembaga kemahasiswaan tahun 2018, karena sampai saat ini hal itu belum juga dicairkan. Penyimpangan pengelolaan anggaran 2017 itu juga terbukti bahwa sampai saat ini belum ada pertanggungjawaban (Sultrakini.com, 13/09/2018).

Aroma Uang Panas Korupsi

Kasus korupsi sesungguhnya bukan merupakan perkara yang baru dan aneh di negeri ini. Hal itu hampir menjamur di berbagai lembaga, baik itu di lembaga kesehatan, pemerintahan bahkan tak ketinggalan di dunia pendidikan yang terdapat orang-orang intelektual sekalipun. 

Masalah tersebut sudah menjadi hal yang lazim, bahkan telah menjadi tradisi turun-temurun yang biasa dilakukan mulai dari kelas teri hingga kakap. Sebagian masyarakat pun seakan cuek dengan disuguhkan pemberitaan seperti itu, karena telah terbiasa.

Di samping itu, korupsi yang kini marak terjadi di hampir semua lembaga, salah satunya disebabkan tingginya biaya yang mesti ditanggung oleh seseorang yang hendak mendapatkan sebuah posisi yang diincar. 

Sehingga, mau tidak mau ketika telah mendapatkan posisi yang dihendaki, otomatis menginginkan paling tidak kembalinya modal yang dikeluarkan saat mencalonkan diri pada jabatan tertentu. Karena salah satu faktor tersebut mendorong seseorang melakukan korupsi. Terlebih ketika ada kesempatan, maka akan berupaya untuk mendapatkannya. 

Ditambah lagi tujuan tertinggi atau tolok ukur kebahagian sebagian masyarakat yakni kepuasan materi belaka. Begitupun standar perilaku hanya pada kemaslahatan yang bersifat relatif dan kondisional. Sehingga tak dapat dipungkiri orang-orang semacam itu akan berusaha sekuat tenaga dengan segala cara agar mendapatkan yang mereka inginkan. Sekalipun itu akan bertolak belakang dengan nilai-nilai agama. 

Sebab, sesungguhnya agama tidak dijadikan sebagai landasan dalam berbuat. Dengan kata lain masyarakat telah tercekoki oleh paham pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme).

Olehnya itu, jika lembaga pendidikan saja sudah menjadi pintu masuk korupsi yang sejatinya tempat mendidik para generasi yang akan datang. Bagaimana dengan lembaga lainnya? Semua itu tidak lain karena didukung oleh aturan yang ada. 

Di samping itu, sanksi yang ada belum mampu memberikan efek jera bagi pelaku. Sehingga, sulit teratasi  kasus-kasus yang serupa di berbagai lembaga negeri ini. 

Islam Memandang

Dalam Islam, tindakan korupsi merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan dan dilarang. Adapun keharaman korupsi dapat dilihat dari berbagai aspek, yaitu: Pertama, perbuatan korupsi merupakan perbuatan curang dan penipuan yang secara langsung merugikan keuangan negara ataupun masyarakat. 

Kedua, berkhianat terhadap amanat adalah perbuatan terlarang dan berdosa (lihat QS. seperti Al-Anfal: 27). Ketiga, perbuatan korupsi untuk memperkaya diri dari harta negara adalah perbuatan lalim (aniaya), karena kekayaan negara adalah harta yang dipungut dari masyarakat.

Adapun korupsi termasuk dalam kelompok tindak pidana takzir. Oleh sebab itu, penentuan hukuman, baik jenis, bentuk, dan jumlahnya didelegasikan syara' kepada hakim. Dalam menentukan hukuman terhadap koruptor, seorang hakim harus mengacu kepada tujuan syara' dalam menetapkan hukuman, kemaslahatan masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan, dan situasi serta kondisi sang koruptor. Sehingga, sang koruptor akan jera melakukan korupsi dan hukuman itu juga bisa sebagai tindakan preventif bagi orang lain.

Dengan demikian, kasus korupsi yang telah mewabah di hampir semua lini sulit terselesaikan jika aturan yang ada tak mampu menyelesaikan sampai ke akarnya. Olehnya itu, tiada aturan yang lebih baik selain kembali pada aturan-Nya dengan diterapkannya dalam seluruh aspek kehidupan. Sehingga Islam rahmatan lil ‘alamin dapat terealisasi.  Wallahu a’lam bisshawab.


Penulis Guru SMA Negeri di Kabupaten Konawe
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.