Anak Lengket dengan Gadget

Hot News

Hotline

Anak Lengket dengan Gadget




Oleh: Vinci Pamungkas, s.pd


Suatu hari aku mengunjungi rumah kerabat. Betapa tertegunnya aku melihat cucu-cucunya yang usia sekolah dasar (SD) berkumpul di ruang keluarga tanpa suara. Mereka tertunduk khusyuk pada gadget masing-masing. Satu dari mereka menonton video, yang lain asyik bermain game online. 

Pada kesempatan yang lain, di tempat wisata air. Saat anak-anak yang lain bermain di air terjun, berenang, naik ban karet, ada seorang anak yang tak basah sama sekali. Dia tidak turun dari saungnya menuju wahana air. Bahkan tidak melihatnya sedikitpun. Matanya fokus menunduk, tangannya memegang erat ipad dan jemarinya menari dengan cekatan di atas layar. Anak itu enggan kalah di game online kesukaannya.

Di era digital saat ini, dimana gadget menjadi barang yang lazim dimiliki setiap orang, maka mudah bagi anak-anak untuk mendapatkannya. Dibelikan khusus oleh orangtua mereka atau sekadar dipinjamkan. Alasan para orangtua memberikan atau berbagi gadget dengan anak-anak mereka yaitu: Pertama, agar anak anteng. Saat orangtua sibuk bekerja, pengajian, memasak, atau berbenah rumah, gadget adalah solusi agar anak bisa duduk manis. Kedua, edukasi. Sebagian orangtua berpendapat, internet banyak menyajikan games edukatif, lagu anak Islami, dan film kartun Islami. Ini dianggap mampu mengasah kecerdasan anak, meningkatkan kemampuan anak dalam berbicara juga bernyanyi.

Ketika anak telah mengenal gadget, ada satu efek kuat yang sulit untuk diubah. Yakni anak lengket dengan gadget bahkan sampai kecanduan. Terdapat video yang viral di masyarakat ketika seorang bayi menangis menjerit-jerit tiba-tiba senyum sumringah saat diberi smartphone. Ada pula video seorang anak yang mengamuk, melolong-lolong, marah kepada orangtuanya karena mereka mematikan jaringan internet ketika dia sedang asyik main game online. 

Bahkan ada yang sampai meninggal dunia karena kecanduan game online mobile legend. Lupa makan, lupa minum, lupa tidur. Hingga akhirnya dia roboh di warung kopi tempatnya bermain game. Kejadian di sekitar kita yang tak terekam kamera pun sama. Anak-anak menangis saat orangtuanya tak meminjamkan smartphonenya. Memohon-mohon untuk tethering saat kuota internet mereka habis. Mereka bilang, tanpa jaringan internet mereka mati gaya.

Kecanduan pada gadget dapat menyebabkan gangguan fisik maupun psikis. Bagian-bagian tubuh yang terkena dampak, yakni: 1) mata. Cahaya yang terlalu terang, radiasi, dan sinar biru dari layar mampu merusak mata anak. Akhirnya anak harus menggunakan kacamata minus atau silinder di usia belia. 2) otak. Kemampuan otak menyusut, membuat anak sulit mengingat hal-hal yang detail dalam kehidupan sehari-hari. Radiasi elektromagnetiknya menyebabkan gangguan pada otak hingga dapat menyebabkan kanker. 3) organ lain. Menyebabkan kekakuan terutama pada leher, pundak, dan tangan karena terus menerus berada pada posisi yang sama. 

Sedangkan secara psikis, menimbulkan dampak sebagai berikut: 1) kurangnya kemampuan bersosialisasi. Anak hanya berinteraksi satu arah dengan gadget, sehingga kesulitan berkomunikasi dua arah dengan orang lain. 2) berlaku agresif. Gadget yang terhubung dengan internet membuat anak menjelajah tontonan yang tak layak. Pembunuhan, kekerasan, pornoaksi, dll. Tontonan ini membentuk sikap agresif pada anak. 

Untuk anak, gadget lebih banyak dampak negatifnya. Dilihat dari sisi fisik maupun psikisnya. Kuncinya ada pada orangtua. Dibutuhkan ketegasan dan kekonsistenan dari orangtua agar anak tak lengket dengan gadget. Tegas melarang anak saat dia mengambil gadget orangtuanya atau milik orang lain. Konsisten dilakukan dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. 

Apakah saat bertamu ke rumah kerabat atau tetangga, saat kedatangan tamu, sedang di kendaraan atau dalam perjalanan jauh, anak sedang rewel, dll. Jika tidak konsisten, maka anak akan mengingat dalam keadaan seperti apa orangtua tidak konsisten. Anak akan merengek meminta gadget saat keadaan tersebut. Misal: saat ada tamu, orangtua membiarkan anak bermain gadget agar tidak rewel dan leluasa mengobrol. Maka setiap ada tamu, anak akan rewel dan meminta gadget. Coach parenting, Abah Ihsan menyebutnya dengan istilah “hukum kekekalan ikhtiar” pada anak.

Sebaiknya diberikan gadget setelah balig. Saat mereka memiliki dasar akidah Islam yang kuat, mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Sehingga mampu mengontrol waktu dan jenis tontonan atau permainan dari gadget. Sehingga gadget menjadi sesuatu yang bermanfaat. Menjadi sarana untuk menambah ilmu, menebar ilmu, dan menambah pahala.

Wallahu‘alam bishshawaab


Penulis adalah Anggota Komunitas Revowriter
Editor Lulu



 

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.