Balada Guru Honorer dalam Sistem Kapitalisme

Hot News

Hotline

Balada Guru Honorer dalam Sistem Kapitalisme



Oleh : Dewi sartika 
(Komunitas Peduli Umat)


Di tengah hiruk-pikuknya permasalahan yang melanda, negeri ini membutuhkan penanganan secepatnya oleh pemerintah. Selasa (30/10/2018), ratusan guru honorer melakukan aksi unjuk rasa dan tidur di depan Istana Merdeka guna menagih janji pemerintah yang tidak kunjung ditepati. 
Mereka menuntut agar diangkat menjadi PNS. Ketua Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I), Titi Purwaningsih mengatakan bahwa dalam unjuk rasa tersebut para guru honorer menginap di depan Istana selama 1 malam untuk menunggu jawaban dari Presiden. Namun, tidak ada konfirmasi lebih lanjut terkait hal tersebut, dikarenakan pihak istana negara memiliki kegiatan dan jadwal yang padat di hari tersebut, Kompas.com. Kamis (1.11.18).

Setelah bermalam di depan Istana negara dan melanjutkan aksi unjuk rasa tersebut di keesokan paginya, pada akhirnya, mereka diterima oleh Perwakilan Deputi (1V Kantor Staf Kepresidenan (KSP), pada Rabu sore. Namun, menurut Titi, pihak KSP tidak menjanjikan apapun terkait nasib para guru honorer. Permintaan bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo atau Menteri yang terkait juga ditolak oleh pihak KSP. Akhirnya, pada Rabu sore itu para guru honorer terpaksa membubarkan aksi tanpa membawa hasil apapun. Padahal, demonstran tersebut hanya ingin menagih janji pemerintah yang pernah disampaikan di acara asosiasi pemerintah daerah Juli lalu.

Sikap cuek yang ditunjukkan oleh pemerintah merupakan salah satu bentuk pengabaian terhadap guru honorer yang telah berjasa dalam mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Sementara itu, Senator asal provinsi Nusa Tenggara Timur, Ibrahim Agustinus Medah menjelaskan bahwa permasalahan tenaga honorer harus segera diselesaikan, karena melibatkan nasib orang banyak. Sumber permasalahan tenaga honorer tersebut adalah tidak adanya payung hukum yang mendasari pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS. Selain itu, Ibrahim prihatin atas nasib tenaga honorer daerah. Banyak tenaga honorer yang memiliki penghasilan yang kecil, bahkan tidak cukup untuk kegiatan operasional dalam melaksanakan tugas sebagai abdi negara.


Perihal gaji, guru di Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima gaji sejumlah Rp100.000 hingga Rp150.000. Padahal, untuk membayar ojek saja sekitar 1 juta rupiah dalam satu bulannya, ojek merupakan salah satu transportasi bagi  para guru yang lokasi tempat tinggalnya jauh dari sekolah. Dengan kondisi seperti itu, apa yang membuat mereka bertahan sebagai tenaga honorer? Karena mereka merasa memiliki tanggung jawab dan semangat dalam mendidik serta mencerdaskan generasi bangsa.

Meskipun tahun ini pemerintah mengadakan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), namun salah satu persyaratannya yaitu memiliki batas usia maksimal 35 tahun. Wakil Ketua DPD RI, Darmayanti Lubis dakam keterangan tertulis mengatakan bahwa Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) memberikan batasan usia bagi peserta seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Salah satu persyaratan tersebut menyebabkan guru honorer yang berusia di atas 35 tahun yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun tidak bisa mengikuti seleksi CPNS.

Jika pemerintah dengan mudahnya mengangkat para atlet yang telah mendapatkan medali emas pada Asian Games yang diselenggarakan beberapa bulan lalu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), mengapa pahlawan tanpa tanda jasa ini justru dipersulit untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS)?
Inilah potret kegagalan dan ketidakadilan sistem saat ini yang belum bisa menjamin kehidupan dan kesejahteraan seluruh rakyatnya, termaksud bagi para guru honorer. Nasib mereka tidak sebanding dengan julukannya, yaitu pahlawan tanpa tanda jasa. 

Guru dalam Pandangan Islam.
Guru adalah orang yang berilmu dan orang yang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Jadi, dengan memiliki ilmu saja sudah memiliki kedudukan yang tinggi, apalagi yang dilakukan oleh guru, yakni mengamalkannya. Itu akan lebih meninggikan kembali posisinya. 
Dalam Islam, Allah berfirman. "Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al Mujadillah:11).

Guru identik dengan ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa, karena pada kenyataannya gurulah ujung tombak dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Islam telah menempatkan guru pada posisi yang mulia dan memiliki banyak keutamaan  
"Sesungguhnya, Allah, para malaikat, dan semua mahluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di luangnya, dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada Mualim (orang-orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Tirmidzi).

Seorang guru bukan hanya bertugas untuk mengajar saja, tetapi juga mendidik anak didiknya. Bukan hanya itu saja, negara pun seharusnya menyediakan sarana dan prasarana yang berkualitas di semua sekolah guna menunjang keberhasilan para guru dalam proses mencetak generasi unggul.


Gaji Guru dalam Islam.
Sebagai mana kisah khalifah Umar Bin Khattab, Ia merupakan salah satu khalifah atau pemimpin yang memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan. Pada masanya, Ia sangat antusias dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi generasi muslim. Termasuk mengenai gaji seorang guru. Norman Holis, peneliti Pulitbang lED Cree keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI menyatakan bahwa salah satu langkah yang diambil Khalifah Umar adalah menetapkan gaji bagi setiap pengajar sebanyak 15 dinar setiap bulannya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kholis dalam laman Wakala Induk Nusantara.

Dinar merupakan mata uang yang terbuat dari bahan logam mulia emas, satu dinar setara dengan 4,25 gram emas, gaji pengajar atau guru sebanyak 15 dinar itu merupakan angka yang luar biasa. Karena, 1 dinar setara dengan Rp2.258.000, artinya pada masa Khalifah Umar gaji guru mencapai Rp3.870.000 per bulan. Sebagai perbandingan, saat ini gaji guru di negeri kita berada pada kisaran 2 juta rupiah. Bahkan ada guru honorer yang diberi gaji Rp300.000 hingga Rp500.000. Jika dinyatakan dalam jumlah, gaji guru sekarang hanya berkisar 1 dinar saja. Hal tersebut sama saja dengan bahwa gaji guru sekarang hanya 1/15 dari gaji guru pada masa khalifah Umar.

Dengan demikian, hanya sistem Islam yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang melanda negeri ini termasuk kesejahteraan para guru. Sehingga, wajib bagi mereka (para guru) terlibat dalam perjuangan mewujudkan sistem Islam, agar diterapkan dalam sendi-sendi kehidupan, mengingat posisi strategis mereka yang berada pada ranah pendidikan. Wallahu A'lam.



Editor : Rika .Y.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.