BPJS Mencekik Rakyat Menjerit

Hot News

Hotline

BPJS Mencekik Rakyat Menjerit




Oleh : Desi Wulan Sari*

Persoalan BPJS masih terus bergulir. Pro dan kontra atas kewajiban setiap warga untuk memiliki kartu BPJS masih tetap hangat diperbincangkan.
Masyarakat diwajibkan menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS). Pasalnya jika tidak menjadi peserta BPJS Kesehatan, maka masyarakat tidak bisa mendapatkan sejumlah pelayanan publik dari pemerintah. Seperti misalnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Surat Izin Mengemudi (SIM), sertifikat tanah, paspor, dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Warga yang tak mendaftar sebagai peserta BPJS juga terancam sanksi.
Ketentuan ini berlaku terhadap perseorangan pada 2019 nanti. Sesuai UU Nomor 24, Peraturan Presiden Nomor 111 tahun 2013, dan Peraturan Pemerintah Nomor 86 tahun 2013 (BangkaPos.com - 12/05/2018).

Siapa yang tidak ingin kesehatannya terjamin, tentu semua masyarakat menginginkan jaminan kesehatan bagi seluruh keluarganya. Namun apalah artinya, jika kesehatan itu harus dibayar mahal khususnya bagi masyarakat yang tidak mampu untuk membayarnya.
Bahkan yang lebih mengerikannya lagi, masyarakat dari berbagai kalangan sosial diwajibkan ikut dan masuk dalam kepersertaan BPJS. Bayangkan jika orang orang miskin yang hidupnya hanya bergantung pada hasil hariannya, sekadar memenuhi kehidupan sehari-hari seperti makan dan minum saja. Dari mana mereka mendapatkan uang lagi untuk membayar iuran lainnya, termasuk BPJS ini.

Mengapa harus dipaksakan? Bukankah seharusnya jaminan kesejahteraan rakyat adalah tugas negara? Baik itu pendidikan, fasilitas umum, bahkan kesehatan. Kalau kita bercermin pada masa Islam diterapkan secara kaffah, maka fasilitas itu semua disediakan oleh negara untuk rakyatnya.
Terutama pada masa kepemimpinan para khalifah dari Bani Umayyah dan Bani Abasiyyah. Di mana kesehatan dijamin oleh negara, yang dijalankan oleh khalifah sebagai penguasa negara saat itu. Perhatian di bidang kesehatan ini tidak hanya sebatas pada kota-kota besar, bahkan di seluruh wilayah Islam, hingga sampai ke pelosok.
Seperti RS adh-Dhudi di Baghdad. RS ini dibangun oleh Daulah bin Buwaihi pada tahun 371 H. Pada tahun 449 H., Khalifah al-Qaim Biamrillah memperbaruinya. Selain menambah jumlah dokter dan tenaga medis lainnya, fasilitas juga diperbagus. Perahu-perahu berlayar mengangkut para pasien yang lemah dan miskin. Para dokter melayani mereka secara bergiliran pagi dan petang, juga malam hari.

Ada juga RS an-Nuri yang didirikan oleh Malik Adil Nuruddin asy-Syahid pada 549 H. (1154 M). RS ini termasuk yang terbaik di seluruh negeri dan khusus diperuntukan bagi pasien yang kurang mampu (kalangan miskin). Di RS ini para dokter dan tenaga medis lainnya sangat baik dan memperhatikan pasiennya.

Satu lagi, Rumah Sakit Marrakesh yang didirikan oleh Amirul Mukminin Manshur Abu Yusuf. Di rumah sakit ini, jika si pasien sembuh, sedangkan ia miskin, maka ia diberi uang untuk biaya hidupnya selama belum kerja. Jika pasien itu dari kalangan kaya, maka uangnya dikembalikan kepadanya (gratis). Setiap hari Jumat, Amirul Mukminin mengunjunginya, menjenguk para pasien dan menanyakan keadaan mereka serta menanyakan perlakuan dokter dan perawat terhadap mereka. 

Sungguh luar biasa penguasa (khalifah) kala itu. Negara mengakomodasi dan memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi rakyatnya, tanpa dipungut biaya sepeserpun. Karena kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab negara yang harus diberikan kepada masyarakat dari kalangan soaial manapun. 

Namun sistem yang kita jalani sekarang adalah sistem yang sangat tidak berorientasi pada kemaslahatan umat. Sistem kepemimpinan sekuler dan kapitalis yang hanya mementingkan sekelompok orang-orang saja. Padahal seorang penguasa selayaknya memiliki kepemimpinan yang membuat hati rakyat merasa tentram dan damai. Bukan sebaliknya, malah membuat rakyat semakin tercekik. Aturan-aturan yang ditetapkan membuat rakyat semakin menjerit.

Hanya kepemimpinan Islam yang mampu memberi pelayanan terbaik untuk rakyat melalui penerapan aturan-aturan Islam sesuai syariat-Nya. Wallahu a'lam bishawab.



*penulis adalah lulusan S2 Sosiologi FISIP Universitas Indonesia. Seorang ibu rumah tangga yang juga sedang menjalankan usaha. Berdomisili di Bogor Jawa Barat. 
Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.