Buah Pemikiran Islam: Kebangkitan Hakiki Muslimah Sejati

Hot News

Hotline

Buah Pemikiran Islam: Kebangkitan Hakiki Muslimah Sejati




  Oleh: Radenti Purwasih, S.Pd. I


'Bagaikan mutiara yg mahal harganya, Islam menempatkan wanita sebagai makhluk mulia yang harus dijaga'. Ungkapan ini begitu indah terdengar di telinga para muslimah. Siapa yang tak ingin dijaga dengan penjagaan agama yang merupakan Titah Tuhan-nya. Penjagaan terhadap  wanita tentu bukanlah suatu kungkungan. 

Bukan pula akhirnya menjadikan wanita terbelakang. Membatasi kreativitas dan aktivitas. Tak ada sedikitpun maksud memandang rendah, apalagi menghinakan. Saat ini, sistem kapitalisme hadir bak angin segar kepada kaum perempuan. Mereka memberikan ruang untuk bisa berkonstribusi aktif di setiap instansi dan perusahaan.

Tentu sebagai tenaga kerja. Dengan alasan pekerjaan perempuan itu cenderung lebih rapi, lebih teliti, lebih ulet dan disiplin dibanding laki-laki. Tak terkecuali mereka bisa dibayar dengan gaji yang tidak terlalu tinggi. Itulah bentuk eksploitasi.

Memiliki seorang Menteri Keuangan yang juga perempuan, tentu tak heran kita dengar statement ampuh yang dilontarkan Sri Mulyani dalam sebuah seminar dari rangkaian acara tahunan Internasional Monetary Fund (IMF) dan Worlds Bank dengan tajuk Empowering Women in the Workplace. Perempuan harus berdaya secara ekonomi, tidak hanya untuk dirinya, keluarganya bahkan untuk perekonomian negara. (m.detik.com, 9/10/2018) 

Sekilas pernyataan di atas adalah solusi bagi kaum perempuan. Siapa yang tak ingin mandiri? Bukankah ada kepuasan tersendiri saat penghasilan suami tak mencukupi, namun dompet bisa terisi dari hasil keringat sendiri? Apalagi saat negara mengharuskan perempuan berpartisipasi dalam membangun perekonomian negeri?

Tentu banyak kaum perempuan yang bersorak-sorai atas statement tersebut, seolah angin segar mendapat pengakuan dan penghargaan dari negara. Menjadi objek bahasan penting di acara berskala internasional. Akhirnya, pilihannya untuk bekerja ada yang membenarkan. Tak dipungkiri, banyak perempuan lain menginginkan juga hal yang sama.

Mencoba menyelami contoh aktivitas berpikir ala kapitalis yang terkesan pragmatis. Dalam kitab at-Tafkir, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, pada bab Contoh Aktivitas Berpikir dengan Sub-bab Berpikir tentang Hidup, mengumpamakan adanya dua orang yang saling menguber sepotong roti.  Aku yang memakannya atau kamu yang memakannya. 

Perseteruan itu terus terjadi sampai salah satu dari kita memperoleh roti itu dan menghalangi yang lain untuk mendapatkannya. Atau salah seorang dari kita diberi  sekadar apa yang dapat mempertahankan hidup, untuk menyelamatkan sisa roti bagi pihak yang lain dan agar ia dapat menambah jumlahnya. 

Pandangan tentang hidup ini memperlihatkan bagaimana kehidupan dunia telah dijadikan tempat penderitaan dan kenestapaan. Pemikiran inilah yang melahirkan ide penjajahan dan eksploitasi. Adanya individu-individu yang diberi hidangan dari penampan emas oleh para pelayan (baca: budak), pada saat yang sama individu lain, walaupun keluarga dan kerabatnya sendiri dilarang menikmati sisa makanan.

Apakah kita masih mengingkarinya? Ketika Indonesia ini dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya, namun tidak mampu memberikan lapangan pekerjaan dengan gaji yang layak bagi kaum bapak. Wajar ketika beliau, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani melanjutkan pembahasan tentang materi ini bahwa proses berpikir tentang hidup menurut kapitalis ini bukanlah proses berpikir yang bertanggungjawab. 

Tak ada rasa tanggung jawab dari Amerika yang kaya membantu negara lain dengan cuma-cuma. Negara Perancis yang memimpikan keagungan dan kemuliaan, menutup mata terhadap negeri-negeri lain di luar Eropa yang mengalami penindasan dan penghisapan darah. Inilah yang dimaksud tak adanya tanggung jawab terhadap orang lain secara hakikat.

Begitupun ketika kaum perempuan diharuskan berpartisipasi di ranah ke-mubahan-nya (baca: boleh). Tentu akan ada hal lain yang dilalaikan, dimana posisi kita adalah seorang ibu. Anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang utuh, namun hanya bisa bertemu dengan sang ibu saat mata sudah terlelap. 

Atau  mereka yang memiliki anak-anak usia remaja, bahkan dipaksa dewasa lewat tontonan televisi dan dunia maya. Kepada siapa mereka akan bercerita, mencari tempat paling nyaman berbagi keluh dan lara.

Namun, Islam memandang proses berpikir tentang hidup adalah sebuah tanggung jawab. Ia tidak hanya memikirkan tentang dirinya, keluarga dan kerabatnya. Memikirkan umat satu golongan, bahkan golongan manusia lainnya. Bukankah hadirnya para penyeru (baca: pengemban dakwah), baik secara lisan maupun tulisan adalah bentuk kepedulian dan ingin mengajak kepada kebaikan bersama? 

Kalaulah kita bersembunyi di balik kata "tuntutan ekonomi", masih sempatkan kita mengikuti ta'lim di majlis-majlis. Bertukar pendapat dengan ibu-ibu lain dengan segala permasalahan hingga mendatangkan solusi. Atau sekedar mengikuti fakta tak hanya negeri ini darurat narkoba lagi bahkan sudah darurat  seks dan LGBT. 

Paling sedikit kita akan temui anak-anak kita sebagai anak yang patuh dan taat hanya pada saat keinginannya sudah terpenuhi. Karena kita lupa ada hal-hal lain yang tidak melulu bisa dipandang secara materi. Ini adalah sebuah tanggung jawab. Pilihan bekerja yang dipilih perempuan, bukan hanya untuk sekedar hidup. 

Tetapi harus sampai membangkitkan anak-anak manusia yang lahir darinya. Menjadi ibu pencetak generasi, pengisi peradaban Islam. Dan sebaik-baik larangan terhadap generasi  adalah larangan meninggalkan generasi dalam keadaan lemah. Seperti halnya firman Allah Swt: 

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" (TQS. An-Nisa: 9).

Kata lemah dalam ayat di atas tak melulu perihal ekonomi atau anjuran membekali anak dengan harta semata. Namun, menurut sayyidina Ali bin Abi Thalib ra., Kata takwa dalam kalimat lanjutannya adalah: "Takut dari (murka) Allah, mengamalkan Alquran, rela dengan (rezeki) yang sedikit, syukur atas nikmat yang banyak dan mempersiapkan bekal untuk hari perjalanan (menuju akhirat)".

Bukan tak boleh perempuan bekerja, tetapi berdosa saat ia tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu secara utuh dan mengurusi rumah tangga. Tak hanya menuntut nilai tinggi di sekolah, namun nihil dalam menanamkan nilai-nilai ke-Ilahi-an. 

Tidak cukup untuk meraih kebahagiaan sekedar saja. Tetapi untuk mendapatkan ketentraman yang hakiki, ketenangan hati yang tak bisa dibohongi, perlu sekali lagi ditanya pada hati. Tak inginkah kita menikmati hari-hari dengan sang buah hati, untuk bisa memastikan anak-anak kita siap menghadapi zaman yang sudah mulai tak menentu ini.

Sebagai penutup. Nyatanya Islam telah mengatur ini secara rinci. Menjadi ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengatur urusan rumah tangga). Ada surga yang menanti saat mempelajari hukum-hukum Syara' tanpa henti. Begitu pun dakwah sebagai kewajiban, agar generasi bisa terselamatkan. 

Bukan hanya tentang aturan bagaimana kewajiban suami terhadap istri saja yang diketahui. Namun dalam hal ini, ada peran negara yang seharusnya aktif menyeru kepada kaum wanita, bahwa di tangan ibu-ibu cerdas dengan tsaqofah Islam yang murni akan mampu mencetak generasi sebagai penerus negeri.

Masihkah ingin ikut terjajah dan tereksploitasi tanpa berpikir cerdas? Hingga hilangnya peran hakiki dari seorang ibu muslimah sejati. Sungguh, hanya dengan kembali kepada Islam, dengan menerapkan syariat-Nya secara kaffah (menyeluruh), maka perempuan berdaya sebagai seorang istri, ibu dan pengemban dakwah. Tanpa harus terbebani dengan kewajiban lain yang itu adalah area kerja laki-laki. 
Wallahu a'dho bi ash-showab.



Penulis adalah Aktivis Pergerakan Muslimah
Editor lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.