Membingkai Dakwah dalam Pemilu Damai

Hot News

Hotline

Membingkai Dakwah dalam Pemilu Damai





Oleh: Al Iklas Kurnia Salam


Syahdan, K.H. Hasyim Asy’ari pernah memiliki seorang santri yang nakal bernama Sulam Syamsun. Saking nakalnya, ia memiliki banyak utang. Karena takut ditagih, Sulam Syamsun tidak berani kembali ke pesantren saat liburan telah usai. Untuk menyiasati hal tersebut, akhirnya ia menulis surat kepada beliau. Berikut isi surat tersebut :

Teruntuk K.H.  Hasyim Asy’ari. Saya, ayahanda Sulam mengabarkan bahwa Sulam tidak bisa kembali ke pondok karena ia telah meninggal dunia. Jika ada kesalahan, mohon dimaafkan, jika ada utang mohon untuk diikhlasakan.

Mendapati surat tersebut, K.H. Hasyim Asyari  merasa sangat terkejut dan sedih. Lalu ia mengumpulkan para santrinya untuk berdoa dan solat gaib. Setelah selesai, ia bertanya kepada mereka mengenai dosa dan utang si Sulam. 

Hadirin sekalian, Sulam sudah meninggal. Jika ia memiliki kesalahan, mohon dimaafkan kesalahanya, ya,

 Semua santri menjawab “nggih.” (iya). 

Kemudian, yang agak berat soal utang, kalau ia memiliki utang, tolong diikhlaskan, ya,

Karena K.H. Hasyim Asyari yang berbicara, semua santri menjawab kompak, “nggih” (iya).  

Halal? tanyanya.
“Halal.”  jawab semua santri.

Ketika para santri menjawab halal, Sulam tiba-tiba muncul dari balik pintu pondok sambil teriak, “Matur suwun” (terima kasih) sambil cengar-cengir. 

Melihat kenakalan Sulam, K.H. Hasyim Asyari bukannya marah, ia justru menangis dan merangkul Sulam. 

Alhamdulilah, engkau belum meninggal, Lam. Aku kira engkau meninggal sungguhan. Ya sudah, karena aku telah terlanjur berikrar, sekarang di pesantren ini kamu tidak punya dosa dan tidak punya utang. Adapun bagi yang belum ikhlas dengan utangmu, karena engkau masih hidup dan aku telah berikrar, akulah yang akan menanggungnya. Jadi, bagi yang mau menagih utang Sulam, tagihlah padaku.

Kisah tersebut pernah diceritakan oleh Gus Muwafiq dalam ceramahnya di Pekalongan pada tanggal 7 Januari 2017. Dari kisah tersebut, kita bisa merenungkan tentang keteladanan K.H. Hasyim Asyari dalam mendidik santrinya dan bagaimana ia menyusun metode dakwah yang khasanah. 

K.H. Hasyim Asyari tidak marah ketika ia dibohongi oleh santrinya, ia juga tidak dendam ataupun berkata kasar. Ia malah memaafkan, berkata lembut, membela santrinya yang perilakunya tidak baik, dan bertanggung jawab pada ikrar yang telah terlanjur ia buat. 

Sikap dan keteladanan K.H. Hasyim Asyari tersebut sangat berbanding terbalik dengan kebanyakan pendakwah di zaman ini. Banyak pendakwah di zaman ini yang berorientasi pada materi atau kekuasaan politik. Sehingga, seringkali mereka lupa pada hal yang paling penting dalam berdakwah, yakni akhlak. 

Akibatnya, banyak kiai atau pendakwah yang menggampangkan sumpah atau ikrar. Contoh sederhananya, ada seorang pendakwah terkenal yang berjanji akan jalan kaki dari Yogyakarta ke Jakarta jika pasangan calon yang ia dukung kalah dalam kontestasi politik. Namun, apa yang terjadi? Ikrar hanyalah kata-kata semata. Janji hanyalah suara tanpa konsekuensi apapun.

 Hal tersebut tentu sangat berbahaya bagi umat. Maklum saja, negara kita akan memasuki musim kampanye politik, mungkin saja akan ada pendakwah yang berubah menjadi juru kampanye atau juru bicara dari tokoh-tokoh calon presiden dan wakil presiden.

Jika begitu, akan ada pengajian yang berubah jadi arena politik praktis. Pengajian akan berisi seruan-seruan partisan yang berupaya memenangkan calon pemimpin politik. Jika sudah begitu, tidak mustahil jika nantinya pengajian akan dilakukan dengan nada keras, bermuatan kebencian, serta upaya menghasut jamaah untuk membenci lawan politik. 

Pengajian dan dakwah dengan cara-cara kasar seperti itu tentu tidak sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia yang lembut dan cinta damai. Ekstrimisme dalam berdakwah dengan mengkafirkan, menebar fitnah, dan teror tidak sesuai dengan negara yang berprinsip Bhinneka Tunggal Ika. Maka, sudah sewajarnya bagi kita untuk memikirkan metode dakwah yang sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia dalam rangka mencegah unsur-unsur negatif dari radikalisme dan fanatisme keagamaan di pemilu mendatang.  

Dakwah yang Sesuai

Dalam persoalan dakwah, Hamka pernah menulis buku yang berjudul “Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam” yang diterbitkan oleh Pustaka Panjimas pada tahun 1984. Dalam buku tersebut, mantan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan prinsip-prinsip dakwah Islam seperti hikmah, keadilan, kebenaran, akhlak bukan pedang, dan keharusan berhijrah bagi muslim. 

Bagi Hamka, berdakwah dengan akhlak jauh lebih penting dan mulia daripada berdakwah dengan pedang. Hal ini ia utarakan melalui bukunya dengan mengkutip perkataan Ibnu Khaldun. Dengan memberikan keteladanan dan contoh akhlak mulia pada masyarakat, Ibnu Khaldun yakin kesuksesan berdakwah akan jauh lebih besar. Sebab, baginya masyarakat akan lebih mudah memahami sesuatu melalui contoh dan teladan daripada hanya sekedar kata-kata kosong.

Selain itu, kita juga dapat memahami metode dakwah yang baik dan benar memalui buku karya Fathi Yakan yang berjudul “Bagaima Kita Memanggil Kepada Islam” yang diterbitkan oleh Bulan Bintang pada tahun 1978. Pada bab kedua dalam buku tersebut, Fathi Yakan memberikan penjelasan tentang bagaimana cara kita berdakwah. 


Bagi Yakan (1978: 27-31), keanekaragaman masyarakat yang terlihat dalam keanekaragaman tingkat pendidikan, keanekaragaman kultur, dan keanekaragaman strata sosial, membuat seorang dai harus kreatif dalam menyampaikan dakwah. Para pendakwah harus mengenal masyarakatnya dari sisi luar maupun dalam. Dengan mengenal masyarakatnya dari kedua sisi tersebut, pendakwah akan dapat dengan mudah memilih bahasa yang sesuai dengan kondisi masyarakat, teladan yang cocok dengan kultur masyarakat, dan metode yang tepat dengan realitas sosial yang dihadapi oleh pendakwah. Dengan kata lain, dai yang sukses, bagi Yakan (1978: 27) adalah mereka yang sanggup memberikan tiap-tiap individu apa yang dibutuhkannya, baik berupa pikiran ataupun pengarahannya.

Akhlak dan Keteladanan
Dengan beberapa pertimbangan tersebut, saya yakin bahwa dakwah yang baik hanya bisa dicapai dengan satu cara yaitu dengan akhlak dan teladan. Salah satu contoh Akhlak dan teladan terdapat dalam kisah dakwah K.H. Hasyim Asyari pada santrinya, Sulam Syamsun. Akhlak dan teladan menurut K.H. Hasyim Asyari merupakan metode dakwah yang paling ampuh dan cocok pada zaman modern yang sedang menyambut musim kampanye ini
Jika bingkai dakwah tersebut bisa ditegakkan, saya rasa masalah berita palsu (hoax), kebencian, saling hasut, dan cacian dalam arena pengajian akan bisa kita selesaikan. Jadi, ketika berdakwah para dai akan lebih berhati-hati dalam membawakan materi. 

Akhirnya kita tidak akan lagi mempersoalkan adanya perbedaan pilihan politik, perbedaan mazhab, dan ideologi saat menyampaikan kebenaran agama. Yang akan kita permasalahkan dalam berdakwah hanyalah pemasalahan-pemalahan keumatan yang nyata. Hasilnya, tahun politik akan berubah menjadi tahun berkah dengan agenda utama yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan. Begitu. 




Penulis adalah aktivis Islam dan pengamat media sosial. 
Editor : Rika .Y.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.