Menyemarakkan Sastra Santri

Hot News

Hotline

Menyemarakkan Sastra Santri




Oleh: Al Iklas Kurnia Salam*

Bagi masyarakat umum dan masyarakat akademis, istilah sastra santri sepertinya masih belum begitu akrab. Baik masyarakat umum maupun masyarakat akademis cenderung lebih akrab dengan sastra sufistik atau sastra profetik daripada sastra santri. 

Mungkin penyebabnya adalah soal tokoh dan konsepsi yang belum jelas dari sastra santri itu sendiri. Jika kita berbicara sastra profetik, kita akan langsung merujuk pada Kuntowijoyo dan buku berjudul Maklumat Sastra Profetik (2013). Kuntowijoyo adalah konseptor sastra profetik sekaligus sastrawan yang menggunakan garis-garis besar sastra profetik saat berkarya. 
Sedangkan sastra sufistik memiliki nama besar sekaliber Jalaludin Rumi yang telah dikenal jauh di pelosok tanah air. Uraian dan alunan bait cinta Rumi telah begitu akrab dengan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia mencintai sekaligus mengakrabi Rumi sebagai bagian dari kebudayaan bangsa sendiri.

Lalu bagaimana nasib tokoh dan konsepsi sastra santri? Jawaban dari pertanyaan tersebut diyakini banyak pihak belum menemukan titik kepastian. Konsep dan tokoh sastra santri masih bisa ditarik memanjang atau dipersempit dalam ukuran yang sangat kecil. 

Namun dalam perspektifnya yang luas, sastra santri bisa dipahami sebagai sastra yang lahir dari golongan pesantren. Dalam arti tradisional tersebut, pesantren dan santri telah memiliki sejarah panjang di bumi nusantara. Pesantren dan santri sudah banyak memberi andil dalam ide serta kreatifitas dalam membentuk identitas budaya masyarakat Indonesia. Tak heran kemudian banyak tokoh-tokoh besar yang dinisbatkan serta diposisikan sebagai aktor sastra santri.
Ahmad Fuadi penulis trilogi novel Negeri 5 Menara merupakan salah satu contoh faktual dari tokoh yang diinisiasi menjadi bagian dari sastra santri. Karya Ahmad Fuadi dianggap representasi dari sastra santri. Hal itu bisa dilihat dari sisi biografi dan spirit Ahmad Fuadi dalam menggarap trilogi novel Negeri 5 Menara. 

Pengaruh pondok pesantren pada karya Ahmad Fuadi begitu terasa. Secara biografi pun Ahmad Fuadi pernah nyantri di Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo. Maka lengkaplah pelabelan Ahmad Fuadi menjadi bagian dari sastra santri.
Selain Ahmad Fuadi, Ahmad Tohari penulis Trilogi Ronggeng Dukuh Puruk juga diklaim menjadi bagian dari sastra santri. Ahmad Tohari adalah pengasuh pondok pesantren Al Falah Jatilawang, Banyumas. Bagi masyarakat Nahdatul Ulama, Ahmad Tohari merupakan santri, sekaligus kyai dan sastrawan. 

Sebagai santri sekaligus sastrawan, Ahmad Tohari sering sekali mendorong kalangan pesantren untuk kembali melahirkan sastrawan yang handal. Pengertian handal di sini adalah yang mampu menghasilkan karya sastra dengan mutu tinggi. Karya sastra tersebut biasanya harus mengandung nilai-nilai estetika yang berkualitas serta mempunyai dimensi edukasi. Tanpa kedua hal itu, karya sastra tidak bisa dikategorikan sebagai karya sastra yang bermutu tinggi.  

Pelatihan dan Pendampingan Sastra
Pembelajaran dan pengembangan sastra di pesantren sesungguhnya tidak cukup hanya mengandalkan pelajaran Bahasa Indonesia pada saat jam sekolah.  Menurut pengalaman saya selama mengajar santri-santri di Pondok Pesantren Darul Fikri. Sidoarjo, Jawa Timur,  pembelajaran sastra pada jam sekolah sangat bersifat formal dan terkesan dipaksakan.

Kebutuhan kulikuler untuk memahamkan sistem kebahasaan pada para santri membuat pembelajaran sastra terasa kaku. Pembelajaran sastra pun jadi terasa seperti pembelajaran sampingan dari tugas pokok pemahaman pada sistem kebahasaan. Hal ini menimbulkan kebuntuan kreatifitas pada diri santri.
Untuk menyiasati hal itu, saya menerapkan pelatihan dan pendampingan pembelajaran sastra di luar jam pelajaran sekolah. Kami memilih waktu malam untuk melakukan sharing sastra. 

Saat sharing sastra ,santri-santri mengekplorasi secara bebas buku-buku sastra yang sudah mereka baca. Santri-santri yang telah terbiasa menulis sastra pun bisa memamerkan hasil karyanya untuk dibahas dan diberi saran oleh rekan-rekan santri lainnya ataupun oleh pengasuh pondok pesantren. 

Dengan metode sederhana seperti itu saya harap sastra santri bisa tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren tempat saya mengajar. Jika lingkungan pesantren telah giat dalam berliterasi dan bersastra, saya yakin sastra santri akan berkembang dalam lingkup yang lebih luas. 

Akhirnya sastra santri bisa menasional atau bahkan mendunia. Masyarakat umum dan masyarakat akademis bisa memandang sastra santri secara setara dengan sastra profetik maupun sastra sufistik. Insya Allah. 

*Penulis adalah staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfidz Al Quran Darul Fikri Sidoarjo, Jawa Timur

Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.