Musnahnya Tionghoa Muslim di Nusantaray

Hot News

Hotline

Musnahnya Tionghoa Muslim di Nusantaray




Oleh: Muhamad Fauzi

Dalam suatu kesempatan, cendekiawan muslim dan mantan presiden B.J. Habibie menyatakan bahwa jasa hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Hal tersebut terkait dengan peran para pendakwah muslim dari Tiongkok dalam penyebaran agama Islam di Kepulauan Nusantara.

Ada anomali dalam proses islamisasi di Nusantara. Ketika di berbagai belahan dunia lain Islam berkembang dalam rentang waktu yang relatif singkat dari kelahirannya, bahkan muslim saat itu menempati posisi sebagai pemimpin peradaban dunia, kondisi yang sangat kontras terjadi di Nusantara, islamisasi berlangsung dengan sangat lambat. Selama hampir delapan abad, dakwah penyebaran agama Islam nyaris hanya berjalan di tempat.

Berbagai catatan, dari Tiongkok maupun penjelajah lain yang singgah di Nusantara, selama kurun delapan abad tersebut, bahkan hingga abad 15 di mana islamisasi itu berlangsung, hampir tidak ada pribumi yang menjadi pemeluk agama Islam di Nusantara, kecuali hanya terbatas di beberapa daerah tertentu. Komunitas muslim hanya terdiri dari para pendatang dari Timur Tengah dan Tiongkok.

Yang kemudian mengejutkan adalah, dalam waktu yang relatif singkat, hanya berkisar setengah abad, sebagian besar Nusantara telah bertransformasi menjadi muslim. Bahkan di saat di belahan dunia lain Islam mengalami kemunduran, ketika harus menghadapi dahsyatnya kolonialisme Barat, Islam baru tumbuh dan kemudian tetap eksis di kawasan Asia Tenggara ini.

Memudarnya kejayaan kerajaan Majapahit mengubah arah angin dakwah Islam dan iklim politik keagamaan di Nusantara secara drastis. Yang sebelumnya Islam sulit diterima, kemudian islamisasi berlangsung relatif cepat. Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha yang sebelumnya kukuh menancapkan eksistensinya di kawasan ini, kemudian tidak lagi bisa membendung arus islamisasi, tenggelam atau bertransformasi menjadi kerajaan-kerajaan Islam.

Efektifitas peran kekuatan politik untuk menopang sebuah ideologi sudah banyak terjadi dalam sejarah panjang peradaban umat manusia. Betapa banyak rasul yang berdakwah kepada kaumnya namun hanya segelintir orang yang menyambut seruannya, ketika dakwah tersebut tanpa ditopang oleh kekuatan politik. Beberapa rasul yang dakwahnya lebih berhasil, dari sisi memiliki umat yang besar, juga memainkan peran kepemimpinan dan kekuasaan seperti Nabi Sulaiman dan Nabi Musa. Sebagaimana dakwah nabi Muhammad pada periode Makkah yang nyaris hanya jalan di tempat, lebih cepat mencapai keberhasilannya pasca hijrah ke Madinah dan mendapat sokongan kekuasaan.

Demikian pula pada islamisasi di Nusantara ini, di antara sekian banyak teori yang masih perlu dikaji lebih lanjut, terdapat andil yang cukup signifikan dari peran politik muslim Tionghoa di jantung kekuasaan Majapahit. Termasuk juga kedatangan Laksamana Cheng Ho yang sering disebut memiliki peran signifikan dalam islamisasi di Nusantara. Maka ketika Majapahit runtuh, Demak yang muncul sebagai kekuatan politik Islam utama, tidak terlepas dari peran muslim Tionghoa tersebut. Raden Patah yang menjadi pemimpinnya sering disebut sebagai muslim Tionghoa. Dengan kata lain, pernyataan B.J Habibie di atas dapat ditulis ulang, ‘selama delapan abad muslim Arab tidak mampu mengislamkan Nusantara, namun muslim Tionghoa mengislamkan Nusantara hanya dalam kurun setengah abad.’

Sering ada aksioma bahwa ada bagian-bagian dari sejarah yang kemudian berulang. Terkait dengan hal tersebut, maka ada pertanyaan, apakah eksistensi Islam di Asia Tenggara suatu saat akan berakhir sebagaimana ia bermula? Ketika Islam di Asia Tenggara bisa bertahan dari hantaman kolonialisme yang bertubi-tubi, apakah ada mekanisme lain yang akan bisa menyebabkan musnahnya Islam di Nusantara ini?

Jika melihat beberapa indikasi pada kondisi umat di Indonesia saat ini, ada kemiripan dengan keadaan Hindu Budha menjelang keruntuhan Majapahit. Jika pada saat tersebut muslim menempati posisi sebagai minoritas kreatif, saat ini bisa dikatakan sebaliknya, umat Islam di Indonesia memang mayoritas secara kuantitas, tapi minoritas dari sisi peran. Peran-peran strategis di negeri ini tidak berada di tangan muslim. Muslim juga tidak menjadi penentu kebijakan-kebijakan strategis di negeri ini.

Ada kata kunci dari hal tersebut, peranan etnis Tionghoa. Hubungan antara muslim, Tionghoa dan Indonesia saat ini berada dalam suatu titik krusial. Lantas apakah jika muslim Tionghoa telah membangun eksistensi Islam di Nusantara, mereka pulalah yang akan mengakhiri eksistensi Islam di Indonesia ini? Dalam perjalanan sejarah, berlangsung berbagai dinamika dan perubahan. Tionghoa yang dulu identik dengan muslim, kini nyaring berada pada kondisi sebaliknya, bahkan ada indikasi ke arah deislamisasi.

Ada pertanyaan bagi kita, di manakah keberadaan muslim Tionghoa yang dulu memiliki peran besar dalam proses islamisasi di Nusantara? Dapatkah peran tersebut dimunculkan kembali untuk menjadi solusi atas berbagai krisis yang menimpa umat Islam dan bangsa Indonesia?

Jika komunitas muslim Arab di Nusantara relatif terjaga eksistensinya hingga kini, tampaknya tidak demikian dengan yang terjadi pada eksistensi muslim Tionghoa. Komunitas muslim Tionghoa memang seperti lenyap. Ada orang-orang yang masih mengingat bahwa mereka masih memiliki garis darah dengan tokoh tertentu yang notabene dikenal muslim Tionghoa di masa lalu, namun mereka telah membaur dengan muslim pribumi, hampir tanpa menyisakan lagi sekat etnis.

Ada sisi positif dari hal tersebut, menunjukkan universalitas Islam yang tidak mengunggulkan suatu etnis, suku atau bangsa tertentu, tetapi keunggulan itu diukur dari amal shalih dan ketakwaan yang dimiliki. Jika kita membuka lembaran sejarah peradaban Islam, kita dapati pada diri muslim spirit untuk menebar rahmat dan berbagi, bukan mengeksploitasi. Islam datang ke suatu negeri bukan sebagai koloni dan mengeksploitasi, bukan pula mengukuhkan hegemoni pembawanya, tetapi membebaskan dan membawa kemanfaatan. Sebagaimana Islam hadir di Andalusia dan membawa kemajuan peradaban di sana.

Sebagaimana Islam hadir di negeri ini, bukan untuk mengeksploitasi negeri ini dan bukan pula hadir sebagai penjajah. Namun, sebelum Islam bisa berbuat banyak untuk negeri ini, sebelum mampu membangun peradaban besar yang gemilang, sudah harus menghadapi kolonialisme yang begitu dahsyat. Namun setidaknya, Islam telah berperan menjaga negeri ini dan bersama negeri ini telah mengobarkan perjuangan melawan penjajahan.

Meleburnya muslim Tionghoa juga menyisakan sisi negatif di kemudian hari. Etnis Tionghoa yang datang belakangan, yang notabene bukan muslim, tak lagi mengenali bahwa sebenarnya Islam memiliki benang merah sejarah dengan mereka. Adalah aneh ketika di dekat Klenteng Sam Poo Kong kemudian dibangun masjid, Laksamana Cheng Ho tak lagi dikenal sebagai muslim.


Editor: Rifa'i

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.