Nonton Bareng Ala Pendidikan Politik Elite

Hot News

Hotline

Nonton Bareng Ala Pendidikan Politik Elite



Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Politik adalah kata yang akhir-akhir ini muncul mewarnai setiap percakapan khalayak ramai. Terlebih sejak memasuki masa kampanye dua calon presiden dan wakil presiden. Setiap hal senantiasa dikaitkan dengan politik.  Meskipun katanya politik itu kotor, tidak bagi sebagian orang atau lebih tepatnya mereka yang jadi tim sukses perpolitikan. Akan ada banyak pihak yang merasa harus berbicara politik.

Film Rangga: Faith and The City (selanjutnya disebut Hanura) ramai diperbincangkan. 'Hanum Salsabiela Rais' jadi salah satu kata kunci yang paling sering dicari di Google Trends. Sesuai data Filmindonesia.or.id pada Senin (12/11/2018) pukul 15.04, Hanura telah meraih 201.378 penonton. Di balik jumlah tersebut, ada Partai Amanat Nasional (PAN) yang menginstruksikan kadernya menonton film. Begitu juga Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Rektor kampus langsung memberikan instruksi serupa ( tirto.id/12/11/2018).

Sah-sah saja jika premier kedua film diatas diputar secara bersamaan, terlepas dari apapun motif di baliknya. Namun, sudah habiskah cara memberikan politik kepada para pemuda bangsa ini? Atau sudah serendah itukah kesadaran politik para negarawan bangsa ini sehingga harus  digiring untuk nonton bareng? Jika menanggapi film, Cinta Hanum dan Rangga, Sontoloyo, Gendruwo, a man called Ahok, dan lain sebagainya tampak nyata bahwa cara apapun bisa ditempuh hanya agar tujuan tercapai. Dan teropinikan secara maksimal visi dan misi yang dibawanya. Padahal sebagai muslim ada tolok ukur yang jelas terkait hukum sebuah perbuatan.

Nonton bareng, sebetulnya tidak saja dilihat dari konten apa yang ditonton. Tapi juga tergantung hukum syariah apa yang mengatur perhelatan itu digelar. Bagaimana faktanya ada campur baur laki-laki dan perempuan di dalamnya. Mengingat kedua partai di atas adalah reprensetatif umat Islam. Seharusnya juga memberikan rambu-rambu batasan apa yang boleh dan tidak dari kegiatan tersebut. Jangan sampai perbuatannya sendiri mengantar kepada keharaman demikian pula tujuannya. Nyatanya fakta berbicara ada persaingan dua kubu dengan hal-hal  yang tidak elegan dan berbobot karena bagaimanapun tidak bisa dibenarkan sekalipun alasannya untuk mencerdaskan umat. Intrik-intrik dalam film beserta seluruh kontennya tidak bisa dikatan demikian. Harusnya isu yang berbobot .

Politik dan berpolitik adalah suatu keharusan. Karena politik dan berpolitik berhubungan erat dengan pengurusan seluruh urusan umat. Namun elit politik saat ini hanya menyajikan politik dan berpolitik sangat melenceng jauh dari makna seharusnya. Ini berasal dari cara berfikirnya yang  rendah, politik disifati hanya untuk pemenangan saja. Selepas itu tak ada lagi pendidikan politik. Padahal seharusnya itu menjadi hal yang berlangsung terus menerus.

Islam menggagas politik dan berpolitik tidak sekadar untuk kontribusi pemilihan  kekuasaan dan kepemimpinan. Tapi lebih dari itu. Jauh lebih mulia dan manusiawi. Kata politik dalam bahasa Arab berasal dari kata siyaya bermakna pengurusan seluruh urusan umat. Meskipun amanah itu ada pada level negara namun rakyat atau umat diberi hak untuk bermuhasabah ketika pemerintah melakukan satu penyimpangan. Ini hanya dalam ranah pelaksanaan hukum-hukum yang mengatur seluruh urusan umat yang telah ditetapkan as-syari (Allah) dan bukan oleh manusia. Maka yang terjadi secara alamiah adalah terbangunnya sinergi antara penguasa dan umat. Suasana saling mengingatkan dalam rangka memperoleh kemaslahatan umum itulah manifestasi politik yang hakiki. Fan itu adalah hasil dari berfikir level berfikir yang tinggi.

Dalam Islam politik tidak harus ditakuti dan tidak kotor sama sekali sebagaimana yang ditampakkan hari ini dengan politik sekuler liberalisasi. Bahkan setiap individu harus melek politik sehingga menjadikan pembelajaran politik ada terus menerus dan melalui cara-cara yang dibenarkan hukum syara.

Saatnya menghidupkan kembali arti politik dan berpolitik yang benar. Agar kita benar- benar bisa menjadi hamba Allah yang taat dan mendapatkan kehidupan yang rahmatan lil alamin. Dan hal yang demikian hanya ada dalam sistem hukum yang berdasarkan syariat Allah. Wallahu a' lam bi ash-showab.



Penulis merupakan Pengasuh Grup Online Obrolan Wanita Islamis (BROWNIS)

Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.