Pahlawan Devisa Kini, Antre Eksekusi Mati

Hot News

Hotline

Pahlawan Devisa Kini, Antre Eksekusi Mati




Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Sungguh keras hidup yang dihadapi oleh perempuan-perempuan Indonesia ini, meskipun mereka seringkali disebut sebagai pahlawan devisa. Atas nama mengais rejeki, terlalu banyak yang mereka korbankan. Mereka terpaksa meninggalkan suami dan keluarga. Meletakkan kebahagiaannya sebagai ibu rumah tangga dan pendidik bagi anak-anaknya. Momen perkembangan anak-anak terlewatkan dan hanya bisa mereka saksikan melalui layar gawai di sela-sela waktu mereka bekerja.  Mereka benar-benar berdiri menjadi pahlawan bagi keluarganya. Pahlawan di tengah sulitnya para imam keluarga mendapatkan lapangan pekerjaan, dan di antara melangitnya berbagai kebutuhan hidup yang harus mereka bayar. 


Adalah seorang Tuti Tursilawati, tenaga kerja wanita (TKW) asal Majalengka, Jawa Barat, yang oleh pemerintah Arab Saudi dieksekusi mati  tanpa pemberitahuan atau notifikasi terlebih dahulu kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) ( TRIBUNNEWS.COM/5/11/2018). Ia hanyalah satu dari sekian ribu TKW yang terpaksa mempertaruhkan hidupnya antara bekerja dan sistem sanksi yang tidak berbelas kasih.

Chairman Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED) Farouk menilai kasus eksekusi mati Tuti tanpa notifikasi ini menjadi pelajaran bagi pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi diplomasi luar negeri yang ada sekarang ini agar bisa lebih aktif dan berani mengenai proses hukum terhadap WNI. Ikhwalnya, dalam kasus hukuman mati sering terjadi cara-cara “unfair trial”, sehingga harus ada pendampingan maksimal dari negara agar eksekusi mati dapat dicegah dari awal penanganan perkara.

Dalam kasus Tuti, otoritas Arab Saudi dianggap melanggar Konvensi Wina Tahun 1963 dan tidak adanya perubahan sistem hukum yang dapat melindungi pekerja migran. Atas dasar itu, alumnus New York University (MA) dan University of Birmingham (MBA) ini menyarankan agar pemerintahan Presiden Jokowi Widodo mempertimbangkan aksi-aksi yang jauh lebih tegas jika Arab Saudi terus mengabaikan permintaan Indonesia untuk memberikan notifikasi perihal penjatuhan hukuman mati terhadap WNI. Maraknya buruh migran perempuan bermasalah di luar negeri tak akan pernah muncul jika ada jaminan kesejahteraan dari negara. Faktanya, meskipun perempuan punya peran strategis sebagai ibu peradaban dan pencetak generasi unggul, ia tetaplah lemah. Maka tak mungkin dibiarkan seorang perempuan memenuhi kebutuhannya berikut keluarganya. Karena pasti akan berakibat pada rusaknya sendi-sendi masyarakat yang lain. 

Kita yakin peristiwa ini tidak akan terjadi seandainya pemerintah berhasil menjamin kesejahteraan bagi rakyatnya, khususnya kaum perempuan. Namun karena  penguasa hari ini  menerapkan sistem hidup yang salah dan tak sesuai fitrah, maka penderitaan inilah yang terjadi.  Berlarut-larut dan perempuan yang paling rentan menjadi korban. Sistem kapitalisme memang tak bisa diharapkan mampu mewujudkan kesejahteraan karena  tegak di atas asas dan pilar yang  batil. Kapitalisme justru melahirkan eksploitasi, kemiskinan dan gap sosial.

Mengapa demikian? Karena asas kapitalisme bermula dari pemisahan agama dari kehidupan. Manusia diberi kewenangan membuat aturannya sendiri, sehingga kebebasan adalah hal yang paling diagungkan. Sekulerisme inilah kemudian yang makin menonjolkan sistem kapitalisasi sebagai sistem ekonominya yang berisikan kebebasan memiliki. Dengan segala cara mereka yang bermodal besar akan menarik manfaat atau keuntungan dari pasar ekonomi. Dan siapa yang paling mudah direkrut? Perempuan.  Dengan pekerjaan rumah tangga yang memang sudah sehari-hari menjadi tugasnya, dan iming-iming kurs valuta asing real di atas rupiah, mereka rela menukar dengan harta sesungguhnya, yaitu keluarga. Inilah jahatnya negara sekulerisme dengan penguasa yang hanya berorientasi kepada kapitalisme. 

Berapa lama lagi perempuan-perempuan ini kembali kepada fitrah mereka? Berkumpul bersama keluarga tanpa harus memikirkan kerasnya menyambung hidup.  Mendidik anak-anak dengan bahagia dan jaminan bahwa mereka mampu menjalankan amanah yang sesungguhnya yang telah ditetapkan oleh sang Penciptanya. Kapan penderitaan mereka bisa diakhiri?  Solusinya hanyalah kembali kepada Islam. Hanya sistem Islam yang telah terbukti mampu menjamin kesejahteraan kaum perempuan dan rakyat secara keseluruhan dengan mekanisme yang sempurna baik melalui pendekatan kolektif (oleh negara) dengan menjamin lapangan pekerjaan tersedia bagi semua kepala keluarga. Tidak membuka kran kerjasama dengan negara-negara kufur yang hanya berniat mengeksploitasi SDA dan SDM saja.  Serta pendekatan individual (sistem penafkahan) dengan terjaganya nashab sehingga ketika perempuan tidak mendapatkan penafkahan dari suaminya karena sesuatu hal, negara bisa memastikan tanggung jawab itu beralih kepada walinya. Memastikan pengurusan negara terhadap kepala keluarga yang karena lemah atau kecacatan tidak bisa menafkahi keluarganya. Tidak memberikan pelayanan kepada rakyat untuk mengakses sumber-sumber muamalah dengan birokrasi yang ruwet dan panjang. Dikuatkan pula penerapan sistem itu dengan tegas dengan kuatnya penegakkan hukum secara konsisten oleh negara. Wallahu a' lam bi as-showab.


Penulis adalah Pengasuh Grup Online BROWNIS (Obrolan Wanita Islamis)
Editor: Lulu W

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.