Pahlawan, yang Berjasa dan Tanpa Tanda Jasa

Hot News

Hotline

Pahlawan, yang Berjasa dan Tanpa Tanda Jasa




Oleh : Yuly Sulistyorini, S.KM., M.Kes


Refleksi peringatan hari pahlawan yang dirayakan di setiap tanggal 10 November untuk mengenang jasa para pahlawan, tentunya menjadikan kita menengok kembali peristiwa sejarah di masa lalu. Berbagai acara besar dengan tema kepahlawanan pun digelar utuk memperingati atau mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang melawan para penjajah untuk meraih kemerdekaan yang saat ini kita rasakan. Jumlah pahlawan nasional pun bertambah di setiap tahunnya, dengan diberikannya gelar untuk tokoh-tokoh baru yang dinilai telah berjasa bagi bangsa dan negara. 

Berbicara mengenai pahlawan, saat ini salah satu pahlawan pejuang negeri ini yang berjuang bagi bangsanya juga masih berjuang untuk kehidupannya, yaitu sang pahlawan tanpa tanda jasa, gelar mulia yang diberikan kepada guru di negeri ini. Guru adalah sosok berjasa yang memiliki tugas sebagai pendidik dan pengajar.  Guru dapat dikatakan sebagai orang tua kedua. Karena, selain orang tua, guru juga berperan penting dalam sistem pendidikan.

Meskipun memiliki tugas yang sama, guru di negeri ini terbagi menjadi 2, yaitu guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru honorer. Mereka memiliki perbedaan yang signifikan, ibarat anak kandung dan anak tiri dari segi finansialnya. Gaji pokok PNS berkisar 3 atau 4 juta per bulannya, ditambah dengan berbagai tunjangan dari negara. Sedangkan, gaji guru honorer hanya berkisar 200-300 ribu rupiah saja per perbulannya, itu pun tanggal penerimaan gajinya sering tertunda. 

Bahkan, ada guru honorer yang tidak digaji. Padahal, baik guru PNS maupun guru honorer melakukan pekerjaan yang sama, yaitu mengajar, piket, mengawasi ujian, mengawasi siswa, dll. Bahkan, sering ditugaskan sebagai pembina kegiatan di sekolah. Dibandingkan perhatian pemerintah saat ini dengan memberikan hadiah milyaran rupiah pada para atlet Indonesia yang menang dalam kompetisi olahraga level Asia, Asia Tenggara ataupun dunia, sungguh sangatlah kontras. Padahal, guru memiliki tugas strategis untuk mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas dan berwibawa di dunia.

Minimnya jumlah gaji guru honorer dan sulitnya diangkat sebagai PNS, membuat para guru honorer berjuang keras dengan mencari pekerjaan tambahan untuk menghidupi keluarga mereka. Salah satunya dialami oleh seorang guru honorer di Kota Surabaya, selain mengajar, ia berjualan es batu untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Berat bagi para guru honorer dalam waktu yang bersamaan harus membagi tenaga dan pikiran antara mengajar dan kerja paruh waktu di tempat lain. Sehingga jika hal ini terus terjadi maka guru yang dijuluki sebagai pencetak generasi unggul pun akan kehilangan fokus dalam menjalankan tugas utamanya sebagai pengajar dan pendidik.

Sungguh, bukannya para guru honorer yang tahun ini telah mencapai jumlah 735.825 di sekolah negeri ini tidak berupaya agar negara melirik nasib mereka, namun berbagai aksi untuk menyuarakan aspirasi  telah ditempuh dan diupayakan. Seperti seratus guru honorer dari berbagai daerah di Banten yang menggelar demonstrasi di depan gerbang Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten pada tahun 2017. Mereka menuntut agar pemerintah dapat mensejahterakan dan menyelesaikan persoalan pegawai honorer hingga tuntas. 

Hal serupa dilakukan oleh guru-guru honorer yang ada di Mamuju Utara setelah upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Guru. Mereka melakukan aksi unjuk rasa karena tidak sanggup memenuhi biaya hidup sehari-hari dengan gaji yang mereka terima saat ini. Bulan lalu, tepatnya di tanggal 31 Oktober 2018, ribuan guru honorer melakukan aksi unjuk rasa di depan istana negara. Bahkan, di beberapa kabupaten/kota seperti Blitar, Indramayu, Tangerang, dan Purbalingga menggelar aksi mogok mengajar. Entah sampai kapan permasalahan kesejahteraan guru ini pada akhirnya akan selesai.

Guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Karena, guru merupakan sosok yang oleh Allah SWT dikaruniai ilmu, yang dengan ilmunya itu menjadi guru sebagai perantara bagi manusia lainnya untuk mendapatkan, memperoleh, serta menuju kebaikan di dunia maupun di akhirat. 

 Selain itu, selain bertugas untuk mengajar dan mendidik siswanya agar cerdas secara akademik, tetapi jugabertugas untuk mengajar dan mendidik siswanya agar cerdas secara spritual, memiliki iman dan takwa. Tidak hanya bertugas untuk mengajar dan mendidik, namun guru juga harus bisa menjadi contoh bagi anak didiknya. Tidak hanya mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas tetapi juga sebagai bangsa yang besar. 

 Tentu saja, untuk dapat menjalankan tugas mulia dan strategis dengan baik, haruslah didukung oleh banyak hal, termasuk sarana dan prasarana pendidikan. Selain itu, kekuatan ekonomi negara juga haruslah menjadikan sektor pendidikan menjadi prioritas tidak hanya dalam perencanaan tetapi juga dalam anggaran negara. Termasuk memberikan gaji kepada para guru yang disesuaikan dengan tanggung jawab mereka. Negara haruslah membangun sistem pendidikan yang mandiri, tangguh, dan unggul, untuk memudahkan seluruh warga negara mengenyam pendidikan tanpa syarat.

Kurikulum yang ideal juga haruslah disusun dengan matang, tidak sekadar mengikuti kondisi dan mainstream, tetapi kurikulum pendidikan sempurna yang dibangun dari Yang Maha Sempurna. Dengan menjadikan sektor pendidikan dibangun secara utuh dan menyuluruh seperti di atas, bukan hal yang mustahil bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar.






Penulis merupakan praktisi pendidikan dan dosen Departemen Biostatistika  dan Kependudukan Universitas Airlangga.

Editor : Rika .Y.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.