Pemberdayaan Perempuan: Madu Atau Racun?

Hot News

Hotline

Pemberdayaan Perempuan: Madu Atau Racun?



Oleh: Epi Aryani

Pergi pagi, pulang petang. Pergi masih gelap, anak masih tidur. Pulang pun sudah gelap, anak juga sudah tidur.
Tetiba rasa pedih menggelayuti hati. Perih. Merasa ada yang tidak beres. Seharusnya ibu ada di sisi buah hati tercinta. Rumah adalah tempatnya. Istananya.
Tapi kondisi memaksanya untuk bergelut mencari rupiah. Membantu suami yang hanya kuli serabutan. Penghasilannya tidak bisa diandalkan. Jangankan untuk bayar kontrakan dan biaya pendidikan, untuk makan saja masih cari utangan.

Itulah sepenggal kisah atau bahkan gambaran umum dari nasib ibu bangsa. Bukan salah mereka sepenuhnya jika akhirnya mereka harus keluar rumah untuk bekerja.
Lelah dengan urusan domestik; urusan rumah tangga, mengurus anak dan suami. Ibu masih harus disibukkan dengan urusan nafkah.

Predikatnya sebagai tulang rusuk, berubah fungsi menjadi tulang punggung. Atau keduanya dijabani sekaligus. Jika terus begini, maka kewarasan ibu jadi taruhan. Urusan keluarga bisa berantakan. Mana tahan?

Pemberdayaan Perempuan, Siapa Yang Diuntungkan?
Saat ini secara sistemik, memang perempuanlah yang memiliki peluang besar untuk berdaya di dunia kerja, khususnya industri. Mereka secara sengaja dan massif digiring untuk menjadi alat pemutar roda industri kapitalis sekaligus target pasarnya. Bahkan pada pertemuan IMF word bank di Bali, menteri keuangan Sri Mulyani dan bos IMF menyatakan bahwa betapa pentingnya perempuan dalam pembangunan ekonomi Indonesia (m.detik.com).

Women empowering alias pemberdayaan perempuan dalam ranah ekonomi layaknya madu berbalut racun. Di satu sisi, menjadi angin segar bagi perempuan untuk bisa berkiprah di ranah public: mandiri. Menghasilkan pundi-pundi rupiah sendiri tanpa terikat kepada kaum laki-laki. Tapi di sisi lain, dia terjebak menjadi alat untuk mengokohkan hegemoni kapitalisme. Juga berefek menghancurkan bangunan keluarga muslim dari sisi melemahkan fungsi wanita sebagai ibu. Yang kemudian berefek pada lemahnya generasi.

Pemberdayaan Perempuan Ala Jepang.
Semenjak zaman restorasi meiji (Meiji-ishin), ada yang namanya Kyoiku Mama alias ibu pendidikan. Para ibu di Jepang umumnya tidak bekerja, tapi hanya untuk mendidik dan mengurusi anak-anak mereka. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya di bawah pengurusan dan didikan sang ibu, tanpa pengasuh.
Para Kyoiku Mama memiliki pendidikan setara S1/S2. Mereka sekolah tinggi 'hanya' untuk mendidik anak. Sehingga kemajuan ekonomi dan budaya Jepang meningkat salah satunya karena ditopang oleh Kyoiku Mama. Maka tidak heran jika orang Jepang memiliki perilaku positif seperti disiplin, memiliki etos kerja tinggi dan menjaga kebersihan. Sehingga sekolah hanya untuk mentransfer ilmu saja.

Perempuan adalah tiang negara, nampaknya ini dipahami betul oleh Jepang. Maka, menjadi Kyoiku Mama adalah cara Jepang memberdayakan perempuan.
Pemberdayaan Perempuan dalam Islam.
Jauh sebelum kehadiran Kyoiku Mama, Islam telah memposisikan wanita untuk 'berdaya' sesuai dengan fitrahnya, yakni ada tiga level:
Ummu warobbatul bayt (ibu pengatur rumah tangga) 

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya, dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya". (HR. Bukhari dan muslim).
Menjadi ibu pengatur atau manajer rumah tangga merupakan jabatan langsung dari Allah. Maka Dia pulalah yang langsung mengawasi dan yang membayarnya.

Dalam sebuah video sosial eksperimen yang dipost oleh fanspage Sahara, disebutkan bahwa pekerjaan ini memerlukan mobilitas tinggi, adakalanya untuk duduk pun terasa begitu sulit. 
Ada masa pekerjaan ini menuntut harus selalu terjaga semalaman. Bahkan di hari libur, pekerjaan menjadi lebih sibuk. Melayani klien yang sensitif dan membutuhkan keahlian ganda seperti memasak, merawat, mengajar, membersihkan tempat kerja secara rutin, sampai pada tindakan medis (yang bersifat ringan). Keahlian ini dibutuhkan secara bergantian, adakalanya bersamaan sekaligus.

Seminggu ada berapa jam? Itulah jam kerjanya. Kontrak kerjanya selamanya dan tidak bisa dibatalkan. Info terpentingnya adalah, tidak ada yang mampu menggaji. Sekali lagi, tidak ada gaji. 
Sedemikian beratnya, walau baru berada di level pertama. Pertanyaan yang kemudian muncul, adakah yang mau dengan pekerjaan tersebut? Ada. Bahkan jumlah mereka banyak dan bertebaran di seluruh dunia. Ya, mereka bekerja. Dialah ibu.
Madrasah 'Ula (ibu sebagai guru pertama dan utama)

"Dan hendaklah mereka takut kepada Allah seandainya mereka meninggalkan sepeninggal mereka anak keturunan yang lemah. Hendaklah mereka khawatir terhadap mereka." (QS. An-nisa: 9).
Menjadi kewajiban ibu memberikan pemahan kepada anak tentang hakikat keberadaan dirinya di dunia. Dari mana asalnya, untuk apa dia diciptakan dan akan ke mana setelah kematian menjemput. Jawaban dari ketiga pertanyaan inilah yang akan menjadi aqidah seseorang dan menentukan cara seorang manusia menjalani kehidupannya secara khas. 
Misal, bagi seorang muslim. Dia meyakini manusia ada karena ada yang menciptakan dan mengatur, yaitu Allah. Maka kehidupan harus berjalan sesuai dengan aturan Allah. Jika sesuai, maka bernilai pahala. Jika tidak, maka menghasilkan dosa. Dan kelak sesudah mati, seluruh perbuatannya di dunia akan dimintai pertanggung jawaban. Jika sesuai game rules, maka pahala tadi akan berbuah surga. Tapi jika tidak, dosanya selama di dunia berujung pada neraka.

Maka wajib bagi seorang ibu membekali dirinya dengan pemahaman Islam yang benar sehingga mampu memberikan pendidikan yang lurus kepada anak-anaknya.
Selain itu, ibu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal dengan penuh kasih sayang. Sehingga menumbuhkan sikap positif sejak dini. Seperti belajar menghargai diri sendiri. Menumbuhkan kepercayaan diri. Kemampuan untuk berempati dan berbagi kasih sayang kepada orang lain.

Fakta membuktikan bahwa peran ibu dalam mendidik anak tidaklah tergantikan. Masa 0 - 6 tahun bagi anak adalah masa keemasan pertumbuhan dan perkembangannya. Pada usia ini, otak anak terbentuk sampai 80 %, kecerdasan dan dasar-dasar kepribadiannya mulai terbentuk. Karena itu, masa ini membutuhkan pendampingan dari sosok terdekat, yaitu ibu.

Ibu Imam Syafi'i mewakili perjuangan ibu sebagai madrasah ula. Suaminya meninggal sebelum Imam Syafi'i dilahirkan. Ia mengurus dan mendidik Syafi'i sendirian. Memotivasinya untuk belajar. Sehingga Syafi'i kecil bisa menghafal Al-Qur'an di usianya yang ketujuh, kemudian tumbuh sebagai seorang pecinta ilmu dan memiliki banyak guru.

Tidak sedikit tokoh sukses karena peran seorang ibu di belakangnya. Mungkin nama para ibu ini tidak pernah tercatat dalam sejarah. Namun anak-anak mereka tercatat dengan tinta emas. Dan itu cukup menjadi bukti eksistensi seorang ibu.
Ummu Ajyal (ibu pencetak generasi unggul)
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah." (TQS. Ali Imron: 110)

Level berikutnya lebih bersifat kolektif karena berhubungan dengan umat dan keberlangsungannya di masa depan. Secara islami, mendidik anak laki-laki akan menghasilkan seorang pemimpin (yang baik). Mendidik anak perempuan lebih dari itu, karena akan menghasilkan generasi. Maka pantaslah Rasulullah SAW memberi imbalan menjadi tetangganya di surga jika bisa mendidik anak-anak perempuan. Karena jika dilihat dari tingkat kesulitannya, pun lebih besar.

Mulai dari waktu baligh yang datang lebih cepat, maupun lebih banyak porsi syariat yang harus ditaati. Semisal, lebih banyaknya dari bagian aurat yang harus ditutup. Bersafar yang mengharuskan ditemani mahrom. Atau kondisi-kondisi khusus seperti haid, hamil dan melahirkan.
Merasa diri butuh energi lebih besar membayangkan ketiga anak perempuan saya yang mulai beranjak remaja harus mampu secara sadar melaksanakan syariat Islam di usianya yang lebih dini dari pada teman laki-laki seusianya. Mungkin kelas 4 Sekolah Dasar bisa jadi sudah dapat haid. Kemudian mereka harus bisa mengenakan kerudung dan jilbab secara sempurna tanpa disuruh, mengkaji Islam, berdakwah dan lain-lain.

Tapi bukan berarti pendidikan anak perempuan lebih penting. Baik laki-laki atau perempuan, keduanya penting sesuai porsinya dan butuh metode yang tepat dalam mendidiknya. Sehingga bisa menghasilkan dan melayakkan diri menjadi umat terbaik yang disebutkan di dalam Al-Qur'an.

Ciri lain dari ibu pencetak generasi ini, selain mampu mendidik anak sendiri juga mampu membina anak-anak lain seperti anaknya sendiri. Sebagai efek visioner akan kebangkitan umat. Bukankah anak-anak juga hamba Allah yang juga menjadi objek dakwah bagi setiap muslim? 
Memahamkannya kepada Islam dan bersama menciptakan atmosfer yang islami di lingkungan. Sehingga terciptanya masyarakat yang islami dan kuat. Karena kebangkitan Islam tidak akan muncul dari generasi yang lemah. Jika generasi kuat itu bukan kita, maka dengan mudah Allah akan menggantikan posisi kita dengan generasi yang lebih kuat dan dari tangan-tangan merekalah Islam akan tegak.

Pantaslah Islam telah menempatkan ibu sebagai pekerjaan terbaik bagi seorang muslimah. Pemberdayaan perempuan secara maksimal tanpa meninggalkan fitrahnya. Formulasinya lebih canggih dari pada empowering women ala IMF atau Kyoiku Mama. Karena tidak hanya menghasilkan visi duniawi yaitu generasi terbaik yang berefek kepada kesejahteraan umat manusia tapi juga menghasilkan visi ukhrawi yaitu menjadikan dirinya (ibu) mulia di dunia dan berbuah surga di akhirat kelak. Wallahu A'lam bisshawab.



Epi Aryani (Muslimah, Guru dari Karawang)

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.