Pembunuhan Guru Honorer, Mengapa Bisa Terjadi?

Hot News

Hotline

Pembunuhan Guru Honorer, Mengapa Bisa Terjadi?





Oleh : Novida Balqis Fitria Alfiani

Sebenarnya, kasus pembunuhan di negeri ini bukanlah sebuah hal yang mengejutkan. Bisa kita perhatikan di berbagai media cetak maupun elektronik, hampir setiap hari kasus menghilangkan nyawa manusia ini terjadi. Berdasarkan data yang dilansir dari news.okezone.com kasus pembunuhan di Indonesia pada awal Januari 2018 saja sudah sebanyak 6 kasus hingga 11 Januari 2018. Sungguh miris. 

Kali ini,  kasus serupa menimpa Danil Juliansyah seorang guru honorer di SDN 53 Banda Aceh. Dilansir dari tribunnews.com bahwa Danil Juliansyah ditemukan meninggal dalam kondisi leher tergorok di Alimun Kos Kuta Alam, Banda Aceh pada hari Kamis (11/10/2018) lalu. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh utang piutang korban dan tersangka RK (28). 

Sungguh betapa mirisnya negeri ini. Guru honorer yang kita tahu gaji yang mereka dapatkan sangatlah tidak layak dibandingkan dengan pengabdian mereka dalam mencerdaskan anak bangsa. Seperti aksi ratusan guru honorer beberapa minggu lalu di depan Gedung Istana,  Jakarta, dimana mereka menuntut status mereka dijadikan sebagai PNS tanpa tes.

Dalam aksi tersebut banyak kita lihat poster-poster bertuliskan curahan hati mereka. Beberapa poster dari para guru honorer bertuliskan 'Jangan Dzolimi Guru Honorer' ada yang bertuliskan 'Kami Bukan Budak Pendidikan',  'Angkat K2 Tanpa Tes' dan 'Gaji 300ribu/bulan, kapan nikahnya?'

Maka ketika melihat kasus pembunuhan Danil yang dibunuh oleh seseorang yang masih tergolong rekan korban hanya karena soal utang piutang, maka sungguh kejadian seperti ini sangatlah miris. Dilihat dari pekerjaannya, gaji guru honorer jelas tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Bisa jadi karena itulah Danil terpaksa meminjam uang kepada rekannya untuk menutupi kekurangan kebutuhannya. 

Jelaslah, persoalan kemiskinan menjadi salah satu aspek yang harus diperhatikan oleh pemimpin negeri ini. Kasus pembunuhan diakibatkan karna hutang piutang dan kemiskinan menjadi kasus yang paling sering terjadi dan seharusnya kita jeli melihat apa sebenarnya akar permasalahannya, sehingga kasus seperti ini tidak akan terulang lagi dan lagi. 

Maka jawabannya adalah karena negeri ini menerapkan aturan yang lahir dari sumber yang salah. Yaitu sekularisme yang bersumber dari sistem kapitalisme. Dari aturan yang salah inilah, sumber daya alam kita sebagian besar dikuasai asing dan aseng. Sehingga kebutuhan pokok seperti pendidikan,  kesehatan,  dan keamanan yang seharusnya dijamin oleh pemimpin negeri ini, menjadi tanggung jawab individu rakyat. 

Hal ini berbeda ketika Islam pernah diterapkan selama 13 abad lebih. Dimana seorang guru benar-benar dihargai dan diberi penghasilan/gaji yang layak. Sehingga guru dapat fokus mendidik tanpa harus memikirkan pekerjaan tambahan lain atau bahkan berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, guru digaji sebesar 15 dinar. Satu dinar nilainya setara dengan 4,25 gram emas. Maka, satu dinar bisa setara dengan Rp 2.258.000,-. Yang berarti, pada masa Umar bin Khattab, gaji guru mencapai Rp 33.870.000,-. Sungguh gaji yang sangat besar. Jauh berbeda dengan gaji yang didapat oleh guru honorer hari ini yang hanya berkisar 300-500 ribu perbulan. 

Pada masa diterapkannya Islam, jasa guru sangat dihargai dan dihormati. Karena guru merupakan pendidik yang membangun generasi terbaik untuk peradaban di masa mendatang.  Sejarah peradaban Islam mencatat banyaknya cendekiawan dan intelektual lahir di masa kejayaan Islam. Berbagai bidang pengetahuan berkembang pesat seperti Ibnu Rusydi yang menguasai ilmu fikih, ilmu kalam, sastra Arab, matematika, fisika, astronomi, kedokteran, dan filsafat. 

Al-Ghazali yang menciptakan karya buku Ihya Ulumuddin yang membahas masalah-masalah akidah, akhlak, dan tasawuf berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Juga Al-Farabi, yang menekuni berbagai keilmuan tentang logika, musik, kemiliteran, metafisika, ilmu alam, teologi, dan astronomi. Dan masih banyak cendekiawan muslim lainnya dengan berbagai bidang keilmuan.

Hal tersebut membuktikan bahwa penerapan Islam dapat mencetak generasi gemilang dari pendidikan yang berkualitas. Kesejahteraan guru di negeri ini hanya mampu terwujud dengan penerapan Islam, dan mendapat gaji yang layak tidaklah sulit jika negara mampu mengelola Sumber Daya Alam (SDA) berdasarkan Syari’at Islam dalam bingkai Negara yang menerapkan Islam secara keseluruhan. Karna mustahil pengelolaan sumber daya alam kita menjadi mandiri jika tidak dibarengi dengan penerapan Islam dalam bidang kehidupan secara menyeluruh. 
Wallahu A’lam Bishowab


Penulis: Mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Editor: Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.