Pengulangan Kisah Oemar Bakri

Hot News

Hotline

Pengulangan Kisah Oemar Bakri




Oleh : Rut Sri Wahyuningsih

            Hingga hari ini nasib guru  yang masih honorer sedang menanti tanda  tak pasti terkait masa depan mereka. Sebutan pahlawan tanpa tanda jasa yang tersemat tak mampu menjamin mereka mendapatkan hak mereka, yaitu kesejahteraan dan keadilan. Merekalah pengukir kepribadian anak, pencerdas bangsa dan menghapus kebodohan. Meskipun zaman telah berubah, profesi guru tetap sebuah profesi yang mulia dan menjadi kehormatan bagi yang menyandangnya. Namun kiranya telah terjadi pengulangan kisah Oemar Bakri, tokoh fiktif ciptaan musisi Iwan Fals.  Nasib guru honorer di bawah rezim sekuler sungguh ironi.

Masih hangat jadi pembicaraan di masyarakat meskipun tak laku di media massa tentang jerit guru honorer yang berjuang menuntut hak - hak mereka. Para guru honorer bermalam di depan istana,  namun sepertinya belum menyentuh hati Bapak Presiden Jokowi & Pihak Istana dalam memberikan kebijakan sesuai harapan pendemo. Penguasa tempat rakyat mengadu seharusnya tergugah kepedulian mereka terhadap posisi strategisnya dalam mewujudkan cita - cita bangsa yaitu menyiapkan generasi masa depan yang unggul. Sejatinya para guru ini sudah lama diombang - ambingkan pemerintah, terkait masa depan mereka yang tidak pasti. 

Status guru honorer adalah buah pahit  terkait sistem pendidikan di negri ini yang carut marut. Pemerintah saat ini gencar dalam menjalankan program pendidikan dua belas tahun. Tetapi tidak diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia atau tenaga pengajar. Untuk itu, diperbantukanlah guru honorer dalam menjaga keberlangsungan pendidikan, terutama di daerah yang sulit di akses pemerintah. Sementara ketika ada perekrutan CPNS, undang-undangnya belum dirubah, maka peluang honorer menjadi PNS lenyap. Inilah  perlakuan buruk sistem sekuler terhadap profesi pendidik dan pandangan sistem terhadap urgensi pendidikan. Landasannya rapuh, hanya kemanfaatan secara ekonomi, dengan mengenyampingkan pengorbanan dan jasa yang sudah dilakukan oleh para guru honorer yang sudah berbakti  sejak lama. Padahal pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara dan wajib ditunaikan oleh Negara dalam hal ini peran guru sebagai pelaku utama yang langsung terjun mendidik generasi bangsa ini. Karena pendidikan adalah kunci peradaban bangsa yang mampu memimpin dunia. Tidak di dikte oleh bangsa lain, apalagi dijajah.

Dalam islam, guru mendapat posisi dan perlakuan mulia, karena  posisi sebagai  orang berilmu dan mengajarkan ilmu serta karena posisi strategisnya sebagai salah satu pilar pencetak generasi cemerlang.
Pandangan Islam terhadap pendidikan dan para pendidik bertolak belakang dengan paham sekulerisme, kapitalisme. Islam menjadikan pendidikan sebagai pilar peradaban manusia, dan menempatkan para guru sebagai salah satu arsiteknya.

Hal ini nampak dari pandangan Negara khilafah yang fokus perhatiannya kepada perkembangan pendidikan dan jaminan kesejahteraan para guru.  Apa yang dicontohkan Rasulullah salallahu alaihi wasallam, telah membuktikan betapa pentingnya pendidikan dan pemimpin Negaralah yang mengurusi itu. Dalam perang Badar, pasukan Islam menawan sekitar 70 orang musyrik Quraisy, dari jumlah tersebut, hanya dua orang saja yang dieksekusi mati karena besarnya kejahatan perang yang mereka lakukan. Keduanya adalah Nadhr bin Harits dan Uqbah bin Abu Mu’aith, sementara sisanya dibebaskan dengan tebusan harta, atau dengan mengajar baca-tulis bagi anak-anak Madinah. Sebagiannya bahkan dibebaskan tanpa syarat saat mereka tidak mampu menebus dengan harta maupun mengajar baca-tulis. (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, 5/188).

Begitu besarnya penghargaan negara kepada guru, hingga Umar Bin Khatab menggaji pengajar/guru sebanyak 15 dinar merupakan angka yang luar biasa. Hari ini   1 dinar setara dengan Rp 2.258.000,- maka pada masa khalifah Umar, gaji guru mencapai Rp 33.870.000,-. Sebagai perbandingan, saat ini gaji guru di negeri kita berada pada kisaran 2 juta. Jika dinyatakan dalam dinar, gaji guru sekarang hanya berkisar 1 dinar saja. Ini sama saja menyatakan bahwa gaji guru sekarang hanya 1/15 dari gaji guru pada masa Khalifah Umar.

Artinya, pendidikan bukan perkara remeh temeh, perlu keseriusan pengurusannya. Karena akan berdampak pada maju mundurnya sebuah Negara. Apa jadinya jika Negara abai terhadap kualitas pendidikan rakyatnya. Namun sistem pendidikan tidak akan mencapai tujuannya jika penghargaan yang layak bagi guru-gurunya kurang diperhatikan, apalagi belum meratanya fasilitas penunjang pendidikan, insfrastruktur daerah, dan modul pembelajaran yang teruji.  Hal ini sulit tercapai kecuali ketika kita sadar dengan pentingnya Islam yang kaffah. 

Terbukti jika kapitalisme dan sekulerisme gagal mengatur kehidupan kita, dan selama ini belum mampu menjadi sumber solusi sebagai sebuah sistem aturan yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan rakyat, terutama pendidikan. Maka saatnya kita beralih kepada sistem terbaik dari sang Maha Hidup, yang telah terbukti selama 1300 tahun memimpin peradaban mulia. Sejatinya  para guru juga bisa menghadirkan solusi dalam sistem Islam tersebut dalam kehidupan. Maka dianggap penting bagi mereka untuk terlibat dalam perjuangan mewujudkannya. Wallahu a'lam biashowab.


Penulis adalah pengasuh group online
BROWNIS
Editor adalah Syaiful Amri

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.