Peran Negara dalam Mencegah Perkembangan Virus HIV/AIDS

Hot News

Hotline

Peran Negara dalam Mencegah Perkembangan Virus HIV/AIDS





Oleh Ika Nur Wahyuni

Tiga siswa SD di Samosir, Sumatera Utara diduga mengidap HIV/AIDS. Mereka dikeluarkan karena desakan para orangtua murid yang takut anaknya tertular. Mereka adalah H (11 tahun) seorang anak laki-laki, dua orang anak perempuan yaitu SA (10 tahun) dan S (7 tahun). (Bbc News Indonesia, 23/10/18).

Berdasarkan data Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementrian Kesehatan RI hingga Maret 2017 tercatat jumlah penderita HIV sudah mencapai 242.699 jiwa dan yang positif terkena AIDS mencapai 87.453 jiwa. Dari data tersebut juga bisa dilihat bahwa pengidap AIDS terbanyak pada usia produktif, yakni 20-29 tahun. HIV sendiri berkembang menjadi AIDS dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun. Dapat diartikan bahwa penderita AIDS sudah terjangkiti virus HIV sejak usia kanak-kanak.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menekan penyebaran virus HIV/AIDS, bahkan pemerintah mengeluarkan Keppres nomor 36 tahun 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS. Komisi ini menggelar workshop di berbagai kota, memberikan seks education di sekolah-sekolah dan memberikan penyuluhan di tempat-tempat lokalisasi tentang bahaya AIDS. 

Upaya yang dilakukan pemerintah tidak membuahkan hasil, dengan terus meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS terutama di kalangan remaja dan para pelaku homoseksual. Faktor utama penyebabnya adalah gaya hidup sekulerisme yang mengemban paham kebebasan yang berkembang di masyarakat. 

Syariat agama terpinggirkan, tolok ukur perbuatan adalah hawa nafsu. Kebebasan yang kebablasan ini berdampak merusak seluruh tatanan kehidupan tak terkecuali tatanan sosial di tingkat terkecil yaitu keluarga. Sekarang ini banyak ibu yang meninggalkan keluarganya untuk sekedar membantu suami mencari nafkah bahkan tak sedikit yang menjadi tulang punggung keluarga. 

Perannya sebagai madrasatul ula’ (sekolah pertama) tergerus oleh kapitalisme dimana semua dinilai dengan materi. Mereka dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Dampaknya adalah para ibu hanya memiliki sedikit waktu untuk berinteraksi dengan keluarga terutama anak-anak. Minimnya interaksi dengan ibu menyebabkan anak-anak rentan terhadap tindak kejahatan, pornografi, pergaulan bebas, dan narkoba.

Salah satu fungsi negara adalah memberikan solusi berbagai problematika yang dihadapi rakyatnya. Undang-undang dan peraturan yang dibuat negara adalah dalam rangka semakin mendekatkan rakyat dengan agama sehingga tercipta individu-individu yang bertakwa. Dengan terjaganya ketakwaan individu inilah yang dapat meminimalisir penyebaran virus HIV. 

Selain itu negara juga menjamin dan memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya sehingga peran ibu tidak beralih fungsi. Anak-anak akan nyaman dengan keberadaan ibunya di rumah. Para ibu optimal mendidik anak-anaknya. Dan itu hanya terwujud apabila negara menerapkan sistem Islam sebagai dasar negara. Karena dalam Islam negara berfungsi sebagai ri’ayatul umat (pengayom rakyat). 

Sebagai pengayom rakyat negara akan memenuhi segala kebutuhan pokok rakyatnya dan menjadi benteng pelindung dari perilaku menyimpang, kejahatan seksual, dan pornografi. Negara akan meningkatkan ketakwaan individu rakyatnya dengan menindak tegas para pelaku pelanggaran norma agama tanpa terkecuali, membuat undang-undang dan peraturan yang semakin menghantarkan rakyatnya menjadi pribadi yang bertakwa.



Penulis  Aktivis Remaja Karawang
Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.