Pesawat Kembali Jatuh, Bukti Negara Rapuh

Hot News

Hotline

Pesawat Kembali Jatuh, Bukti Negara Rapuh




Oleh: Erwina MA.
(Komunitas Revowriter Jombang)

We Make People Fly. Itulah tagline maskapai Lion Air yang kini menguasai setengah dari total penumpang penerbangan di Indonesia. Si Singa Merah yang kerap membuat marah dengan sejumlah masalah.  Mulai dari pembatalan keberangkatan, keterlambatan penerbangan, atau beberapa kali tergelincir di bandara dan mengalami kerusakan mesin saat akan terbang. (www.pinterpolitik.com 31/10/2018). Tapi dengan tiket murah, maskapai ini tetap diminati dan konsumen enggan beralih ke lain hati. Sejumlah insiden kerap terjadi. Seolah lolos dari sanksi, maskapai tetap beroperasi. 

Jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 membawa duka yang mendalam karena dipastikan seluruh penumpang tak bernyawa lagi. Belum usai duka di hati, kembali insiden terjadi. Di Bandara Fatmawati, Bengkulu, Rabu (7/11/2018) pukul 18.20 WIB pesawat Lion Air JT 633 menabrak tiang lampu. Pesawat yang sedianya mengangkut 143 orang dengan 7 orang kru mengalami robek sayap walau tanpa korban jiwa. (https://m.detik.com/8/11/2018)

Kecelakaaan bisa menimpa siapapun. Itulah takdir yang wajib diterima. Bagi muslim, menjadi bagian dari keimanan. Termasuk yang terjadi dengan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada 29 Oktober lalu. Upaya pencarian, evakuasi, dan identifikasi terus dilakukan. Di sisi lain penyebab kecelakaaan terus diselidiki. Namun kejadian ini mengingatkan kembali akan sederet insiden pada maskapai milik Rusdi Kirana yang masih beroperasi tanpa sanksi yang berarti. 

Memulai dengan pesawat sewaan pada pertengahan 2000, kemudian dalam 18 tahun tumbuh menjadi maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia. Pemecah rekor pemesan 234 pesawat jet penumpang dari Airbus pada Maret 2013 senilai Rp233 triliun. Maskapai dengan armada terbanyak, diklaim 350 armada melampaui maskapai BUMN Garuda Indonesia. Tak heran bila Lion Air beserta Batik Air dan Wings Air-maskapai yang bernaung di bawah PT Lion Mentari Airlines, menguasai pasar domestik hingga 52 %. (https://tirto.id/2-11-2018).

Namun semuanya menuntut konsekuensi. Ijin layak terbang, perawatan dan spare part pesawat, sumber daya manusia, standar prosedur operasi, serta kompensasi atas keluhan yang terjadi antara lain yang harus diatasi. Bila tidak, kondisi buruk dan membahayakan. Bahkan dalam wawancara wartawati majalah Angkasa, Reni Rohmawati dengan Rusdi yang pernah dimuat di majalah intisari dituturkan bahwa "Airlines saya adalah yang terburuk di dunia. My airlines is the worst in the world, but you have no choice. Makanya ada yang bilang, Lion Air dibenci, tapi dirindu." (https://ekonomi.kompas.com/21/2/2015).

Sangat disayangkan bila alat transportasi yang dibutuhkan rakyat berisiko pada ketiadaan jaminan keselamatan. Apalagi jika lebih mengedepankan keuntungan materi semata. Bukankah menyangkut hajat hidup orang banyak? Sungguh tak layak bila negara abai terhadap keselamatan rakyatnya. Tindakan tegas harus dilakukan agar korban tidak berguguran. Tidak semata bergantung pada penilaian asing. Bagi Indonesia butuh waktu lebih dari 10 tahun untuk berada pada peringkat pertama dalam hal keselamatan penerbangan. Baru di tahun 2016, Federal Aviation Administration (FAA), regulator penerbangan sipil Amerika Serikat, menempatkan Indonesia pada kategori tersebut. Setelah sebelumnya berada pada kategori kedua. 

Hal tersebut karena serangkaian kecelakaan pesawat terbang fatal terjadi pada tahun 2007 sehingga membuat otoritas penerbangan Indonesia dinilai tidak memenuhi syarat regulasi keselamatan penerbangan seperti yang dikeluarkan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO). ICAO sendiri adalah perusahaan penerbangan sipil internasional yang beranggotakan negara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Langkah ini disusul dengan larangan terbang bagi seluruh maskapai penerbangan Indonesia ke Eropa oleh otoritas penerbangan Uni Eropa (UE). Baru secara resmi dicabut pada Juni 2018 (https://m.cnnindonesia.com/31/10/2018).

Betapa ketergantungan pada asing sangat besar. Itulah realita cengkraman sistem kapitalisme yang mendunia. Penerbangan yang menyangkut hajat hidup orang banyak bisa dikuasai oleh segelintir orang. Bahkan dimonopoli asalkan memenuhi kriteria ala mereka. Sangat bertolak belakang dengan sistem Islam. Dalam Islam, pengelolaan penerbangan menjadi tanggung jawab negara bukan swasta. Kepentingan rakyat dan keselamatannya menjadi yang utama. Kalau perlu, negara mampu independen dalam hal teknologi penerbangan serta menjadikan yang terdepan di dunia. Wallahua'lam bisshowab. 



Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.