Tergerusnya Lahan Oleh Perkembangan Zaman

Hot News

Hotline

Tergerusnya Lahan Oleh Perkembangan Zaman




Oleh: Iin Susiyanti, SP

Lahan pertanian adalah lahan yang ditujukan atau cocok untuk dijadikan lahan usaha tani untuk memproduksi tanaman pertanian maupun hewan ternak. Lahan pertanian merupakan salah satu sumber daya utama pada usaha pertanian, namun saat ini sudah banyak lahan pertanian  beralih fungsinya.

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan luas lahan baku sawah nasional 2018 hanya sebesar 7,10 juta hektare. Jumlah itu menyusut ketimbang luas pada lima tahun lalu yang tercatat 7,75 juta hektare. 

Pada 1990, luas lahan baku sawah nasional 8,48 juta hektare. Sepuluh tahun berselang, luasnya turun ke level 8,15 juta hektare. Kemudian pada 2009, luas lahan baku sawah nasional tercatat 8,1 juta hektare (CNBC Indonesia/31/10/2018).

Untuk membatasi konversi lahan pertanian, Pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan diterbitkannya Undang-Undang No.41 Tahun 2009 pasal 73. Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Pasal ini menyebutkan, setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan. Jika tidak sesuai dengan ketentuan maka akan diberlakukan tindak pidana dengan sanksi penjara paling singkat 1 tahun. Paling lama 5 tahun. Denda paling sedikit Rp1 miliar dan paling banyak Rp5 miliar.

Namun Undang-undang  yang diberlakukan tidak mampu menggerus konversi lahan. Karena alih fungsi lahan sawah berjalan secara massive dari tahun ke tahun secara signifikan. Banyak faktor yang mempengaruhi arus konversi lahan baik  intern maupun ekstern.

Faktor intern di antaranya harga pupuk semakin tinggi, bibit semakin mahal. Karena subsidi pemerintah yang tidak merata bahkan dicabut. iklim yang tidak menentu berakibat  gagal panen sehingga petani sering merugi. Tanaman banyak terjangkit penyakit dan hama berdampak hasil panen menurun. Adanya kebutuhan ekonomi yang mendesak. Sehingga mau tak mau petani harus menjual lahan pertanian bahkan  banting setir dengan profesi lainnya. 

Faktor ekstern adanya perluasan jalan, pembangunan jalan tol dari pemerintah, adanya industri/pabrik, pertambangan, tambak, pemukiman baru, pembukaan jalur kereta, dan lain sebagainya.

Ini bukti pemerintah tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Akibat sistem ekonomi yang diterapkan salah. Secara tidak langsung pemerintah ikut andil dalam berkurangnya lahan pertanian. Ini fakta rezim telah gagal dalam mewujudkan ketahanan pangan bagi rakyat. 

Konversi lahan yang terjadi secara terus menerus ini sangat berbahaya terhadap ketahanan pangan. Karena berakibat hasil produksi pangan menurun. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan pangan pemerintah harus import dari negara lain.  Sistem ekonomi suatu negara bisa dikatakan kuat apabila terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rakyat.

Dalam negara Islam, ada kebijakan yang ditempuh  pemerintah dalam meningkatkan produksi pertanian. Yakni dengan  jalan intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi dilakukan dengan berbagai cara yang dapat meningkatkan produktivitas lahan. Sedangkan ekstensifikasi dilakukan dengan berbagai cara yang dapat menambah luas lahan pertanian yang dapat ditanami.

Negara Islam juga akan menjamin kepemilikan lahan pertanian yang diperoleh dengan jalan menghidupkan lahan mati (ihyaul mawat). Hak kepemilikan ini ditetapkan berdasarkan beberapa hadits Rasulullah SAW.
Siapa saja yang telah mengelola sebidang tanah, yang bukan menjadi hak orang lain, maka dialah yang lebih berhak.” (HR. Imam Bukhari dari Aisyah)

Dari fakta sudah jelas solusi yang diberlakukan pemerintah dengan Undang-undang perlindungan lahan  tidak mempan mengatasi arus alih fungsi lahan. Hanya satu solusi yang mampu memecahkan problematika umat saat ini, hanya dengan menerapkan syari'at Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah persoalan alih fungsi lahan mampu teratasi. Wallahu 'alam.



Penulis tinggal di Wulung, Randublatung, Blora
Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.