The Real Common Enemy

Hot News

Hotline

The Real Common Enemy



Oleh: Lulu Nugroho

Menjelang Aksi Bela Tauhid Jilid II yang digelar Jumat (2/11), warganet menggaungkan tagar #JanganSuriahkanIndonesia di linimasa Twitter. Aksi ini merupakan buntut dari pembakaran bendera yang dinilai bertuliskan kalimat Tauhid. Warganet menggaungkan tagar ini karena takut akan terjadi perang saudara di Timur Tengah yang telah terjadi selama puluhan tahun, CNNIndonesia (1/11).

Framing buruk terhadap Islam membuat sebagian umat terpengaruh terhadap opini buruk barat. Islam dianggap sebagai biang dari keonaran. Ketakutan akan terjadinya kasus Suriah di Indonesia adalah hasil dari berpikir  pragmatis. Mereka tidak belajar dari fakta. Tidak melihat akar masalah. Sebab Suriah menderita justru karena tidak adanya penjagaan dari Islam.  

Tidak hanya itu, rombongan aksi pun harus menghadapi kawat berduri di sekitar Istana Negara. Ketakutan penguasa terhadap rakyatnya yang ingin menyampaikan aspirasi umat, yang selama ini seolah tak terdengar. Tidak diterima dengan baik. Dan tidak diselesaikan dengan cara adil. Ironis, betapa sulit rakyat mengemukakan pendapat di negeri demokrasi.

Akan tetapi melihat antusiasme umat Islam yang serta merta bergerak, pada Jum'at 2 November 2018 melawan penistaan terhadap bendera tauhid adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Bagi para pejuang syariah, kerinduan terhadap diterapkannya hukum Allah serasa tinggal sedikit lagi. Tak lama lagi kemenangan umat akan segera diraih.

Memori lama terulang kembali. Sejak aksi besar 'Tolak Pemimpin Kafir' yang terjadi 2 tahun lalu bersatunya umat sungguh di luar dugaan. Beberapa aksi beruntun selalu dipenuhi peserta. Tua, muda datang berkontribusi dalam membela agama Allah. Seperti yang terjadi saat ini, reaksi akibat dibakarnya bendera tauhid di Garut bertepatan dengan hari Santri 22 September 2018.

Akan tetapi yang patut menjadi bahan pemikiran adalah, apakah yang mendasari pergerakan umat? Apakah karena akidah? Terluka sebab simbol Islam dirusak? Ataukah baru sampai pada tahapan gharizah baqa yang tersinggung. Hingga akhirnya ia yang mendorong umat untuk melakukan aktivitas perlawanan. 

Jika baru sampai pada tahapan gharizah baqa, maka perlu dakwah yang berkesinambungan agar pemikiran umat juga digerakkan oleh Islam. Tugas para pengemban dakwah adalah menjaga syu'ur Islam yang ada pada umat, mengarahkan agar selaras dengan Islam. Jika hal itu terjadi, maka perkara kebangkitan tinggal menghitung hari. 

Persatuan umat menjadi suatu hal penting yang selalu dinanti. Tetapi sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Sehingga mereka berusaha meredamnya dengan berbagai cara. Dari yang berupa himbauan, pernyataan, tuduhan, hingga ancaman. Bersatunya umat untuk memperjuangkan kebenaran yang hakiki, membela tauhid, membela seluruh syariat Allah. 

Dikisahkan bahwa Umar pernah berkata kepada Rasulullah, "Bukankah hidup dan mati kita dalam kebenaran?" Rasulullah menjawab, "Memang benar, demi Allah, hidup dan mati kalian dalam kebenaran. "Kalau begitu, mengapa kita sembunyi-sembunyi? Demi yang mengutus anda untuk kebenaran, kita harus keluar!"

Lihatlah betapa beraninya Umar. Sejatinya kaum muslim tidak perlu takut dengan identitas keislamannya. Semestinya bangga terhadap seluruh simbol Islam. Sebab Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Musuh sejati umat adalah pemikiran barat, bukan Islam. Itulah yang harus diperangi.

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَ اَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ
اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَ 
الَّذِيْنَ  يَجْعَلُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۚ  فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

"Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang yang memperolok-olokkan (engkau), (yaitu) orang yang menganggap adanya tuhan selain Allah; mereka kelak akan mengetahui (akibatnya)."
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 94-96).

Setelah turun ayat ini, Rasul segera menyampaikan dakwah secara terang-terangan. Menampakkan keberadaan kutlah kepada masyarakat Makkah. Meski beberapa masih menyembunyikan keislamannya hingga futuh Makkah. Uslub yang dilakukan Pada waktu itu adalah keluar bersama para sahabat dalam 2 kelompok. 

Kelompok pertama dipimpin oleh Hamzah bin 'Abd al-Muththalib dan kelompok keduabdipimpin Umar bin Khaththab. Rasul pergi dengan mereka ke Ka'bah, thawaf dalam barisan yang rapi. Sampailah mereka dalam tahapan dakwah yang baru yaitu daur al 'ilan (tahap terang-terangan) dari yang sebelumnya daur al istikhfa (tahap dakwah sembunyi).

Aksi 211 adalah bentuk kecintaan umat terhadap agamanya. Membela bendera tauhid adalah membela agama Allah. Umat akan senantiasa berada dalam kebenaran selama ia berpegang teguh di dalam Islam. Sebab musuh sejati adalah segala hal yang datangnya dari luar Islam. Seluruh pemikiran rusak yang menjerumuskan umat ke dalam jurang kehancuran.


Penulis: Muslimah Revowriter Cirebon.
Editor: Dwi R

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.