TKW dalam Jebakan Kapitalisme

Hot News

Hotline

TKW dalam Jebakan Kapitalisme




Oleh: Anisah Hanif

Gaji besar, terangkat dari kemiskinan, punya rumah mewah, dan bisa sekalian jalan-jalan ke luar negeri menjadi beberapa alasan seorang wanita menjadi TKW. Di balik keindahan dan kemewahannya, ada banyak kisah sedih, cemas, dan menampar perasaan orang-orang yang masih mau peduli dengan mereka. Sudah menjadi hal yang biasa bagi para TKW, di tengah keterasingannya mereka harus berjuang sendiri menjaga diri dan kehormatannya. 


Tetapi, siapa sangka di balik ketegaran itu, mereka harus selalu bersiap menghadapi berbagai ancaman yang mengintai. Salah satunya adalah hukuman mati. Kabar dieksekusinya TKW asal Majalengka di Arab Saudi  Tuti Tursilawati beberapa pekan yang lalu, sontak membuat sedih orang-orang yang masih punya hati. 

Tuti Tursilawati menerima jenis hukuman mati yang paling berat di Saudi. "Tuti hadd ghillah, yang tertinggi, tidak bisa dimaafkan oleh siapa pun," ujar Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Lalu Muhamad Iqbal di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (30/10). ( https://www.bbc.com/) 

Bagi yang telah mati hatinya dan terkubur rasa empatinya, tidak akan bisa merasakan kepedihan dan kesedihan orang tua yang ditinggalkan. Seandainya mereka telah berkeluarga,  tidak akan bisa merasakan pilunya tangisan anak-anak yang sejak mereka menjadi TKW-pun kasih sayang itu telah terenggut. Tidakkah  kasus-kasus seperti ini disudahi ceritanya? Karena Tuti ini hanya salah satu kasus dari ratusan kasus yang menimpa para TKW.

Fitrahnya para wanita akan tersiksa dengan keterasingannya di negeri orang tanpa orang-orang terkasihnya. Ia akan bahagia di tengah celoteh anak-anak belahan jiwa dan permata hatinya. Ia akan tersanjung dan merasa aman dalam dekapan suami pilihan hatinya.  Mampukah sistem kapitalisme memahami perasaannya? Mengertikah penguasa hari ini dengan jeritan hatinya?  

Bagaimana mungkin harapan untuk  ‘dimengerti’  ini dialamatkan pada penguasa  hari ini. Karena pada faktanya, pemerintah hari ini telah tunduk pada kepentingan kapitalisme global. Kepentingan yang hanya peduli pada angka-angka pertumbuhan ekonomi. Kepentingan yang  tidak peduli dengan jeritan hati para TKW dan orang-orang terkasihnya. 
Pernyataan-pernyataan para petinggi negara menjadi buktinya. Betapa, penguasa hari ini telah lalai dengan fungsinya.  Pemerintah terus berkonsentrasi meningkatkan daya saing kaum perempuan dalam mengisi pembangunan nasional. Keterlibatan dan kontribusi perempuan diyakini akan berdampak pada stabilitas pembangunan itu sendiri. 

 Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menegaskan itu saat kunjungan kerja ke Tiongkok dalam rangka pertemuan Women Leadership W20, Kamis (26/5/ 2016). “Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berusaha untuk terus melibatkan sebanyak-banyaknya perempuan dalam pembangunan nasional, di antaranya memberikan dukungan penuh terhadap perempuan yang berwiraswasta.” (http://mediaindonesia.com/12/11/2018)

Press release Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak dalam acara Voyage to Indonesia’s Seminar on Women’s Participation for Economic Inclusiveness di Surabaya, Kamis 2 Agustus 2018 disampaikan bahwa  seminar ini merupakan bagian dari program Kelompok Bank Dunia-Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional 2018 (AMS 2018). 

Seminar ini memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholder, baik dari dalam maupun luar negeri untuk membahas, bertukar pandangan, dan pengalaman tentang manfaat ekonomi bagi pemberdayaan perempuan. (https://www.kemenpppa.go.id/12/11/2018 )

Hanya Islam yang memahami wanita karena Islam hadir dari Pencipta wanita. Islam tidak pernah dan tidak akan membebani wanita dengan tanggung jawab nafkah . Apalagi disibukkan dengan tanggung jawab meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi. Islam tidak akan membebani dengan tugas-tugas yang bertentangan dengan fitrahnya. Islam menempatkan wanita pada posisi terhormat. 

Wanita adalah tiang negara.  Ia adalah ibu pendidik generasi.  Diri, nafkah, dan kehormatannya dalam jaminan empat lelaki, yaitu ayahnya, suaminya, anak laki-lakinya, dan saudara laki-lakinya. Kehadiranya tidak pernah dinilai dengan  harga murah sebagimana kapitalisme melihat. Kapitalisme hanya melirik dengan kacamata materi. Kecantikan, kemolekan, kemulusan kulit, dan kemahiran meraup rupiah itulah yang menentukan derajat wanita. 

Naif dan menyakitkan ! Slogan-slogan menyesatkan seperti ‘TKI-TKW pahlawan devisa’,  wanita pendongkrak pertumbuhan ekonomi yang terus didengungkan harus ditolak. Jangan percaya dengan slogan-slogan ‘ala’ Kapitalisme! Kembalikan wanita pada fitrahnya menjadi istri dan ibu pendidik generasi sebagaimana Sang Pencipta menitahkannya.


Penulis adalah Pendidik, anggota Akademi Menulis Kreatif
Editor: Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.