Agar Anak Menjadi Salih Di Era Digital

Hot News

Hotline

Agar Anak Menjadi Salih Di Era Digital





Oleh : Zahida Ar-Rosyida

Zaman now adalah zaman serba canggih, zaman dimana dunia serasa dalam genggaman tangan. Arus informasi sangat cepat dan mudah diperoleh. Semua serba instan dan mudah dengan meningkatnya teknologi. Panduan mendidik anak untuk menjadi salih di zaman sekarang juga mudah. Tinggal buka youtobe langsung ilmu parentingnya diterapkan ke anak.

Bunda sholihah sebenarnya Alquran sebagai pedoman, telah memberikan panduan untuk mencapai tujuan tersebut. Bunda tidak perlu mencari referensi dari luar Alquran.

 Anak salih adalah dambaan bagi setiap orang tua, bahkan ketika ditanya ingin anak yang bagaimana? Maka jawabannya ingin memiliki anak yang salih. Sebenarnya apa pengertian anak salih dan bagaimana gambarannya?

Salih secara bahasa berarti segala sesuatu yang baik. Kebalikan dari salih adalah fasad yang berarti segala sesuatu yang rusak atau buruk.

Menurut para ulama salih itu adalah Alqoim bima 'Alaihi min huquqillah wa huquqi al ibad. Yaitu orang yang memenuhi kewajibannya terhadap Allah dan sesama manusia. Gambaran anak yg salih, Allah Subhana wa taala telah menjelaskan dalam surat Luqman ayat 13-19, yaitu nasihat Luqman terhadap anaknya.

Jika dikaji secara keseluruhan, ada 2 perkara penting yang dinasihatkan Luqman kepada anaknya.
1) Menyangkut persoalan aqidah, Luqman menasehati putranya agar tidak mempersekutukan Allah  SWT (ayat 13). Ia pun mengingatkan anaknya bahwa Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu,di langit maupun di bumi,akan membalas semua perbuatan mamusia,seberat apapun amal perbuatan itu( ayat 16)
2) Berkenaan dengan pelaksanaan amal yg menjadi konsekuensi tauhid, baik menyangkut hubungan manusia dengan diri sendiri, maupun dengan sesama manusia. Pada ayat 17 Luqman memerintahkan anaknya untuk mendirikan salat (hubungan manusia dengan Al Kholik), melakukan amar ma'ruf nahi mungkar (hubungan manusia dengan sesamanya), dan meneguhkan sifat sabar dalam jiwanya (hubungan manusia dengan dirinya sendiri).

Luqman juga mengingatkan anaknya untuk menjauhi segala hal yang dilarangan Allah SWT. Sifat sombong dan perilaku angkuh adalah di antara perbuatan yang harus dijauhi (ayat 18). Sebaliknya sifat yg harus dilekatkan adalah melunakkan suara (ayat 18).

Maka dapat disimpulkan semua nasihat Luqman itu berorientasi pada keselamatan Dien anaknya. Ia menginginkan anaknya menjadi manusia yang taat kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

Dari nasihat Luqman tersebut setidaknya ada 4 gambaran anak yang salih, di antaranya :
1) Memiliki akidah yg lurus, menghindari segala jenis kesyirikan
2) Beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala
3) Berbakti kepada orangtua
4) Berakhlak mulia

 Beberapa tips agar memiliki anak salih di era digital:

Pertama, berdoa. Berdoa merupakan bukti tawakal kita sebagai hamba. Berdoa agar dikaruniai keturunan yang salih merupakan permintaan yang harus selalu tersemat dalam setiap doa, sebagaimana Nabi Ibrahim As. Berdoa agar dikaruniai keturunan yang salih,

“ Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk salih” (Q.S. Ash-Shaffat : 100).

Lalu Allah Swt. mengabulkannya dengan dilahirkannya Nabi Ismail As. Dan spektakulernya nabi-nabi setelahnya merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim As.

Kedua, memberikan teladan berpola pikir dan sikap Islami sejak dini. Bisa dengan perilaku kita atau menceritakan kehidupan orang-orang  saleh pada generasi awal Islam. Anak-anak yang tergolong dalam tahap pertumbuhan memiliki tindakan yang sangat luar biasa. Kita harus mulai memberikan contoh yang positif terhadap anak sejak kecil.

Ketiga, orangtua harus selalu belajar dan menuntut ilmu parenting dari sumber khazanah pemikiran-pemikiran Islam,bukan ilmu parenting yang bersumber dari pemikiran barat yang sekuler.

Keempat, terus evaluasi, introspeksi dan perbaiki pola pengasuhan pada anak agar tidak keluar dari apa yg digariskan Islam.

Kelima, duet parenting. Ayah bunda harus kompak dalam visi mendidik anak dan menjalankan pengasuhan. Jangan bebankan tugas mengasuh dan mendidik hanya pada ibu. Ayah jg harus proaktif memantau tumbuh kembang dan kepribadian anaknya. Kompak dalam berkomunikasi dengan pasangan untuk mencapai target pendidikan.

Keenam. memilih sekolah yang kurikulumnya berbasis akidah Islam dan guru yang berkepribadian Islam.  Sekolah dan guru akan menjadi partner orangtua  untuk membentuk kepribadian Islam bagi  anaknya sehingga saling bersinergi.

Ketujuh, pastikan makanan yang diberikan kepada anak-anak kita yang telah jelas halal dan toyyibnya. Karena makanan memiliki peran penting dalam pertumbuhan anak. Jika makanan yang masuk dalam perut anak kita masih dalam status syubhat maka akan mempengaruhi pola pikir anak kelak setelah tumbuh dewasa.

Kedelapan, ajarkan pada anak untuk tidak menjadi salih bagi dirinya sendiri, tetapi juga salih bagi lingkungan dan kehidupan. Sehingga anak terdorong dan terbiasa untuk peduli urusan umat, melakukan perbaikan jika menemukan kerusakan di tengah pergaulan dan  amar ma' ruf nahi mungkar sejak dini.

Semoga kita termasuk kategori orang-orang yang salih.  Kelak diberikan keturunan yang salih, yang mampu mengelola bumi berdasarkan wahyu Allah sehingga menjadi rahmat bagi seluruh makhluk. Aamiin


Penulis  Pengelola Homeschooling Tahfidz, Mutiara Qur'an Malang

Editor Lulu.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.