Ancaman HIV/Aids Pada Keluarga

Hot News

Hotline

Ancaman HIV/Aids Pada Keluarga





Oleh: Choirin Ummu Mush'ab (Pemerhati Keluarga Kota Batu)

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, prevalensi AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) pada ibu rumah tangga mencapai 14.721 jiwa. Jumlah ibu hamil di Indonesia berjumlah 5.291.143 jiwa, sementara yang menjalani tes untuk HIV (Human Immunodeficiency Virus) hanya sekitar 13 persen atau 761.373. Ibu hamil yang positif HIV sebanyak 2.955 orang dan yang mendapat penanganan atau mengonsumsi obat hanya 893 orang. (DetikHealth.com,29/11/18)

Data lain menyatakan, sebanyak 1.320 ibu hamil menjalani pemeriksaan di 12 puskesmas dan 7 rumah sakit di Kota Malang. Hasilnya, 20 ibu hamil dinyatakan positif HIV. Demikian menurut data Dinas Kesehatan Kota Malang hingga Agustus 2018. (JawaPos.com, 30/11/18) Kota Batu sendiri menyumbang 45 penderita HIV/Aids pada tahun 2016 (Data Kemenkes Kota Batu).

Data Kementerian Kesehatan juga mencatat jumlah HIV/AIDS pada anak usia 0-4 tahun terus meningkat dari 2010 hingga 2013. Selain itu jumlah kasus infeksi ini juga meningkat pada anak usia 5-14 tahun. Bila membandingkan data sebelumnya pada anak usia 0-4 tahun, pada 2010 terdapat 229 anak HIV dan 183 di antaranya AIDS. Pada 2011, yang HIV menjadi 513 dan AIDS menjadi 159. Pada 2012, anak infeksi HIV 649 dan AIDS sebanyak 234. Sedangkan pada 2013, HIV meninggi hingga 759 dan AIDS sebanyak 154. Data terakhir pada Maret 2014 ada 110 anak HIV.

Jumlah penderita HIV ini juga bukan hanya meningkat pada balita. Karena data yang sama menunjukkan angka penderita HIV pada anak usia 5-14 tahun juga tinggi. Bagaimana tidak, di 2012 dari 4.266 anak yang dites HIV ada 247 ternyata yang menderita HIV positif. Angka ini meningkat drastis pada 2013 sebab dari 7.885 anak yang dites HIV justru ada 316 yang HIV positif. Data terakhir hingga Maret 2014, dari 1.200 anak yang mengikuti tes HIV, ada 48 di antaranya terinfeksi HIV positif. (Liputan6.com/260414).

Sungguh mengerikan bukan? Ibu dan anak yang harusnya mendapat jaminan atas kesehatannya malah menjadi korban. Terlebih, banyak yang menilai, peningkatan ini diakibatkan oleh laki-laki yang melakukan seks berisiko sehingga menularkan penyakit yang belum ditemukan obatnya ini pada istri dan anaknya.

Akar Masalah
Akar masalah peningkatan jumlah penderita HIV/Aids ini adalah sekulerisme. Pemisahan antara agama dari kehidupan ini telah membawa dampak buruk bagi masyarakat. Budaya hidup bebas tanpa batas telah menjadikan laki-laki dan perempuan masuk ke jurang zina. Bahkan perilaku penyuka sesama jenis yang notabene dilaknat Allah malah dilegalkan. Akhirnya, penyakit ini mudah menyebar ke berbagai arah dan menelan banyak korban.

Sebenarnya telah ada upaya dari pemerintah untuk memberantas penyakit ini. Seperti yang dicanangkan pada peringatan HIV/Aids pada awal Desember tahun 2018 yang mengangkat tema, “Kenali Statusmu!” (Know your status!) bertujuan untuk mencapai 2 hal, yaitu:
Pertama, mendorong semua orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka melalui pemeriksaan di laboratorium klinik, sehingga dapat langsung mengakses layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV.
Kedua, mendesak pembuat kebijakan kesehatan untuk membentuk  agenda “Sehat untuk Semua” (health for all) tentang HIV, tuberkulosis (TB), hepatitis dan penyakit tidak menular yang terkait.

Solusi ini terlihat tidak mengarah pada akar persoalan yakni perilaku seks bebas yang dilakukan banyak pihak. Masyarakat dan pemerintah seakan bersepakat bahwa HIV/Aids cukup diobati. Seandainyapun ada upaya pencegahan, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Contohnya: Pembagian kondom gratis pernah dilakukan. Hidup bersama ODHA (Orang dengan HIV/Aids) telah dicanangkan. Memeluk para penderita juga dilakukan. Pengobatan seumur hidup digalakkan. Namun, nyatanya tidak mampu menyelesaikan permasalahan pelik ini.

Islam Memberikan Solusi Tuntas Penyakit HIV/Aids
Slogan "Mencegah lebih baik daripada mengobati" dimiliki oleh Islam. Sebagai agama yang sempurna, Islam telah memiliki aturan yang tegas untuk mencegah merebaknya HIV/Aids. Islam mengharamkan zina. Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al Isro':32) .

Islam juga telah memberi tuntunan agar Kaum Hawa dan Kaum Adam tidak berdua-duaan tanpa disertai mahrom. Rasulullah bersabda:
“Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam hadits yang lain disebutkan: “Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.”(HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Tak hanya memberiman pencegahan, Islam pun memberikan sanksi tegas pada para pelaku zina. Allah berfirman:
“Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah (cambuklah) masing-masing dari keduanya seratus kali dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya, mencegah kamu untuk menjalankan agama (hukum) Allah jika kamu beriman kepada Allah atau hari kemudian; dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur:2)

Rasulullah SAW bersabda:
“Ambillah dariku! ambillah dariku! Sungguh Allah telah menjadikan bagi mereka jalan, yang belum menikah dikenakan seratus dera dan diasingkan setahun.” (HR Muslim).
Ketegasan hukum Islam ini terbukti mampu mencegah pergaulan bebas penyebab utama HIV/Aids. Islam pun memberikan solusi bagi para penderita. Negara Khilafah yang memegang Islam sebagai asasnya akan berupaya dengan segenap daya upaya untuk menemukan obat penyakit mematikan ini. Negara Islam tidak akan membiarkan para penderita hidup besama orang lain yang memilik kemungkinan menularkan HIV/Ada. Mereka akan dikarantina oleh negara tanpa diskriminasi

Solusi Islam inilah yang harusnya diambil oleh negara. Bukan, malah sibuk melakukan pendataan dan pengobatan secara parsial. Atau sekadar memperingatinya dengan berbagai slogan tiap tahunnya. Yang hal ini ternyata tak mampu menghapus jumlah penderitanya malah terkesan jumlahnya terus bertambah.

Editor  : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.