Cantik, Tak Perlu Kosmetik

Hot News

Hotline

Cantik, Tak Perlu Kosmetik



Oleh : Siti Nurhalimah, S.Pd 



Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kendari menyita ribuan kosmetik ilegal di empat Kabupaten di Sulawesi Tenggara. Bukan hanya di pasar tradisional, kosmetik ilegal pun sudah beredar di pusat perbelanjaan modern. Kepala Seksi Penindakan BPOM Kendari, Wahyuddin Muis mengatakan era digitalisasi membuat produsen kosmetik ilegal cenderung memasarkan produknya lewat aplikasi online shop “produk rumahan yang diracik oleh orang yang bukan lulusan kesehatan dan dijual secara online”, kendaripos.co.id, (01/12/2018).


Kolaka Timur menjadi Kabupaten paling banyak ditemukannya kosmetik berbahaya yakni 2.017 pieces dengan nilai ekonomi Rp.44,6 juta. Urutan kedua yaitu Kota Kendari. Peredaran kosmetik racikan itu pun mulai mengkhawatirkan di Kabupaten Konawe dan konawe Selatan. Pada operasi penertiban tahap II itu yang paling banyak ditemukan adalah kosmetik pemutih wajah dan kulit.


Berburu Kecantikan Lewat Polesan
Cantik, memang menjadi impian para wanita kosmetik aktor masih belia bahkan dewasa. Tak terkecuali ibu rumah tangga. Slogan "tak cantik, tak pede" jadi magnet membius untuk mengejar kecantikan lahiriyah. Hingga tak jarang menabrak rambu-rambu syariat demi mendapat gelar cantik yang tak mungkin abadi. Terlebih lagi bagi wanita-wanita karier yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di luar rumah, kosmetik menjadi menu wajib yang tak boleh ditinggalkan. Stigma cantik yang cenderung identik dengan bentuk fisik pun, kian  menjadikan kosmetik sangat penting sebagai penunjang penampilan.


Kosmetik berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. Di era ini kosmetik merupakan alat yang tidak dapat dipisahkan dari wanita. Bukan sekedar pelengkap tampil cantik dan indah dipandang mata, kosmetik bahkan kerap membuat wanita tampak lebih muda dari usianya. Hal ini pun seringkali dipertimbangkan sebagai acuan dalam hal pekerjaan.


Sehingga tak sedikit dari kalangan wanita yang memburu kosmetik-kosmetik di pasaran demi tampil cantik. Sehingga kosmetik pun kini bukan hanya sebagai riasan wajah semata, namun sudah menjadi kebutuhan hidup yang harus dipenuhi bagi para wanita.  Oleh karena itu kini hal tersebut dijadikan para pengelola makeup untuk memproduksi kosmetik dengan jumlah yang cukup fantastis, tanpa memperhatikan kembali bahan-bahan di dalamnya.



Apakah kosmetik tersebut aman bagi para pelangan (konsumen) ataukah tidak.  Karena kini kosmetik bukan lagi menjadi alat rias semata,  namun, sudah menjadi kepentingan ekonomi. Olehnya itu para pemilik modal mulai memanfaatkan hal tersebut untuk  membuka seluas-luasnya keran pasar kosmetik di pasar-pasar tradisional dan modern. Bahkan tak ketingalan juga para pedangan kecil dan usil yang juga ingin meraup keuntungan besar dengan meracik berbagai bahan-bahan untuk kosmetik tersebut, karena tingginya permintaan kosmetik di pasaran.


Kosmetik dalam Pandangan Islam
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan” (HR.Muslim).


Allah mencintai kebersihan dan keindahan. Wanita yang mampu menjaga dirinya, menjaga kebersihan dan mempercantik diri dengan segala sesuatu yang halal untuk tujuan ibadah, seperti menyenangkan suami (bukan orang lain), tentu lebih mulia daripada wanita yang tampil berantakan.


Seperti hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad Abu Daud dan Nasai, bahwa seorang wanita dilarang berhias untuk orang lain selain suaminya, maka Allah akan membakarnya dengan api neraka karena berhias untuk selain suaminya adalah termasuk tabaruj.


Demikian pula dengan Firman Allah swt:
وﻻﺘﺑﺮﺟﻦﺘﺑﺮﺝﺍﻠﺟﮭﻠﯿﺖﺍﻠﻮﻠﻰ
“dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku (bertabarujj) seperti jahiliyah terdahulu” (Q.S. Al-Ahzab:33)


Wanita boleh menggunakan kosmetik dari bahan yang halal dan aman (tidak berbahaya) dan tidak pula berlebih-lebihan dalam berhias. Memakai kosmetik pun harus tahu kapan, di mana dan untuk siapa. Kapan, yaitu saat hendak menyenangkan hati suami. Di mana, tentu saja di dalam rumah bukan di tempat-tempat umum. Untuk siapa, sudah tentu untuk suami. Begitu pula dalam memilih kosmetik, harus memastikan yang berasal dari bahan yang halal dan aman.


Jika perolehan kosmetik dari bahan yang tidak aman tentu sangat berbahaya, bahkan dapat menimbulkan kerusakan pada kulit, wajah, serta organ-organ tubuh pengguna kosmetik tersebut. Kosmetik yang beredar di empat Kabupaten di Sultra umumnya adalah pemutih dan biasanya bahan pemutih berasal dari zat karsinogenik yang dalam jangka pendek dosis pemakaian yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal bahkan kanker.


Peraturan Menteri Kesehatan RI No.445/MENKES/PER/V/1998 telah melarang penggunaan merkuri inorganik dalam krim pemutih. Demikian juga BPOM melalui siaran pers BPOM No.KH.00.01.3352 tahun 2006, telah memperingatkan masyarakat akan adanya 27 merk kosmetik yang mengandung bahan yang dilarang. Bolehnya menggunakan kosmetik, tentu menjadi sebuah keharusan jeli dan penuh kehati-hatian dalam memilih kosmetik yang hendak digunakan mengingat dhoror yang mungkin akan ditimbulkan.


Solusi Islam Terkait Peredaran dan Penggunaan Kosmetik
Menggunakan kosmetik bagi wanita hukumnya boleh, selama memenuhi syarat-syaratnya. Tapi hukumnya menjadi haram jika kosmetik yang dipakai menimbulkan bahaya (dhoror). Saat ini wanita memakai kosmetik tidak hanya untuk menyenangkan suami tetapi lebih kepada ingin pamer, tuntutan pekerjaan dan lifestyle demi meraih pundi-pundi rupiah tanpa peduli apakah Islam membolehkan atau melarang aktivitas dalam meraih rupiah tersebut.


Berpenampilan menarik menjadi daya tarik hingga lupa berpenampilan syar’i. Wanita tak wajib bekerja, namun Ia boleh bekerja dengan memperhatikan syarat-syarat tertentu, karena wanita istimewa bak perhiasan dunia.


Dalam sistem saat ini tidak menjamin terpenuhinya ekonomi keluarga sehingga mengharuskan wanita bekerja. Dengan membuka lapak-lapak offline maupun online, menjual produk-produk berbahaya pun seolah wajar-wajar saja. Tanpa perduli efek bagi konsumennya. Negara pun tak mampu mencegah ide-ide salah perusak tatanan kehidupan sebab masih mengaharapkan pajak untuk menambah kas negara.


Peredaran kosmetik ilegal yang semakin merajalela bukti bahwa negara tak mampu memberi pengawasan produk-produk rumahan. Juga lemahnya kontrol masyarakat karena berdalih “kasihan, hal itu dilakukannya demi bertahan hidup” seolah tak ada cara lain untuk bertahan dari persaingan ekonomi. Konsumen pun tak mampu membentengi diri karena kurangnya pemahaman kandungan kosmetik yang digunakannya dan demi tetap tampil cantik. Karena cantik baginya adalah kulit putih dan wajah merona, bukan cantik alami dan bersyukur atas nikmat dari Allah.


Ekonomi Islam tentu menjamin bersihnya produk-produk dari bahan-bahan berbahaya dan haram. Berupaya menyediakan lapangan pekerjaan bagi lelaki sehingga wanita tak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tak perlu pula mengunakan kosmetik berbahaya hanya demi tuntutan pekerjaan. Cantik tak perlu dengan sesuatu yang berbahaya, melainkan dengan menambah ketakwaan kepada sang Pencipta.
Wallahu’alam bi showab.



Siti Nurhalimah, S.Pd (Praktisi Pendidikan Smp 40 Konawe Selatan)


Editor Lulu

Ilustrasi Pinterest.com


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.