Demi Suara, Orang Dengan Gangguan Jiwa Pun Memilih

Hot News

Hotline

Demi Suara, Orang Dengan Gangguan Jiwa Pun Memilih


Penulis : Siti Fatimah


Dalam Sistem Demokrasi siapapun berhak untuk menggunakan hak pilih dalam pemilu. Siapapun orangnya asalkan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh penyelenggara, di antaranya yaitu Warga Negara Indonesia (WNI), berusia genap 17 tahun atau lebih saat memilih, pernah atau sudah menikah.

Namun, ada juga warga negara yang tidak berhak untuk memilih dikarenakan kondisi tertentu. KPU mengatur bahwa larangan memilih diberikan kepada mereka yang memiliki gangguan jiwa atau gangguan mental, seseorang yang dicabut hak pilihnya berdasarkan pada putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap, dan  Anggota TNI atau POLRI.

Akan tetapi, akhir-akhir ini muncul wacana bahwa orang gila atau bisa juga disebut ODGJ akan diberikan hak untuk memilih. Secara logika sungguh tidak masuk akal, orang gila diberikan kepercayaan untuk menetapkan siapa wakil rakyat atau pemimpin yang ia percaya. Sementara dia sendiri kemungkinan tidak memiliki kemampuan yang baik dalam berfikir seperti orang lain pada umumnya.

Orang dengan gangguan mental adalah orang yang kehilangan kemampuan akalnya untuk memahami suatu kejadian atau peristiwa sehingga dikhawatirkan ia tidak memiliki kecakapan untuk mempertimbangkan dan menganalisa calon yang memiliki kriteria mumpuni untuk dipercayai mewakili urusan rakyat, sebagai pemimpin sebuah negara.

Pro dan kontra pun bermunculan terkait wacana tersebut. Kebijakan ini dinilai memperlebar peluang orang-orang tertentu yang berkepentingan untuk melakukan tindakan kecurangan.

Sesungguhnya, Rasulullah SAW telah memberikan semacam petunjuk terkait hukum orang gila.
Rasulullah SAW bersabda;

رفع القلم عن ثلاثة : عن النائم حتى يستيقظ ، وعن الصبي حتى يحتلم ، وعن المجنون حتى يعقل

"Diangkat kewajiban atas tiga kelompok: orang tidur sampai dia terbangun, anak kecil sampai dia baligh, dan orang gila sampai dia waras."
(HR.Ahmad)

Berdasarkan hadits di atas, maka jelas bahwa orang gila di dunia tidak dibebani tanggung jawab menjalankan ibadah atau hukum syara. Orang gila memiliki status sama seperti anak kecil yang belum baligh sebab mereka tidak memiliki akal.

Itulah gambaran wajah Demokrasi. Sistem yang menjerat rakyat melalui kekuasaan para penguasanya. Segala macam cara akan ditempuh meskipun dengan jalan yang tidak lazim dan melawan logika sekalipun. Memberi hak pilih kepada penyandang gangguan jiwa untuk mendulang suara guna memperoleh jabatan atau kekuasaan. Sebagai jalan untuk memperkaya diri dan golongannya. Menghalalkan apapun meski rakyat yang menjadi korban ambisi sang pengusung Demokrasi.

Umat seharusnya memahami bahwa pokok dari segala masalah yang ada di negeri ini adalah akibat dari sistem rusak Demokrasi. Sistem yang berorientasi pada kekuasaan untuk memperkaya diri. Tidak ada sama sekali rakyat mendapatkan kesejahteraan kecuali segelintir saja. Tidak ada keberkahan hidup di dalamnya apa lagi keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hanya Islam dan syari'at yang mampu mengatasi segala bentuk problematika kehidupan. Islam yang rahmatan lilalamin akan terwujud dengan menerapkan hukum-hukum Allah SWT yang Haq selaku Pencipta segenap manusia dan alam semesta. Wallahu 'alam bish showab.


Siti Fatimah (Pemerhati Sosial dan Generasi)

       Editor Lulu

        lustrasi pinterest.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.