“Ekonomi Digital Merusak Life Style Generasi”

Hot News

Hotline

“Ekonomi Digital Merusak Life Style Generasi”


Oleh: Astuti Djohari


Memasuki era revolusi industri 4.O dimana terjadinya perubahan besar di bidang industri, ekonomi, teknologi  dan lain-lain, memberikan dampak pada tatanan sosial dan budaya di setiap aspek kehidupan masyarakat yang turut dipengaruhi oleh revolusi  industri. Di zaman now hampir semua kalangan dari anak hingga orang tua sudah tidak asing lagi menggunakan gadget bahkan lifestyle-nya pun mengikuti gaya idolanya seperti  para pencinta artis korea. Mereka menamakan fans club-nya “K-popers”.

Tidak hanya itu, mereka bahkan rela menonton drama dari Korea tersebut sampai berjam-jam sungguh keadaan yang sangat ironi. Dan baru-baru ini publik sempat dihebohkan dengan salah satu  perusahan dagang online yang mengadakan acara milad-nya dengan mengundang salah satu girl band yang sangat terkenal dari Negeri Ginseng dan menampilkan tarian yang erotis dan kostum yang sangat minim bahan.

Industri K-pop yang mengguncang dunia dengan tren global K-pop/korean Wave menghasilkan pertumbuhan perekonomian yang menggiurkan, juga dilirik oleh penggerak ekonomi Tanah air sehingga tidak heran lagi hampir semua kalangan anak-anak maupun remaja kiblat fashion maupun food-nya mengarah ke negeri tersebut.

Resminya Blackpink menjadi Brand Ambassador Shopee tidak selalu menimbulkan respon positif di kalangan masyarakat. Pada Jumat (7/12/2018) muncul petisi dengan judul “Hentikan Iklan Blackpink Shopee” yang dibuat oleh Maimon Herawati untuk memprotes iklan Shopee yang dibintangi Blackpink.
Kontroversi iklan marketplace shopee ini kembali menjadi potret buram regulasi terkait penyiaran di tanah air. Melahirkan krisis rasa aman bagi orang tua dan pendidik. Deman K-pop membuahkan generasi yang berpikir rusak yang orientasi kehidupannya hanya dunia semata. Ideologi kapitalisme sekuler terbukti melahirkan perpecahan sudut pandang di tengah masyarakat. Antara K-popers dan pendukung Maimon Herawati.

Di satu sisi ada golongan yang mengagungkan kebebasan dan fanatik buta yang beranggapan bahwa yang dilakukan oleh fans mereka itu tergolong biasa-biasa saja dengan melakukan pembenaran. Di sisi lain pula ada sebagian masyarakat yang peduli terhadap norma dan syariah. Bukannya merenungi apa yang disampaikan oleh Maimon Herawati malah menyerang balik dengan membuat petisi 'Usir Maimon dari Indonesia'.

Maimon Herawati diberi julukan sebagai pemecah belah bangsa. Ironi di negeri kapitalisme sekuler. Siapa yang melakukan ammar ma’aruf nahi munkar dituduh sebagai pemecah belah, dituduh sebagai intoleran dsb. Karena sejatinya zaman now yang salah dibenar-benarkan dan yang benar dicari kesalahannya.
 Dalam dunia periklanan artis korea kerap menjadi bintang iklannya, termasuk dalam iklan yang masuk ke Indonesia di mana Shopee memilih Blackpink sebagai bintang iklannya. Ironisnya, iklan tersebut diputar berulang kali pada setiap media massa yang ada, seperti televisi dan youtube. Yang lebih mencengangkan iklan tidak patut seraya mengabaikan nilai moral dan syari’ah tersebut diputar setiap beberapa menit disuatu film anak berjudul “Tayo”.

Iklan Shopee yang menggunakan grup Korea Selatan, Blackpink ini, sering diputar pada program anak-anak. Satu film anak-anak bahkan memuat iklan ini setiap beberapa menit seperti Film Tayo di RTV, Jumat (7/12). Apa pesan yang hendak dijajalkan pada jiwa-jiwa yang masih putih itu? Bahwa mengangkat baju tinggi-tinggi dengan lirikan menggoda akan membawa mereka mendunia? Bahwa objektifikasi tubuh perempuan sah saja?

Naasnya stasiun televisi swasta santer menampilkan acara tersebut hingga menuai banyak kontroversi lantaran secara tidak langsung tontonan tersebut dapat menstimulus anak-anak dan kalangan remaja untuk bertindak di luar moral dan syariah. Mereka tidak lagi mengenal siapa itu ummul mukmin ibunda Khodijah r.a mereka tidak lagi mengenal siapa itu Siti Aisyah karena standar kecantikan mereka dilihat dari perempuan yang berpakaian sexy dan  make up yang nyentrik.

Dan remaja sekarang kehilangan identitas mereka sebagai seorang muslimah. Pun kalo mereka mengenakan hijab tapi sungguh jauh dari kata layak karena mereka menggunakan hijab ½ jahiliyyah seperti yang sudah diprediksi Rasulullah 1400 tahun yang lalu
“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, satu kaum yang selalu bersama cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya mereka memukul manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan dengan melenggak-lenggok menimbulkan fitnah (godaan). Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak pula mencium baunya, dan sungguh bau surga itu bisa tercium dari jarak demikian dan demikian”. [HR. Muslim dari Abu Hurairahradhiyallahu’anhu], naudzubillahminzalik.

Lazim dalam alam kapitalisme sekuler, objektifikasi tubuh perempuan dijadiakannya alat tukar  yang sangat menggiurkan dengan memberikan peran pada mereka sebagai Brand Ambassador beragam produk dan nilai jualpun meningkat seiring menariknya penampilan fisik perempuan tersebut.

Kecantikan versi Barat selalu diberitakan tidak hanya di televisi saja, tetapi hampir semua sosial media seperti youtube, instagram maupun facebook juga menjadikan kecantikan versi Barat sebagai perbincangan hangat. Bahkan sempat menjadi trending topic di youtube. Sehingga tidak heran lagi remaja sekarang lebih mementingkan penampilan dzohir dan rela membeli krim kecantikan dengan harga jutaan bahkan ada yang rela melakukan operasi plastik dengan tujuan mempercantik diri seperti idola mereka.

Padahal dalam Islam standar kecantikan seorang perempuan bukan dilihat dari wajahnya, melainkan agamanya. Hal itupun diungkapkan  oleh Rasullullah saw. dalam sabdanya “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.” (Dikutip dari kitab mukhtar al-hadits an-nabawi hal 63 n0 21.

Bahkan mulianya perempuan dalam Islam sehingga bidadari pun iri dengan perempuan yang beriman. Dan seorang perempuan jika keimanan sudah tertancap kuat dalam jiwa ia tidak akan tergiur dengan kenikmatan dunia. Sejatinya Islam memuliakan perempuan dengan menutup aurat sesuai tuntunan syari bukan malah mengikuti idola yang sesat. 

Dalam daulah Islam peran media menggambarkan bagaimana pentingnya media dalam hal edukasi, menebarkan nilai luhur dari dakwah. Tapi di era kapitalis media menjadi sarana pencitraan,sarana menghalalkan hal-hal batil sehingga tidak heran sex bebas terjadi di kalangan remaja. Miras menjadi lumrah. Hanya dengan syariat Islam dalam bingkai khilafah, pengaturan media akan terkondisikan dengan sebagaimana mestinya. Bukan untuk sarana komersialisasi atau eksploitasi melainkan mencerdaskan dan memberikan informasi yang unggul.
Wallahualam bisowab.

Astuti Djohari (Mahasiswi Stkip Kusuma Negara)

Editor Lulu

Ilustrasi pinterest.com


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.