Hakikat Reuni 212

Hot News

Hotline

Hakikat Reuni 212





Oleh, Puji Ariyanti
(Pemerhati generasi)

Jutaan warga dari berbagai wilayah terus berdatangan sejak malam tadi ke Monumen Nasional (Monas) untuk mengikuti acara Reuni Akbar 212, Ahad (2/12) dini hari. Peserta Reuni Akbar 212 mulai mengikuti rangkaian kegiatan mulai pukul 03.00 WIB dari salat tahajud bersama, subuh berjamaah, dilanjutkan dengan zikir dan istighosah kubro, hingga waktu zuhur tiba (Jakarta, Dakta.com).

Dilansir TribunWow.com pada acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang tayang di tvOne, Selasa (4/12/2018), Fadli Zon mengungkapkan jumlah peserta berdasarkan jumlah HP/ IMEI pada saat kejadian Acara Reuni 212 berkisar 13,4 juta jiwa.

Reuni 212 tahun 2018 telah berakhir, kemegahan dan ragam cerita di dalamnya sayup-sayup akan menghilang, namun ghirah umat yang tetap membuncah bersama segenap pernak-pernik langkah  perjuangan dalam menghadiri perhelatan akbar yang mampu menyatukan visi kaum muslim. 

Dalam reuni 212 tercipta tenggang rasa dan toleransi antar umat beragama. Semua saling ramah, saling menjaga adab, saling menebar kebaikan dengan saling memberi dan menerima. Semua itu adalah sebuah pembuktian bahwa muslim itu memang ramah, tanpa kekerasan yang selama ini sering disematkan pada mereka. 

Kehadiran ribuan umat Islam di Monas dua desember kemarin dipicu akibat tercabiknya hati mereka atas penodaan agama, kemudian kembali terjadi pembakaran bendera Tauhid oleh oknum ormas, pelakunya hanya dikenai hukuman 10 hari penjara. Tanpa disadari kecewa yang dialami kaum muslim mampu menyatukan semangat atas ketidakadilan hukum yang terjadi.

Berkumpulnya kaum muslimin dari seluruh pelosok negeri adalah bukti bahwa ukhuwah Islamiyah di antara kaum muslimin tetap menggelora. Kehadiran mereka di reuni 212 bukti kerinduan mereka akan sebuah sistem yang di dalamnya mengandung kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

Umat Islam meminta kepada penguasa, hukum harus ditegakkan bagi  pembakar bendera Tauhid dengan hukuman yang setimpal. Hendaknya penguasa menghentikan kriminalisasi terhadap ulama, dan menghentikan sebutan radikal terhadap Islam.

Sejatinya bendera tauhid adalah bendera pemersatu umat Islam. Di bawah panji-panji Rasulullah kaum muslim bersatu dalam satu komando, satu ikatan La ilaha illallah dan satu tujuan menerapkan hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan agar tercipta rahmat seluruh alam.

Jika seluruh umat mampu bersatu tanpa sekat mahzab, kelompok atau warna kulit maka tidak ada yang sulit menegakkan  hukum-hukum Allah. Menerapkan hukum Allah adalah hakiki, karena di situlah seluruh pengaturan kehidupan manusia bermuara dengan penuh keteraturannya. 

Keadilan tetap terjaga tanpa memandang si kaya bahkan si miskin, ras, suku, agama bahkan semua berhak mendapatkan kehidupan layak dan perlindungan dari negara. Islam adalah sebuah sistem yang mengedepankan konsep keberkahan.  

Seperti dalam firman Allah SWT,
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. " (QS 7. Al A'raaf:96)

Harusnya disadari kebangkitan umat Islam di masa lalu terbukti mampu menciptakan kemajuan di segala bidang termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan di bidang ekonomi. 

Reuni 212 adalah tonggak kebangkitan muslim di masa kini. Jadikanlah peristiwa reuni 212 adalah sebuah momentum kembalinya peradaban Islam. Kembalinya hukum-hukum Allah secara kaffah, yang dengan tegas menyingkirkan hukum sekuler demokrasi yang nyata-nyata menyengsarakan umat. Syariat Islam bukan khayalan, namun sebuah pandangan hidup yang harus diperjuangkan keberadaannya. 
Wallahu'alam bissawab.

Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.