Harus Berapa Muslim Lagi yang Menjadi Tumbal Kebiadaban Kapitalisme?

Hot News

Hotline

Harus Berapa Muslim Lagi yang Menjadi Tumbal Kebiadaban Kapitalisme?




Oleh : Lia Destia
Terjadi lagi. Entah sampai kapan penderitaan umat muslim di seluruh penjuru dunia ini akan berakhir. Menimpa bagian tubuh yang lain, tapi deritanya terasa di seluruh penjuru negeri. 
Telah jelas Rasul menyampaikan :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]
Mendengar kabar sebagaimana dilansir dari jateng.tribunnews.com (Selasa, 18/12/2018), umat muslim Uighur mengalami berbagai kesulitan dan penganiayaan yang sangat kejam. Mereka dilarang untuk beribadah dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Memberikan nama dengan identitas Islam pun tidak pernah mudah bagi lebih dari 10 juta jiwa muslim di sana. Memang telah sejak lama, Pemerintah Cina membuat aturan dan kebijakan baru untuk wilayah otonomi Xinjiang di mana aturan ini justru sangat melanggar kebebasan muslim Uighur.
Peraturan tersebut melarang muslim Uighur untuk mengenakan burqa, memiliki jenggot yang panjang, menggunakan nama-nama Islam termasuk Muhammad, bahkan berpuasa Ramadan pun dilarang.
Pada pertengahan tahun 2017 lalu beberapa media internasional sempat menyoroti kasus tersebut. Di dalam aturan yang diberlakukan Pemerintah Cina yaitu melarang setiap orang tua di Xinjiang untuk memberikan nama bagi bayinya dengan nama-nama Islam. Apabila mereka melanggar, maka hak si anak akan hilang atas layanan kesehatan, pendidikan yang disediakan Pemerintah Cina.
Sebelum itu yakni pada tahun 2015 silam, Pemerintah Cina melarang perempuan muslim menggunakan burqa dengan alasan burqa bukanlah pakaian adat tradisional perempuan Uighur.
Kemudian setahun setelah aturan larangan menggunakan burqa, terbitlah larangan untuk berpuasa Ramadan. Imbas dari peraturan ini, seluruh bisnis makanan tidak boleh tutup pada siang hari selama bulan Ramadan.
Selain itu ada juga larangan untuk berjenggot dan mengenakan jilbab di tempat umum. Aturan ini dikeluarkan dengan dalih untuk melawan radikalisme dan ekstremis. Menurut Pemerintah Cina, muslim Uighur punya potensi untuk menjadi pemicu teror.
Itulah fakta miris yang terus menerus terjadi di iklim Sekuleristik yang menguasai jagad raya ini. Kita tidak bisa tinggal diam. Sekulerisme kini semakin mengikis Islam. Bagaimana mungkin kita akan terus hidup didalam sebuah sistem yang melarang kita untuk menerapkan syariat yang Allah wajibkan? 

Kita tidak bisa terus menutup mata. Sudah saatnya kita semua untuk bangkit bersama, bersatu dan memperjuangkan syariat Islam untuk tegak di bumi ini. Supaya tidak ada lagi umat yang tertindas, mengalami diskriminasi serta pelarangan pelaksanaan syariat Islam.

Yang kita butuhkan saat ini adalah tegaknya khilafah, karena hanya di dalam naungan khilafah, aturan Islam bisa diterapkan secara kaffah. Khilafah adalah sebuah sistem yang berasal dari Tuhan Seluruh Alam, Sang Maha Pengatur dan Maha Mengetahui.

Sistem dari Allah swt yang terbaik untuk diterapkan sampai kapanpun karena Dia-lah yang paling tau apa yang terbaik untuk ciptaan-Nya. Bukan kapitalisme demokrasi, bukan pula sosialisme komunis.

Oleh sebab itu perlu peningkatan tsaqafah Islam sebagai bekal untuk dakwah. Kembali kepada aturan Allah swt dan bersedia berjuang bersama untuk menjadikan Islam sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan dunia ini. Dengan demikian, In syaa Allah Khilafah akan kembali memimpin dunia dan menyelamatkan saudara-saudara kita yang teraniaya. Wallahu ‘alam.

Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.