Islamophobia Masuk Masjid?

Hot News

Hotline

Islamophobia Masuk Masjid?




Oleh: Dian F Hasibuan

Masjid seharusnya menjadi rumah ibadah yang menenangkan jiwa. Masjid sebagai tempat manusia larut dalam nuansa spiritual. Lebih tinggi lagi, masjid menjadi tempat manusia menyatukan visi dan membangun peradaban. Hari ini, ketenangan kita akan masjid terusik dengan berbagai kepentingan dan stigma.

“Jadi konten ceramahnya yang kita utamakan, kalau masjid nya gak ada yang radikal,” kata Wawan Hari Purwantodalam konferensi pers di Restauran Sate Pancoran, Jalan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (20/11).

Dari pernyataan ketua BIN tersebut, stigma dikerucutkan pada oknum-oknum yang diduga memaparkan dan terpapar konten radikalisme. Di sisi lain, istilah radikalisme, ektrimisme, dan fanatisme sering kali menyimpang dari makna sebenarnya. Seperti yang kita tahu, propaganda dan fitnah Barat terhadap Islam bukanlah berita baru. Atas nama perang melawan terorisme, Barat mendiskriminasi Islam dan pemeluknya, terlebih mereka yang memasukkan Islam dalam ranah sosial dan politik.

Lantas apa yang dimaksud dengan penceramah terpapar radikalisme? Wawan menyebutkan, kategori masjid pada zona merah yang menjadi sorotan BIN yakni menyimpang dari falsafah dan norma-norma Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Yang merah ini sudah mendorong ke arah-arah yang lebih simpati ke ISIS. Ini yang membawa aroma konflik Timur Tengah ke sini (Indonesia). Mengutip ayat perang, sehingga menimbulkan ESKOM: Emosi, Sikap, Tingkah Laku, Opini, dan Motivasi," kata dia.

Islam sebagai rahmatan lil’alamin, menghormati dan menjunjung tinggi persatuan. Gambaran ukhwah Islamyah dimana setiap umat muslim adalah bagian dari tubuh umat Islam lainnya, tanpa memandang teritorial negara, meniscayakan umat saling memperhatikan nasib saudara-saudaranya. Kenapa kita harus phobi alias takut dengan istilah dakwah dan jihad? Padahal aktivitas jihad dipuji dan diganjar pahala besar sebagaimana yang tertulis  dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Al-Baqarah : 218).

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (TQS. Al-Maidah : 54).

Dalam perspektif yang lebih luas, Islam dengan segala sistem hidup yang dikandungnya, menjaga umat manusia dari kerusakan. Menjaga keamanan dengan politik keamanan dalam dan luar negeri, menjaga kemaslahatan lewat sistem pendidikan dan ekonomi, termasuk mempersiapkan konstitusi politik islam yang disebut Khilafah Islamiyah. Sebagian berpendapat bahwa Khilafah hanya sebatas masa Khulafa Rasyidin, sebagian sejarawan mencatat negara Islam ini tegak hingga tahun 1924, era kesultanan Abdul Hamid.

“Apa itu radikalisme? Selama pengertian radikalisme itu tidak jelas, maka ini seperti menuduh atau menuding seseorang atau pihak lain dengan sesuatu yang tidak jelas juga,” kata Ustaz Ismail Yusanto di kantor Ihza & Ihza Law Firm, Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Senin (4/6). Tidak hanya itu, Ustadz Ismail Yusanto juga mempertanyakan maksud dari kata ‘terpapar’. “Kalau terpapar pornografi dan terpapar narkoba kita tahu, kalo terpapar radikalisme itu apa? Saya nggak tahu,” tutur Ustaz Ismail.

Di tempat yang berbeda, Peneliti Senior INSISTS Dr Henri Shalahuddin MIRKH menanggapi persoalan yang sama, ““Benarkah radikalisme masuk masjid?” ungkapnya lewat portal Hidayatullah. “Jauh sebelumnya, pada Mei 2003, jurnal Relief (vol. 1. no. 2), juga telah meneliti (baca: memata-matai) khutbah Jumat di sepuluh masjid. Kesimpulannya, bahwa di masjid-masjid itu para khatib selalu mengajarkan hanya Islam agama yang benar. Mereka tidak mau meyakini agama lain juga memiliki kebenaran yang sama.”

Jangankan bicara Khilafah, menganggap Islam agama yang benar jadi masalah. Narasi berbeda, tujuan yang sama. Jadi, ketimbang kita saling curiga satu sama lain, melamparkan tuduhan makar kepada para pendakwah, lebih baik kita tinjau ulang untuk siapa proyek ini diuntungkan? Apakah benar demi kemaslahatan masyarakat dan negara? Ataukah demi kepentingan sekular-kapitalisme yang tidak suka melihat umat Islam bangkit? Mereka paham betul, ketika umat Islam memahami pilar-pilar kebangkitan, memahami dakwah dan jihad dengan benar, saat itulah mereka akan kalah. Wallahu’alam. 



Penulis Dian F.Hasibuan (@algabiru_full)
Penulis buku motivasi muslimah.

Editor, Lulu



This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.