Khilafah Perisai Kaum Muslim Uighur

Hot News

Hotline

Khilafah Perisai Kaum Muslim Uighur




Oleh : Ika Nur Wahyuni

Uighuristan merupakan tanah subur terletak 1500 mil dari Beijing dengan luas 1,6 juta km2 (hampir 1/6 wilayah Cina). Wilayahnya kaya akan sumber daya alam. Dan Xinjiang adalah provinsi terbesar di Cina. Di Utara, tanah Uighur berbatasan dengan Kazakhtan, Mongolia di Timur Laut, Kirghiztan dan Tajikistan di Barat Laut, dan Afghanistan- Pakistan di Barat Daya. 

Bangsa Uighur berbeda ras dengan Cina-Han, mereka lebih mirip dengan orang Eropa Kaukasus. Memiliki sejarah budaya lebih dari 4000 tahun dan sepanjang itu, mereka telah mengembangkan kebudayaan masyarakat dan banyak menyumbang dalam peradaban dunia. Masuk Islam sejak tahun 934 M, dan menjadi agama mayoritas di sana.

Setelah Islam masuk, kebudayaan bangsa Uighur maju dengan pesat. Mereka mulai mengenal pertanian semi intensif, mengembangkan sistem irigasi (kariz), arsitektur, musik, seni dan lukisan yang tinggi. Bahkan telah mencetak buku sebelum ditemui oleh Gutenberg (penemu mesin cetak). Mereka juga ahli dalam bidang pengobatan, mengenal 103 tumbuhan obat bahkan sebagian ahli barat percaya bahwa akupuntur bukan aseli Cina tapi awalnya dikembangkan orang-orang Uighur.

Sejak berkuasa pada 1949, komunis Cina memobilisasi etnis Han untuk menguasai daerah Xinjiang, dan membatasi ruang gerak bangsa Uighur dan mulai dicurigai sebagai kelompok separatis. Tahun 1957 dan 1966 seiring Revolusi Kebudayaan yang dipimpin oleh Mao Zedong keyakinan dan budaya Uighur dihancurkan.

Tahun 1991, terjadi konflik antara suku Uighur dan suku Han yang direkayasa. Puncaknya adalah terjadi pembantaian etnis Uighur di Gulja, Xinjiang, pada 5 Februari 1997 silam. Human Right Watch menyebutkan penguasa Cina telah menumpas muslim Uighur dengan alasan melawan terorisme dan separatisme.

Pada tanggal 5 Juli 2009 terjadi kerusuhan Urumqi. Ketika itu etnis Uighur melakukan unjuk rasa di Urumqi atas insiden Shaoguan (26 Juni 2009). Kerusuhan itu seolah-olah hanya konflik rasialis, realitanya itu merupakan kekecewaan etnis Uighur atas politik rasialis yang direkayasa dan terus dipelihara oleh rezim komunis Cina. Tujuannya adalah untuk terus mencengkeram dan mengeksploitasi wilayah Uighur yang kaya akan minyak, gas, dan batubara. 

Sejak itu, kaum muslim di Uighur mengalami berbagai penyiksaan keji dari rezim komunis Cina. Anak-anak dipisahkan dari orangtuanya, dicuci otaknya, dipaksa mengadopsi budaya komunis yang Chauvinis, dan meninggalkan jati dirinya sebagai seorang muslim. Dilarang menghadiri pengajian atau shalat di masjid sampai usia 18 tahun. 

Kegiatan dan ekspresi agama dilarang, dari mulai memelihara jenggot, berpuasa di bulan Ramadan, membaca dan mengajarkan Alquran, memakai kerudung, dan mengumandangkan azan di masjid-masjid. Bahkan para wanita Uighur dipaksa menikah dengan laki-laki dari bangsa Han agar tidak ada lagi keturunan etnis Uighur.

Mengapa dunia bungkam dan tidak bereaksi? Bahkan Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam pun tidak melakukan apa-apa. Pemerintah bahkan tidak melakukan kecaman atau protes kepada Cina atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Uighur.

Bahkan dalam satu kesempatan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Indonesia tidak setuju aksi penindasan dan pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur tapi itu adalah masalah domestik Cina, dan Indonesia tidak akan ikut campur dalam hal itu. (Tempo.co, 17/12/2018).

Dunia bungkam karena dominasi Cina di berbagai negara, termasuk Indonesia sangat kuat. PBB yang diharapkan mampu menghentikan ini pun dibuat tak berdaya karena Cina termasuk salah satu negara pemegang hak veto di dalam Dewan Keamanan PBB. Laporan tentang pelanggaran HAM berat pun seperti hanya laporan biasa tanpa memberi efek apapun terhadap kebijakan Cina untuk menghentikan penindasan.

Inilah alasan betapa pentingnya persatuan umat Islam dalam satu naungan yaitu khilafah. Karena satu-satunya yang bisa menyelamatkan kaum muslim Uighur adalah satu negara Islam yang berdaulat yang akan segera mengirimkan pasukannya untuk menghentikan Cina dari kebiadabannya dalam menganiaya kaum muslim Uighur. 

Seorang khalifah (imamah/pemimpin) akan menyerukan jihad fi sabilillah. Karena seorang khalifah adalah junnah (perisai) bagi setiap kaum muslim di seluruh dunia. Pelindung kaum yang lemah dan teraniaya, pembebas dari penjajahan negara-negara kafir hina. 

Segala upaya akan dilakukan seorang khalifah seperti kisah khalifah Mu’tashim yang segera mengirimkan ribuan pasukannya hanya untuk menolong seorang budak wanita yang dilecehkan tentara Romawi.

Hanya Daulah Khilafah Islamiyah yang mampu membebaskan kaum muslim Uighur dari genosida yang dilakukan rezim komunis Cina. Daulah Islam akan segera menyambut seruan kaum muslim Uighur dengan mengirimkan ribuan tentaranya dan membebaskan mereka dari kekejian rezim komunis Cina.
Wallahu’alam bis shawab.


Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.