Kontrol Sosial Dalam Islam

Hot News

Hotline

Kontrol Sosial Dalam Islam


Oleh : Nadia Salsabyla 

Pelaksanaan Reuni Akbar  212 yang berlangsung di lapangan Monumen Nasional (Monas) berjalan aman, tertib dan damai pada Ahad (2/12). Jutaan peserta Reuni 212 dinilai tertib sejak Sabtu malam dini hari hingga acara berakhir (Gatra.com)

Telah kita saksikan  bersama, bagaimana 212 ini bagaikan magnet yang menarik perhatian kaum muslim. Tanpa memandang usia, status maupun ras. Mereka berkumpul dengan label yang sama, yaitu sebagai hamba. Mereka bertakbir, sujud dan memohon kepada Yang Kuasa agar Islam dimenangkan atas kaum yang berusaha menjatuhkannya.

Benarlah jika dikatakan akidah adalah ikatan yang paling kokoh. Karena jika kita perhatikan masing-masing dari mereka berlomba untuk memberikan kontribusi bagi yang lain. Seperti bagi makanan gratis dan cek layanan kesehatan gratis. Bahkan mereka juga menjaga lingkungan aksi agar tetap bersih dan rapi, dengan memunguti sampah dan tidak menginjak rumput. Semua itu karena mereka terikat dengan ikatan yang kuat. Seperti itulah gambarannya ketika manusia disatukan dengan Islam.

Berbeda halnya ketika manusia disatukan dengan tujuan selain  Islam, hasilnya pun berbanding terbalik. Massa aksi 412 mengikuti parade kebinekaan di Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (4/12). Namun, setelah acara tersebut selesai pada pukul 11.00 WIB, tampak sampah bertebaran di jalanan dan taman-taman rusak lantaran diinjak-injak oleh peserta massa aksi, (Republika.co.id).

Kini, tidak hanya yang muslim saja, bahkan non muslim pun mengakui kuatnya ikatan ini. Karena dengan ikatan itu mereka membela agamanya, berkumpul dengan saudaranya dan mensyiarkan ajaran Rab-nya. Tanpa ada kekerasan, paksaan, pengrusakan fasilitas umum, bahkan tidak ada sampah yang ditinggalkan.

Ini adalah contoh kecil yang dapat kita lihat ketika Islam yang mengatur manusia. Namun, ada hal yang lebih besar lagi yang bisa didapatkan ketika kita menerapkan Islam secara keseluruhan yaitu sebagai sistem yang mengontrol sosial masyarakat. Dan dampaknya adalah kesejahteraan yang merata, keamanan yang dirasakan semua lapisan masyarakat, bahkan keadilan bagi warga muslim maupun non muslim.

Mengapa kita perlu menerapkannya sebagai sistem? Tidak cukupkah dengan kita mendidik anak-anak kita mengenai nilai-nilai moral? Atau membina lingkungan kita dengan norma-norma sosial?

Sebut saja kita sudah mendidik anak-anak kita tentang moral yang baik, begitu juga dengan lingkungan sekitar kita yang dibina dengan baik. Namun, biaya pendidikan begitu mahal, lapangan kerja terbuka lebar untuk aseng, SDA dijarah oleh asing, sedangkan pemerintah diam seribu bahasa. Tidakkah kita ketahui bahwa dari permasalahan ini akan muncul ratusan bahkan ribuan permasalahan cabang?

Perlu kita sadari bahwa permasalahan kontrol sosial dalam bernegara adalah salah satu cabang dari sekian banyaknya problematika ummat. Maka, sudah saatnya bagi kita untuk mengembalikan tatanan hidup bernegara kepada Islam. Yang tidak hanya mengutamakan kepentingan individu tertentu, tapi memberikan hak yang sama pada setiap warganya, tanpa memandang status sosialnya.
Wallahu a'lam bishowab

Penulis adalah Mahasiswi PBA di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo


Editor Lulu

Ilustrasi Koleksi Foto Erlangga Muhammad

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.