Meninggikan The Black Banner

Hot News

Hotline

Meninggikan The Black Banner


Oleh Dwi Agustina Djati, S.S
    (Pemerhati Berita)

Haul Akbar 212 memasuki tahun kedua. 10 juta lebih orang membanjiri Ibukota Indonesia, Jakarta. Sebuah perhelatan yang akan menjadi catatan sejarah. Hal menarik dalam gelaran acara ini berkibarnya rayah raksasa di berbagai sudut dan kibaran rayah dalam berbagai ukuran.

Rayah, kain hitam dengan kalimat Tauhid berwarna putih telah menjadi milik umat. Jika dulu hanya dikibarkan oleh Hizbut Tahrir (ormas yang dicabut badan hukumnya) dalam setiap aksi damainya, maka 2 Desember menjadi momentum betapa rayah telah menjadi  milik umat. Simbol kemuliaan Islam yang sesungguhnya.

Adalah insiden pembakaran rayah di Hari Santri 22 Oktober 2018. Peristiwa ini di unggah ke media sosial. Seketika viral dan memicu kemarahan kaum muslimin Indonesia, bahkan menembus lintas Negara. Kemarahan ini mereka tunjukkan dengan elegan, yakni aksi kibaran bendera tauhid di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Sang pembakar hanya dihukum dua hari dan didenda sebesar 2000 rupiah. Bukankah ini sebuah pelecehan. Simbol Islam dibakar, namun sang pembakar hanya dihukum sedemikian ringan. Muslimin tak tinggal diam. Dirancanglah aksi puncak 212 dengan tanda pagar Bela Tauhid, Bela Islam. Semangat pembelaan atas bendera hitam begitu membuncah di dada setiap peserta aksi. Bahkan non muslim yang hadir saja ikut terharu dengan lantunan salawat yang mengiringi kibaran panji mulia tersebut.

Agaknya hadist tentang pasukan panji hitam dari Timur akan segera terwujud. Pasukan yang membawa rayah Rasulullah SAW menuju kemenangan Islam yang kedua. Kebangkitan Islam begitu terasa di 212 2018. Saatnya bagi kaum muslimin untuk meninggikan bendera dan panji Rasulullah SAW. Bukan tanpa halangan aksi akbar ini dilangsungkan, namun kaum muslimin tak gentar. Dengan persatuan seluruh halangan bisa teratasi. Melampaui seluruh batas suku, ormas, mahzab, ustad bahkan agama.

Bendera hitam membumbung tinggi dengan jumawa menghancurkan kesombongan manusia durjana. Jika Allah telah berkehendak tak ada satupun manusia yang mampu melawan. Ingatan akan melayang ke 14 abad lalu saat Rasulullah turun dalam dua barisan menuju Ka’bah, pusat peradaban Mekkah kuno. Barisan berbaris rapi dengan masing-masing dipimpin Hamzah bin Abdul Mutholib dan Umar bin Khathab. Masyarakat Mekah gentar, singgasana pemimpin Mekah berguncang.

Bendera dan panji Rasulullah kini tak lagi asing. Ketakutan yang berlebihan terhadap rayah dan liwa ini telah pupus. Berganti dengan kebanggaan. Setiap orang akan berusaha menjaga kemuliaanya. Sebab  kalimat tauhid yang tertulis di atasnya adalah harga mati bagi Muslim. Sebagaimana para sahabat berjuang melawan hegemoni penguasa Mekah, demikian pula kaum muslimin hari ini. Mereka berjuang melawan ketidakadilan yang terpajang di depan mata. Saatnya menyongsong kemenangan dengan rayah di tangan. In syaa allaah janji Allah akan terwujud dengan sempurna. Wallahu’alam bi showab.

Editor Lulu

Ilustrasi SwaMedium

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.