MENYERANG POLIGAMI: AGENDA GAGAL PAHAM POLITIK SEKULER

Hot News

Hotline

MENYERANG POLIGAMI: AGENDA GAGAL PAHAM POLITIK SEKULER





Oleh: Desi Wulan Sari


Pernyataan  PSI (Partai Solidaritas Indonesia) sungguh membuat hati umat muslim tersentak dan kecewa. Di saat persatuan sedang dirindukan umat, alih-alih mendapat pernyataan yang menyejukkan, justru mereka kembali menyerang syariat Islam.

Kali ini terkait dengan poligami. Ketua umum PSI menyatakan secara terbuka bahwa mereka menolak praktik poligami. Partai ini tidak akan membolehkan kader, pengurus, dan anggota legislatif dari PSI mempraktikkan poligami. Dan PSI juga menegaskan tidak akan pernah mendukung poligami, karena praktik tersebut dinilai salah satu sumber ketidakadilan bagi perempuan.

Klaim mereka poligami berpotensi menyebabkan hal-hal sebagai berikut: Pertama, poligami sesungguhnya adalah bentuk penindasan dan subordinasi posisi perempuan di hadapan laki-laki. Kedua, poligami rawan memicu munculnya berbagai kasus tindak kekerasan terhadap perempuan. Ketiga, praktik poligami secara langsung maupun tidak langsung berpotensi menyebabkan anak-anak menjadi korban dan mengalami proses tumbuh kembang yang tidak sehat, (koran Sindo,18/12/2018).

Satu lagi pernyataan senada dilontarkan komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Imam Nahe’i, dia menyebutkan pihak yang menganggap praktik poligami merupakan sunnah adalah bentuk penodaan terhadap agama Islam.

 “Poligami sunah, menurut saya penodaan agama, karena tidak ada dalam fikih. Boleh saja (poligami), tapi tidak naik sampai tingkat sunah,” sebut Imam dalam acara diskusi Perempuan dan Politik yang bertemakan "Bisakah Poligami di Indonesia Dilarang?” di Gado-gado Boplo, Kuningan, Jakarta Selatan pada Sabtu, 15 Desember 2018, Tempo.co, (15/12/2018).

Partai politik mengangkat tema agama tertentu, digunakan untuk menarik perhatian pemilk suara. Segala macam cara, baik secara halus atau bahkan terang-terangan mengutak-atik hukum-hukum agama Islam untuk diangkat sebagai bahan kampanye mereka. Padahal belum tentu mereka paham isi dari hukum tersebut.

Menentang poligami sudah barang tentu menentang hukum Allah. Hal ini tentu saja membuat umat meradang dan protes dengan pernyataan yang terkesan menyesatkan ini. Sangat disayangkan tren mengutak-atik hukum syariat dijadikan bahan permainan bagi sebagian orang.

Politik Main-Main
Saat ini sistem sekularisme sudah terbukti sangat merusak dalam berbagai  bidang. Pemisahan agama dan kehidupan ingin ditekankan kembali dari sistem sekuleris ini. Padahal dipahami dalam Islam itu sendiri, poligami merupakan bentuk pilihan bagi sebagian laki-laki muslim untuk memiliki isteri lebih dari satu. Mereka boleh melakukan asalkan mampu.

Pernyataan kontroversial yang sedang hangat terkait poligami ini adalah mereka menentang dan mengklaim "bukan ajaran Islam". Apalagi dalam konteks ini, pernyataan tersebut masuk dalam ranah politik. Persaingan atas suara rakyat dijadikan alasan untuk bertindak semaunya. Karena jelas  hal tersebut diatur dalam Alquran dan As-sunah.

Poligami Dalam Pandangan Islam
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat An Nisaa’ yang artinya:
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (TQS. An Nisaa: 3).

Ayat diatas menerangkan secara jelas bahwa Allah Ta’ala membolehkan seorang pria untuk berpoligami. Hal ini bahkan diperkuat dengan adanya praktik poligami yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hukum poligami dalam Islam adalah mubah. Berikut ini beberapa  syarat poligami,

Pertama, Jumlah isteri maksimal empat orang. Berdasarkan syariat agama, poligami hanya boleh dilakukan sebanyak empat kali, tidak lebih dari itu. Pendapat ini didasari oleh firman Allah SWT:
“Maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu ber-kenan dari perempuan-perempuan (lain): dua, tiga atau empat.” (TQS an-Nisaa’: 3) .

Ke dua, Mampu berlaku adil terhadap semua  istri. “Kemudian jika kamu bimbang tidak dapat berlaku adil (diantara isteri-isteri kamu), maka (kahwinlah dengan) seorang saja, atau (pakailah) hamba-hamba perempuan yang kaumiliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat (untuk mencegah) supaya kamu tidak melakukan kezaliman.” (QS an-Nisaa’:3).

Ke tiga, Tidak melupakan ibadah kepada Allah SWT. Terkadang ketika seorang pria memiliki banyak istri dan keturunan, mereka lantas melupakan ibadahnya. Mereka terlalu sibuk bekerja menafkahi keluarga. Terlalu sibuk bersenang-senang dengan istri dan anak-anaknya, kemudian saling berbangga diri hingga melalaikan Allah Ta’ala.  Allah subhanahu wa taala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Ke empat, dilarang berpoligami dengan dua wanita yang bersaudara. Dalam melakukan poligami, sebaiknya pilihlah isteri-isteri dari keturunan yang berbeda-beda. Pernikahan yang dilakukan terhadap dua wanita yang masih memiliki hubungan darah erat (misalnya saudara atau bibi) tidak diperbolehkan dalam islam. Allah subhanahu wa taala berfirman:
“(Diharamkan atas kamu) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisaa’:23).

Ke lima, Mampu menjaga kehormatan isteri-isterinya. Seorang suami memiliki kewajiban membimbing dan mendidik isterinya untuk hidup di jalan yang lurus sesuai syariat agama. Sebab suami adalah pemimpin keluarga. Apabila ia membiarkan isterinya bersikap bebas dan bermaksiat, maka suami pun ikut berdosa. Tak peduli seberapa banyak isterinya, entah itu satu, dua, tiga atau empat, semuanya harus bisa dididik secara benar. Sebagaimana firman Allah Allah subhanahu wa taala dalam Al-Quran:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
“Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam menegakkannya.” (AQ. Thaha: 132).

Berdasarkan dalil-dalil tersebut diatas,  jelaslah bahwa poligami memang diperbolehkan. Namun untuk seorang pria yang sekiranya ia tidak bisa berlaku adil, dan poligami hanya dijadikan main-main saja (Hanya untuk memenuhi nafsu) maka hukumnya menjadi haram. Sebaliknya, jika ia mampu menjalankan syarat-syarat poligami sesuai hadist dan Alquran maka menikahnya itu bisa bernilai ibadah.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (Adz Dzariyaat: 49)
Semoga Kita mendapat hikmah dan pembelajaran. Bagaimana seharusnya kita bisa menempatkan segala sesuatu dalam porsinya. Dan selalu berada dalam koridor yang tepat dan benar.  Saling menghargai, saling menghormati, dan saling berkasih sayang di dalam perbedaan tetap tertanam dalam hati setiap manusia.
Wallahua'lam bishawab


Editor Lulu

Ilustrasi Pinterest.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.