Menyoal Polemik Poligami

Hot News

Hotline

Menyoal Polemik Poligami





Oleh : Dwi Agustina Djati, S.S
(Pemerhati Berita)


Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menilai pelibatan perempuan dalam sektor ekonomi, dapat membebaskan perempuan dari poligami, tribunnews.com.
“Poligami itu memperdayakan perempuan, bukannya memberdayakan. Banyak perempuan terjebak dalam pernikahan poligami karena tidak mudah bagi perempuan untuk masuk dalam sektor ekonomi,” ujar Dara Adinda Nasution, juru bicara PSI untuk isu-isu perempuan, Selasa (18/12/2018).

Pernyataan Dara ditujukan pada pro-kontra yang mencuat mengikuti pernyataan PSI yakni tidak mendukung Poligami. Dara menyatakan poligami adalah praktik yang merugikan perempuan tetapi banyak terjebak karena tidak mampu menentukan nasibnya sendiri. Menurutnya, perempuan harus bekerja agar mampu menentukan nasibnya sendiri dan keluarganya. Tidak bergantung hanya pada suami.

Untuk kesekian kalinya masalah poligami dipersoalkan. Dulu saat da’i kondang menikah lagi sontak seluruh stasiun televisi menyiarkan. Berita berminggu-minggu menjadi trending topik. Seolah poligami adalah masalah besar yang layak diperbincangkan secara nasional.

Tak lama dari kasus pernikahan kedua itu, seorang anggota DPRD ketauan berbuat mesum dengan seorang wanita di sebuah hotel berbintang. Media hanya memberitakan sekedarnya. Sesuatu yang tak adil. Setelah itu sindiran dan celaan terhadap pelaku poligami naik pesat.

Serangan Masif atas Hukum Islam

Sejak lama Islam menjadi “Publik Enemy Number One”. Serangan terhadap Islam secara massif dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai. Dalam hal ini Barat sebagai dalang atas serangan terhadap Islam. Isu demi isu terkait ajaran Islam terus digulirkan tanpa henti.

Konsep Islam atas sistem pemerintahan Khilafah, terorisme-radikalisme, intoleransi hingga menyentuh hukum keluarga. Salah satu yang paling panas tentu poligami. Berbagai pandangan miring terkait hal ini tak lekang oleh waktu. Ayat Qur’an tentang hinaan dan kebencian terhadap Islam termaktub dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 2 yang bunyinya sebagai berikut:
“Jika mereka menang atas kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu secara keji; dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (QS. Al-Mumtahanah : 2).

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya berkata, “Dan jikalau mereka berjumpa denganmu, atau menang dan berkuasa atas kamu. Mereka akan leluasa menggunakan tangan mereka untuk menyiksa dan membunuhmu. Dan mulut mereka untuk menghina kamu. Dan mereka berharap agar kamu kafir kepada Muhammad. Maka dari itu janganlah bersikap baik kepada mereka, karena sesungguhnya mereka tidak akan bersikap baik kepada kalian.”

Isu poligami digulirkan sebagai upaya mendiskreditkan Islam dengan target menghancurkan pilar pilar keluarga muslim. Sebagaimana berita yang saya kutib dari Tribunnews.com tentang pernyataan petinggi PSI, Poligami membuat perempuan terperdaya. Benarkah perempuan terperdaya?

Poligami Menyelamatkan Kaum Perempuan

Munakahad atau pernikahan dalam Kitab Nidhomul Ijtima’ fil Islam merupakan pengaturan pertemuan (interaksi) antar dua jenis kelamin, yakni pria dan wanita, dengan aturan yang khusus. Peraturan tersebut mewajibkan agar keturunan dihasilkan hanya dari hubungan perkawinan saja. Islam telah menganjurkan dan bahkan memerintahkan dilangsungkannya perkawinan. Allah berfirman dalam Alquran al-Karim :
“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telahmembayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik- gundik.” (QS al-Mâ’idah [5]: 5)

Diriwayatkan dari Ibn Mas‘ud RA, iamenuturkan: “Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. Sebab, pernikahanitu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.Siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa,karena puasa adalah perisai baginya.” (Muttafaq ‘alayhi).

Ayat dan hadits di atas menjelaskan bahwa setiap hubungan yang dihalalkan antara pria dan wanita hanyalah pernikahan. Maka segala bentuk hubungan di luar pernikahan adalah terlarang.

Berkaitan dengan poligami, Islam telah mengatur juga dengan baik, sebagaimana firman Allah SWT dalam Qur’an Surat An-Nisa ayat 3
Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (TQS an-Nisâ’ [4]: 3).

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa syariat poligami adalah boleh atau mubah. Bukan kewajiban bagi laki-laki dan pilihan bagi seorang perempuan. Perkara perasaan perempuan itu sakit atau tidak, mau atau tidak bukan menjadi standar. Jika seorang muslim menolak aturan bolehnya poligami sama saja mengubah hukum Allah yang qoth’i.

Yang jelas tidak mungkin pula menghapus ayat Qur’an Surat An-Nisa ayat 3. Di samping syariat tentang kebolehan menikahi lebih dari satu istri, Allah juga mengancam para pria yang termaktub dalam hadist Nabi yang bunyinya:
 “Siapa saja yang mempunyai dua orang isteri, lalu ia lebih cenderung kepada salah satu dan mengabaikan yang lain, niscaya akan datang pada hari Kiamat nanti berjalan sementara salah satu kakinya lumpuh atau pincang.” (HR Ibn Hibbân di dalam Shahîhnya)

Apabila praktek Poligami yang terjadi dalam masyarakat tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, maka bukan ajarannya yang digugat namun pelakunya yang harus diperingatkan. Di masa jahiliyah kebanyakan para laki-laki memiliki istri sangat banyak, belum lagi para budak. Islam datang menyelesaikan persoalan ini.

Poligami dibatasi pada empat orang istri, tidak boleh lebih dari itu. Pertentangan terhadap poligami tidak proporsional. Poligami justru menyelamatkan kehormatan perempuan. Akan banyak perempuan terselamatkan dengan predikat ‘perempuan simpanan’.

Terkadang ada hal-hal yang memang menjadi problem manusia dan poligami solusinya, semisal ada perempuan mandul yang tidak bisa berketerunan atau sakit parah yang tidak mampu melayani suami. Bisa juga poligami solusi bagi populasi jumlah penduduk yag tidak berimbang antara pria dan wanita akibat peperangan atau bahkan genosida.

Jadi tuduhan dan hinaan terkait aturan poligami dalam Islam hanyalah upaya secara sistematis menyerang sendi penopang keluarga yakni perempuan. Kemandirian perempuan yang dipropagandakan justru menjauhkan muslimah dari kebenaran agamanya. Syariat penafkahan ada pada pundak laki-laki. Sampai kapanpun tulang rusuk tidak akan pernah berubah menjadi tulang puggung, bagaimanapun keadaannya. Wallahu’alam bi showab.


Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.