Meroketnya HIV-AIDS

Hot News

Hotline

Meroketnya HIV-AIDS


Oleh Arimbi Nikmah Utami



Membaca berita di media cetak seminggu terakhir, membuat perasaan bercampur aduk. Antara sedih, marah, dan bingung. Bagaimana tidak, dalam beberapa hari berturut-turut, masyarakat disuguhkan berita tentang penyebaran HIV-AIDS yang telah meningkat dan mulai menyebar merata di Jawa Tengah.

Korbannya pun sudah menyasar berbagai elemen masyarakat. Seperti diberitakan oleh harian Suara Merdeka, tanggal 4 desember 2018 lalu, berdasarkan data yang dilansir dari Dinas Kesehatan Pati, sampai Oktober 2018 ditemukan 1.338 kasus HIV/AIDS yang tersebar merata di 21 kecamatan dan telah merambah pekerja usia produktif, ibu rumah tangga dan anak-anak.

Sementara di Kudus, selama periode Januari-November 2018, Kelompok Dukungan Sebaya Kasih (KDSK) Kabupaten Kudus menemukan 154 kasus penderita HIV-AIDS yang didalamnya termasuk tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki dengan usia dibawah lima tahun. Sebagian besar kasus tersebut disebabkan hubungan seks bebas tanpa menggunakan alat kontrasepsi. "Hubungan seks beresiko sangat berpotensi menularkan HIV-AIDS," jelas Eny Mardiyanti, Koordinator KDSK.

Sudah jelas bahwa seks bebas menjadi penyebab atas kejadian ini, tetapi anehnya solusi yang diberikan oleh pemerintah untuk mengatasi HIV-AIDS justru mendukung terjadinya seks bebas. Sebut saja salah satu program pemerintah yang bekerja sama dengan UNICEF, yaitu gerakan Pendidikan Sebaya yang menyoroti perilaku seks yang aman dan penggunaan kondom di kalangan kelompok yang beresiko (www.unicef.org) .

Didukung pula dengan pengadaan 25 unit atm kondom di beberapa kota besar di Indonesia (m.detik.com), pembagian kondom gratis dan masih banyak lagi yang lainnya. Sungguh, solusi yang mereka tawarkan itu tidak akan mampu menyelesaikan persoalan ini tapi justru menjerumuskan. Karena sejatinya seks bebaslah yang harus dilarang, bukan justru diberi jalan.

Seks bebas tentu tidak bisa dipisahkan dari kroni-kroninya, yaitu perilaku seksual yang menyimpang, seperti lesbian, gay, biseksual, dan transgender (eLGeBeTe). Karena seks bebas banyak dilakukan oleh pelaku penyimpangan seksual ini. Jika solusi yang ditawarkan dan dijalankan pada faktanya belum bisa menyelesaikan permasalahan, dan justru semakin hari semakin meningkat dan menyebar, maka sudah saatnya solusi yang dimiliki Islam diambil untuk menjadi penyelesaian terhadap problematika umat ini. Jika tidak, HIV-AIDS akan terus berkembang dan meluas.

Dalam Islam jelas bahwa seks bebas dan perilaku seksual yang menyimpang (eLGeBeTe) adalah perilaku yang tercela, dosa besar, di mana pelakunya dianggap melakukan tindakan kriminal yang harus dihukum dengan tegas. Agar menimbulkan efek jera dan tidak diikuti oleh yang lainnya.

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa pelaku homoseksual (suka sesama jenis) harus dihukum mati. Sesuai sabda Nabi SAW, “siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah keduanya.” (HR Ahmad).

Para pezina hukumannya dicambuk (bagi yang belum menikah) dan dihukum rajam atau dilempari batu sampai mati (bagi yang sudah menikah). Lokalisasi sebagai pusat perzinahan, tentu saja harus dibubarkan, bukan dilegalkan seperti saat ini.

Tak luput, Islam juga mengatur tentang sistem pendidikan. Di dalam kurikulum pendidikan sedini mungkin diberikan pengajaran tentang akidah dan akhlak. Sehingga diharapkan dengan tertanamnya akidah, tidak terjadi penyimpangan perilaku karena takut kepada Allah, takut berbuat dosa. Dan sekali lagi, sangat jauh berbeda dengan kondisi saat ini ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  justru akan meniadakan pelajaran agama di kelas (m.tribunnews.com).

Solusi yang disodorkan saat ini memang hanya memandang dari sisi kesehatannya saja, bukan memandang kesalahan perilaku pengidapnya. Karenanya solusi yang ditawarkan juga seputar kesehatan saja. Solusi-solusi tersebut tidak menyelesaikan secara hakiki. Ibarat pohon yang akarnya rusak, bukan akarnya yang dicabut, justru ranting-rantingnya yang mati yang sibuk dipangkas. Sampai kapanpun tidak akan pernah terselesaikan.

Sekali lagi, seks bebas dan perilaku seksual yang menyimpang adalah akar dari permasalahan HIV-AIDS. Seharusnya hal itu yang harus dihilangkan. Namun pada kenyataannya, perilaku LGBT yang menyimpang tidak dipermasalahkan karena dilindungi oleh dalih Hak Asasi Manusia (HAM). Manusia bebas berbuat semau mereka atas nama HAM.

Sungguh benar-benar saat ini kondisi kita umat muslim, berusaha dijauhkan sejauh-jauhnya dengan agama. Sekularisasi hendak ditancapkan sekuat-kuatnya, agar agama terpisah dari kehidupan. Dan agama hanya terbatas pada ritual ibadah saja, bukan untuk pemecahan persoalan kehidupan manusia secara sempurna dan menyeluruh.
Wallahualam bi showab

Arimbi Nikmah Utami (Penulis dari Blora Jawa Tengah)

Editor Lulu

Ilustrasi hetanews.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.