Mumbul Meradang, Remaja Terpapar

Hot News

Hotline

Mumbul Meradang, Remaja Terpapar




Oleh: Dewi Tisnawati,  S.  Sos.  I.
 (Pemerhati Anak dan Sosial)

Anak-anak sekarang ini banyak melakukan hal yang merusak. Di antaranya sering menghirup lem fox. Aromanya bisa membuat mereka pusing, tetapi jika sering dihirup terasa ketenangan di dalam hati. Hal ini mereka sebut 'mumbul'.

Kata "Mumbul" dalam KBBI berarti melompat naik  atau membubung. Mereka yang memenghirup lem fox ini ingin membubung ke langit, mengkhayal terbang tinggi tapi kakinya menggelepar-gelepar di atas tanah. Hal ini sudah sangat banyak dilakukan di kalangan anak-anak khususnya di dua kecamatan di Konawe. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Konawe, Cici Ita Ristianty menerima aduan banyaknya kasus mumbul di Kecamatan Tongauna dan Soropia. Aduan diterimanya saat menjadi pembicara di acara pelatihan paralegal untuk pendampingan kasus kekerasan perempuan dan anak, Rabu (12/12/2018). 

Mendapati laporan tersebut, Cici mengatakan pihaknya memang telah menetapkan Tongauna sebagai daerah siaga satu terkait kasus anak. Hal itu dilakukan seiring banyaknya temuan dan laporan kasus yang menyebabkan anak bawah umur jadi korban. Sementara terkait Soropia, ia mengaku akan melakukan penyuluhan. Cici bahkan meminta agar barang bukti papor bisa didapatkan guna diteliti pihak BNN.

Fakta tersebut sangat memprihatinkan karena generasi yang menjadi harapan bagi orang tua,  bangsa, negara dan agama untuk masa depan yang lebih baik kini telah rusak hanya karena ingin mendapatkan ketenangan sementara. Padahal menghirup bahan adiktif seperti lem fox dan lainnya memiliki dampak negatif bagi tubuh.

Pada dasarnya mumbul atau ngelem ini dapat dikelompokkan sebagai penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif) atau NARKOBA (Narkotika dan Obat Berbahaya). Jenis zat psikotropika dan zat adiktif, yaitu obat yang dihasilkan melalui proses kimia yang apabila pemakaian melebihi dosis atau disalahgunakan, akan memiliki efek sama dengan pemakaian jenis narkotika. 

Dalam lem terdapat berbagai jenis bahan kimia di antaranya  volatile hidrokarbon (toluene aceton, alifatik acetat, benzine, petroleum naftat, perklorethylen, trikloretane, karbontetraklorida) dan mengandung diethyleter, kloroform, nitrous oxyda, macam-macam aerosol, insektisida.

Bahan-bahan ini bersifat menekan system susunan saraf pusat (SSP depressant) yang sebanding dengan efek alkohol meskipun gejalanya berbeda. Umumnya efek akut bahan ini berupa euforia ringan, mabuk, pusing kepala dan sesudah itu ia akan merasa seperti fly (melayang). 

Saat seperti ini pengguna akan melakukan tindakan antisosial dan tindakan impulsif dan agresif. Kalau ini berkelanjutan maka akan timbul gejala psikotik akut seperti eksitasi, disorientasi, halusinasi dengan kesadaran berkabut, bahkan amnesia.

Dengan menghirup bahan ini seseorang bisa kehilangan kesadaran. Lamanya efek ini sekitar 15 menit sampai beberapa jam. Kalau dosisnya petroleum dan toluene besar, akan menimbulkan kejang-kejang, koma, dan bahkan kematian. Kematian bisa terjadi kerena kecelakaan, seperti kesulitan bernafas sewaktu menghirup lem yang berada di kantong plastik. Di mana sewaktu menghirup telah kehilangan kesadaran. 

Jelasnya dampak jangka pendek yaitu hanya dalam beberapa detik saja, pengguna mengalami mabuk, daya nalarnya terganggu, ketidaksadaran, sakit kepala berat dan bercak-bercak di sekitar hidung dan mulut. Lalu mati lemas dapat terjadi jika oksigen di paru-paru diganti dengan zat kimia tersebut, yang kemudian mempengaruhi pusat sistem saraf, sehingga pernapasan akan terhenti.

Sedangkan efek jangka panjang bagi pengguna yang menghirup lem yaitu kelemahan otot, disorientasi, kurangnya koordinasi, sifat lekas marah, depresi, kerusakan yang kadang-kadang tidak dapat disembuhkan pada jantung, hati, ginjal, paru-paru dan otak serta mengakibatkan masalah pada ginjal.

Adapun sebab terjadinya semua ini karena diterapkannya sistem kapitalis sekuler yang memberikan kebebasan dalam bertingkah laku,  tidak mengatur pergaulan pada anak,  kurangnya pendidikan agama dari orang tua, tidak adanya ketakwaan individu,  kontrol masyarakat dan negara yang paling bertanggungjawab terhadap seluruh rakyatnya.  

Dalam Islam sudah jelas diketahui bahwa mabuk adalah haram. Entah itu mabuk minuman keras, narkoba atau lainnya tetmasuk mabuk karena ngelem (mumbul). Seorang pakar kesehatan pernah mengatakan, “Yang namanya narkoba pasti akan mengantarkan pada hilangnya fungsi kelima hal yang Islam benar-benar menjaganya, yaitu merusak agama, jiwa, akal, kehormatan dan harta.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan” (Majmu’ Al Fatawa, 34: 204).

Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” .(QS. Al A’rof: 157). Jadi, tidak diragukan lagi keharaman ngelem (mumbul)  ini. 

Jika melihat realita tersebut, jelas solusinya tidak cukup dengan melakukan penyuluhan, pembinaan, dan upaya rehabilitasi saja, karena ini adalah problem sistemik. Maka jika ingin mengentaskan secara tuntas, penyelesaiannya haruslah bersifat mendasar dan menyeluruh. Ada beberapa hal yang harus dilakukan diantaranya: 

Pertama, meningkatkan ketakwaan setiap individu masyarakat kepada Allah SWT yakni memahamkan bahwa mengonsumsi, mengedarkan bahkan memproduksi narkoba atau sejenis lainnya adalah perbuatan haram yang akan mendatangkan murka Allah dan di akhirat nanti pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka.

Kedua, menegakkan sistem hukum pidana Islam. Sistem pidana Islam, selain bernuansa ruhiah karena bersumber dari Allah SWT, juga mengandung hukuman yang berat. Dengan begitu, para pelakunya akan jera.

Ketiga, konsisten dalam penegakan hukum. Setiap orang yang menggunakan narkoba harus dijatuhi hukuman tegas. Orang yang sudah kecanduan harus dihukum berat. Demikian pula semua yang terlibat dalam pembuatan dan peredaran narkoba, termasuk para aparat yang menyeleweng. 

Keempat, aparat penegak hukum yang bertakwa sehingga hukum tidak dijulalbelikan. 
Dengan demikian perlu ada upaya agar tercipta ketakwaan individu, masyarakat, dan negara yang akan menerapkan sistem hukum Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a'lam bishshawab. 

Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.