Nikah Dini, Masalahkah?

Hot News

Hotline

Nikah Dini, Masalahkah?




Oleh: Amallia Fitriani

"Pernikahan dini sebaiknya janganlah terjadi...."
Kalimat tersebut merupakan penggalan sebuah lirik  lagu dari sebuah sinetron fenomenal Pernikahan Dini yang dibintangi Agnez Monica dan Sahrul Gunawan, 2002 silam. Dalam sinetron tersebut digambarkan bagaimana kehidupan pernikahan yang dilakukan oleh remaja yang notabene masih seumur jagung harus menghadapi begitu banyak tantangan dan masalah dalam menjalani kehidupan rumah tangganya. Karena usia mereka yang masih belia dan belum mampu mengelola emosinya dengan baik, rumah tangga mereka pada akhirnya  harus mengalami perceraian.

Mungkin seperti itulah yang ingin digambarkan kepada masyarakat tentang pernikahan dini. Seolah pernikahan dini ialah sebuah masalah yang harus dihindari karena akan begitu banyak resiko yang akan dihadapi bila pernikahan dini terjadi. 

Berkaitan dengan masih maraknya pernikahan dini di negeri ini, Mahkamah Konstitusi (MK) memerintahkan DPR untuk merevisi Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang batas usia perkawinan. Dalam putusannya, MK menyebut Indonesia telah masuk dalam kondisi darurat karena perkawinan anak semakin meningkat. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, sebaran angka perkawinan anak di atas 25 persen ada di 23 provinsi, (antaranews.com 14/12/2018).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan 1 dari 4 anak perempuan di Indonesia telah menikah pada umur kurang dari 18 tahun pada 2008 hingga 2015. Tercatat 1.348.886 anak perempuan telah menikah di bawah usia 18 tahun pada 2012. Bahkan setiap tahun, sekitar 300.000 anak perempuan di Indonesia, menikah di bawah usia 16 tahun. Tampaknya dalam kurun waktu 7 tahun sejak 2008 sampai 2015, hanya terjadi sedikit penurunan jumlah perkawinan usia dini di Indonesia. Karena usia di bawah 18 tahun masih digolongkan sebagai anak, berarti perkawinan di bawah 18 tahun adalah perkawinan anak. (kompas.com).

Untuk mengantisipasi nikah dini pemerintah pun merencanakan akan mencegah terjadinya pernikahan dini tersebut. Kasus pernikahan dini memang terjadi di Indonesia," ujar Yohana sesaat sebelum rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (16/4). Yohana menyebut pihaknya sudah melakukan segala cara dan upaya untuk mengedukasi para orang tua soal pernikahan dini. Bahkan, sudah ada ada gerakan stop perkawinan anak yang selalu disosialisasikan. 

Selain sosialisasi, Yohana menyebut Kementerian PPA dan Kementerian Agama berama LSM tengah membicarakan tentang revisi UU 1/1974 tentang Perkawinan. "Kami juga sudah mendekati Menteri Agama untuk melihat dan merevisi kembali UU Perkawinan Nomor 1/1974," jelasnya. Revisi itu akan fokus pada batas usia minimal perkawinan. Batas yang ada sekarang yaitu 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. 

"Bisa 20 tahun untuk anak perempuan dan 22 tahun untuk anak laki-laki, bisa seperti itu," demikian Yohana Yembise. Menurut Yohana, batas usia pernikahan harus dinaikkan karena bertentangan dengan UU Perlindungan Anak. Kajian kementeriannya, pernikahan usia anak juga banyak berujung pada kasus kekerasan, perceraian, meningkatkan angka putus sekolah, hingga menurunkan indeks pembangunan manusia. (nusantara.rmol.com).

Dalam sistem liberal sekuler saat ini kaum muslim tidak lagi menjadikan Alquran dan as-sunnah sebagai standar dalam mengatur kehidupannya. Bahkan mereka menjadikan apa yang telah Allah halalkan menjadi haram, pun sebaliknya. Misalnya, dalam hal pengaturan usia dalam pernikahan, alasan yang sering dikemukakan untuk pembatasan usia dini adalah masih belum mampu mengurus anak dan keluarga, berpotensi terserang kanker serviks, kehilangan masa depan, usia masih sekolah, rentan perceraian, dan lainnya. 

Padahal jika ditilik lebih jauh persoalan menikah dini bukan karena usia yang masih remaja atau alasan di atas. Kegelisahan pernikahan dini di tengah masyarakat sering terjadi tatkala keluarga malu menanggung aib. Pergaulan bebas muda-mudi jaman sekarang mengakibatkan kehamilan di luar nikah, pemerkosaan, pelaku lari dari tanggung jawab, dan persoalan lainnya. Kegagalan pendidikan dalam menanamkan aqidah dan keimanan yang kokoh pada anak begitu tampak jelas. 

Buktinya, mereka sudah tidak malu lagi memajang foto dan video mesranya di sosial media, bahkan sampai memperlihatkan kemesraannya kepada halayak ramai, seolah itu sebuah kebanggaan. Publik figur dan artis idola pun menyontohkan perilaku tak senonoh yang banyak dijiplak remaja. Lantas, bukankah sistem liberal sekular ini yang mengakibatkan anak-anak jatuh pada lembah kehinaan.

Pernikahan dini dalam pandangan Islam

Islam tidak menghalangi generasi muda untuk terus menuntut ilmu dan berkarya. Bahkan, Islam mendorong umatnya untuk senantiasa menimba ilmu dan meninggikan derajatnya dengan menjadi orang yang berilmu dan bertakwa. Namun dalam kondisi saat ini dengan sistem liberal sekulernya remaja digiring kepada kemaksiatan, seperti pergaulan bebas. Hal ini akan terus terjadi jika tidak ada benteng terakhir untuk mengakhiri kemaksiatan tersebut, di antaranya dengan jalan yg halal yaitu menikah.

Padahal di dalam Islam anjuran menyegerakan penyelenggaraan pernikahan sangatlah besar. Rasulullah Saw bersabda:
Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menjadi perisai baginya (HR. Jamaah dari Ibnu Maud).

Menurut syariat Islam, usia kelayakan pernikahan adalah usia kecakapan berbuat dan menerima hak (ahliyatul ada' wa al-wujub). Islam tidak menentukan batas usia namun mengatur usia baligh untuk siap menerima pembebanan hukum Islam. Tentu banyak hal yang harus disiapkan bukan sekedar menikah untuk menghindari kemaksiatan.

Karena pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah dimana seorang lelaki dan juga perempuan melakukan akad yang bertujuan untuk mendapatkan kehidupan sakinah [tenang dan damai], mawaddah [saling mencintai dengan penuh kasih sayang] dan rahmah [kehidupan yang dirahmati Allah SWT], kesiapan dalam pernikahan sangat diperlukan. Seperti kesiapan Ilmu, kesiapan materi dan kesiapan fisik.

Perppu perkawinan yang membatasi umur usia penikahan merupakan salah satu polemik bangsa ini. bagaimana tidak? Sebab hakikatnya pernikahan dini dalam Islam justru diperbolehkan. Namun karena melanggar UU, pernikahan dini dianggap tidak sah dan batal. Hal ini tentu menjadikan pernikahan menjadi sulit untuk dilaksanakan. Padahal fakta di lapangan menunjukkan bahwa remaja dalam sistem sekuler ini telah banyak yang jatuh pada pergaulan bebas. Akibatnya banyak gadis-gadis remaja yang hamil terlebih dahulu dan memilih untuk menikah.

Selain pergaulan yang bebas, pendidikan yang didapat juga tak seberapa untuk mengarahkan kematangan pribadi sang murid. Melahirkan generasi yang hanya sekedar hafal ilmu tanpa output yang jelas dan melahirkan generasi yang tak mampu hidup mandiri dalam mengarungi kehidupan fana ini.

Maka sejatinya pengaturan pembatasan usia pernikahan bukanlah solusi untk menekan angka pernikahan dini namun perlunya kita untuk evaluasi sistem perundangan yang kita gunakan sekarang. Kita membutuhkan sistem yang tepat yang sesuai dengan fitrah manusia, sistem yang ideal  yang dapat menyelesaikan polemik yang kompleks tersebut. 

Jawabannya hanya Islamlah satu-satunya sistem yang ideal yang mampu menyelesaikan seluruh problematika kehidupan, karena sistem Islam berasal dari Allah SWT Sang Maha Pencipta, bukan dari akal fikiran dan hawa nafsu manusia seperti sistem liberal sekuler yang kita gunakan saat ini. Waallahualam.

Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.