Nyanyian Rindu Senja

Hot News

Hotline

Nyanyian Rindu Senja




Oleh: Linda Wijayanti

Udara yang menusuk kulit sore ini, tak sedingin kesendirian Nenek Uni yang terlihat menerawang, menembus kaca jendela dan hujan yang menari-nari di luar. Menerawang jauh, entah apa yang berlarian di kepalanya. Ingatan-ingatan tentang almarhum suaminyakah, atau anak-anak serta cucu-cucunya yang ada di kota seberang. Mendung menyelimuti hati Nenek Uni yang tertatih menuju kursi jati yang telah mengelupas catnya. Dia terlihat mengambil sesuatu di tangannya. Ah, seperti sebuah buku. Eh, ternyata bukan. Sebuah foto album. Ya, foto album.

Dengan perlahan, dibukanya satu persatu foto yang ada dalam album itu. Hingga tangannya terhenti pada lembaran foto yang sedikit pudar. Terlihat foto bocah-bocah polos yang mengembangkan senyum di pipi mereka, dua bocah laki-laki dan dua anak perempuan. Sementara dia mengelus foto belahan hatinya yang telah menghadap Rabbnya, berjejer di sebelah potret dirinya. Sesekali Nenek Uni menghela napas dan kali ini dia tak kuasa membendung hujan yang mengucur dari pelupuk matanya.

***

"Sam, Ibu sakit, kamu sudah dengar kabar itu?" terdengar suara berat laki-laki di gagang handphone. "Iya, Mas. Aku dapat kabar dari Mbak Sari. Tadi Dia telpon Aku. Kapan Mas Romi mau pulang?" ucap Samsul, si bungsu dari empat bersaudara itu. "Aku belum tau, Rom. Insya Allah besok sore, selepas kerjaanku beres. Aku sama Mbakyumu, Ratih dan anak-anak juga tak bawa," tukas putra sulung dari keluarga Nenek Uni. "Mas, kalau bisa sore ini kita ke sana. Jangan nunggu besok. Mbak Rara dan Mbak Sari juga dalam perjalanan katanya. Sore ini ya, Mas. Aku takut ada apa-apa dengan Ibu."

***

Suara jangkrik yang mengerik menjadi nyanyian alam, dan kodok yang sedari tadi mengerok menyambut langkah putra-putri Nenek Uni yang memenuhi lantai berubin abu-abu itu. Semua telah lengkap, Romi, Sari, Rara dan si bungsu Samsul. Senyumpun merekah di pipi Nenek Uni melihat buah hati. Pemandangan yang jarang sekali. Ada getar sumringah dari raut wajahnya. Binar matanya menjelaskan semua. Satu persatu anak-anak Nenek Uni menanyai keadaannya. Memastikan tak terjadi apa-apa dengan nenek yang mengenakan salonpas dan jaket itu.

"Ah, tidak, tidak apa-apa. Aku sehat-sehat saja," ucap Nenek Uni bergetar. Ternyata sms yang dikirimnya telah berhasil menyatukan keluarganya. Utuh lengkap dengan masing-masing anak isteri mereka, pikirnya. Tak selang beberapa lama, dering ponsel satu persatu anak berbunyi, dan satu persatu anak-anaknya menarik diri untuk mengangkat telpon, pun dengan cucu-cucu Nenek Uni yang asyik dengan gadgetnya masing-masing. Terpasung dunia. Runtuh angan Nenek Uni saat Dia menyambangi satu persatu cucu-cucunya namun tak ada jawab. Lebih dingin dari hujan di luar.  Hanya anggukan dan jawaban sekenanya. Ingin sekali Nenek Uni berkisah tentang masa paginya, perjuangan saat belia. Namun harapan tinggal angan. Mereka menjadi manusia tunggal; sibuk dengan dunianya sendiri.

Sambil tergetar nenek Uni berkata, "Pulanglah, Aku tidak butuh kalian. Pulanglah, jika kalian hanya menjadi orang asing di rumah kalian sendiri. Pulanglah! Aku sudah sembuh! Urusilah urusan kalian masing-masing!"

Nenek Uni pun melangkah pasang menuju kamarnya dengan segera hingga menjatuhkan sebuah album foto.
"Mas, Mbak, apa ini?" ucap Rara putri ketiga. Ia pun membukanya dan menemukan secarik kertas.
"Sudah satu tahun Aku tidak bertemu dengan anak-anakku serta cucu-cucuku. Barang kali dengan Aku mengirimkan pesan kalau aku sakit, mereka akan bergegas mengunjungiku. Suamiku! Tenanglah di sana. Aku di sini baik-baik saja, meski Aku dilanda rindu pada anak-anak kita yang hanya bisa menatap mereka dari gambar ini, Aku sudah bahagia."

Terdengar suara isak tangis dari kamar utama yang pintunya tidak terkunci rapat. Suara parau isak tangis wanita senja itu. Yang hanya ingin merasakan hangatnya kebersamaan di tengah derasnya arus teknologi yang menggerus kebersamaan. Serta, kesibukan dunia yang dengan buas menerkam tali kasih rahim.

Tak terasa ruang keluarga yang tadinya ramai menjadi senyap. Semua wajah tertunduk menahan pilu dan rasa bersalah. Ah, andai mereka tahu bagaimana Ibu mereka bertaruh nyawa saat melahirkan dulu. Andai saja mereka ingat siapa yang mengganti popok saat udara malam menusuk kulit. Mata pun terjaga saat suara bayi memecah keheningan malam.
Ah, andai saja mereka tahu orang tua adalah pintu surga paling tengah. Pastilah mereka akan jatuh bangun menjaganya.

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.