Persatuan Hakiki, Libas Batas Negara Tanpa Sekat

Hot News

Hotline

Persatuan Hakiki, Libas Batas Negara Tanpa Sekat


Oleh: Fitri Hidayati, S.Pd



Apa yang ada dalam benak anda ketika mendengar kata persatuan? Pasti itu hal yang menyenangkan karena didalam persatuan terdapat kekuatan, ada sinergi, penuh kedamaian, bahkan diliputi cinta. Dalam persatuan kecil, bersatunya orang-orang dalam komunitas-komunitas yang lebih kecil tentu akan dinikmati maslahatnya oleh komunitas kecil tersebut.

Tetapi ketika bertemu dengan komunitas yang lain yang berbeda, tentu saja akan menjadi muncul persoalan-persoalan  karena mereka tidak disatukan dengan visi yang sama lagi. Walhasil persoalan akan menyelimuti manusia, sehingga persatuan senantiasa menjadi Pekerjaan Rumah (PR) panjang bagi umat manusia dalam komunitas global.

Berkecamuk sudah dalam pikiran kita, akan persatuan umat manusia bisa terwujud karena perbedaan tidak hanya yang kasat mata seperti warna kulit dan bentuk fisik melainkan juga software manusia yang berbeda terkait dengan pemikiran dan aneka latar belakang manusia. Jadi apakah persatuan itu akan menjadi cita-cita  absurd yang uthopis (khayali), atau berhenti pada jargon spirit cita-cita yang sulit diwujudkan.

Atau sebuah fakta baik yang niscaya bisa terwujud jika kita sungguh-sungguh untuk mewujudkannya atas dasar pemikiran dan metode yang benar. Perseteruan, perselisihan, dan peperangan antar manusia. Kelompok, dan bangsa akan selalu melanda jika umat ini terbelah-belah dan tidak bersatu. Kepentingan beradu kepentingan, keyakinan beradu keyakinan yang dihinggapi hawa nafsu manusia akan sering menjadi pencetus sulitnya terwujud persatuan umat. 

Sistem sekuler telah menjadi panggung besar ajang adu hawa nafsu dan kebebasan individu.  Sistem sekuler  semakin menjauhkan terwujudnya sebuah masyarakat dengan kesamaan pemikiran, perasaan dan aturan. Sekat-sekat bangsa menjadikan umat disibukkan dengan urusannya sendiri tanpa peduli urusan yang lain. Sementara si kuat adidaya semakin memainkan peran untuk mencampuri, mengadu-domba, dan menjajah secara halus demi kepentingannya. Sungguh maka fakta kebebasanlah merupakan hal yang absurd.


Islam Rahmatan lil Alamin mewujudkan persatuan yang hakiki.

Dalam sistem sekularis-kapitalis, nilai-nilai Islam dalam sebuah sistem telah dipinggirkan. Islam telah dikerat-kerat dalam bentuk bangsa-bangsa membuat umat semakin lemah. Dirasa atau tidak penjajahan kepada kaum musimin oleh ide-ide asing membuat umat Muhammad dan ajarannya semakin  termarjinalkan. Persatuan Islam yang tercabik-cabik membuat dunia Islam semakin tercabik-cabik.

Di tingkat dunia, Islamophobia adalah salah satu contoh yang paling jelas dari upaya musuh untuk merusak citra Islam dan memecah belah dunia Islam. Bangsa-bangsa Muslim yang terbentang dari Yaman, Bahrain, Nigeria, Myanmar, Afghanistan, Irak, Suriah dan Palestina hanya sebagian dari contoh kondisi umat Islam dewasa ini yang mengkhawatirkan.

Jika persatuan Islam terwujud, maka kondisinya tidak akan demikian. Oleh karena itu, masalah paling penting saat ini adalah persatuan dengan menjadikan Alquran dan Nabi Muhammad Saw sebagai pedoman bersama umat Islam. Dakwah Islam untuk penegakan syari’ah dalam bingkai khilafah akan menjadi solusi persoalan umat saat ini.

Namun demikian masih ada kekaburan bahkan kesalahpahaman, baik bagi yang mencintai Islam maupun yang membencinya. Terutama dalam penerapan syariat Islam. Bukan hanya orang awam, bahkan di kalangan umat Islam sendiri yang menyatakan bahwa syari’at Islam diterapkan hanya untuk orang Islam saja, ada juga yang bertanya: kalau Islam diterapkan bagaimana nasib non muslim? , atau pernyataan : negara kita ini kan majemuk, bukan hanya Islam, jadi ya ndak cocoklah Islam di sini !

Di sisi lain ketika dijelaskan bahwa Khilafah akan menaungi seluruh rakyatnya, menerapkan Islam kepada mereka, dan diberikan perinciannya. Akan tetapi akhirnya muncul beberapa pernyataan yang tidak benar. Banyak ungkapan bernada miring bahwa khilafah anti keragaman dan kebinekaan, padahal perlu dipahami  bahwa sistem Islam akan  menaungi mereka semua, dan menerapkan syari’at untuk semua rakyat, antara lain:
a) Negara melaksanakan Syariat Islam atas seluruh rakyat yang berkewarganegaraan khilafah Islam, baik yang muslim maupun yang non-muslim dalam bentuk-bentuk berikut ini :
b) Negara melaksanakan seluruh hukum Islam atas kaum muslimin tanpa kecuali.
c) Orang-orang non-muslim dibiarkan memeluk akidah dan menjalankan ibadahnya masing-masing.
d) Orang-orang yang murtad dari Islam, atas mereka dijatuhkan hukum murtad jika mereka sendiri yang melakukan kemurtadan.

Jika kedudukannya sebagai anak-anak orang murtad atau dilahirkan sebagai non-muslim, maka mereka diperlakukan bukan sebagai orang Islam sesuai dengan kondisi mereka selaku orang-orang musyrik atau ahli kitab. Terhadap orang-orang non-muslim, dalam hal makanan, minuman dan pakaian, diperlakukan sesuai dengan agama mereka, dalam batas apa yang diperbolehkan hukum-hukum syara’. 

Perkara-perkara nikah dan talak antara sesama non-muslim, diselesaikan sesuai dengan agama mereka dan jika terjadi antara muslim dan non-muslim, perkara tersebut diselesaikan menurut hukum Islam. Hukum-hukum syara’ selain di atas, seperti muamalat, uqubat, bayyinat, ketatanegaraan, ekonomi dan sebagainya, dilaksanakan oleh negara atas seluruh rakyat, baik yang muslim maupun yang bukan.

Pelaksanaannya juga berlaku terhadap mu’ahidin, yaitu orang-orang yang negaranya terikat perjanjian dengan negara Khilafah; terhadap musta’minin, yaitu orang-orang yang mendapat jaminan keamanan untuk masuk ke negeri Islam; dan terhadap siapa saja yang berada di bawah kekuasaan Islam. Wallohu a’lam

Editor Lulu

Ilustrasi Pinterest.com

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.