Pesantren Juara Yang Tersandera

Hot News

Hotline

Pesantren Juara Yang Tersandera




Oleh : Lulu

Belum lama ini Gubernur Jawa Barat Ridwal Kamil meluncurkan Program One Pesantren One Product (OPOP), bertempat di Pondok Pesantren Al Ittifaq Kampung Ciburial Desa Alam Endah, Rancabali Kabupaten Bandung pada Rabu (12/12/2018). Program ini merupakan salah satu dari 17 program untuk mewujudkan Pesantren Juara.

OPOP juga merupakan salah satu program prioritas pada 100 hari kerja Ridwan Kamil. Konsep itu tak jauh berbeda dengan program satu desa satu perusahaan yang ia janjikan saat kampanye. "Intinya sama, memberdayakan dalam lingkungan keumatan Islam khususnya bagaimana pesantren ini bisa berdaya tanpa harus mengandalkan donasi dari orangtua siswa atau pemerintah," kata pria yang akrab disapa Emil tersebut, dikutip dari okezone.com (12/12).

Emil mengatakan bahwa dari 9.000 pesantren di Jawa Barat, sebagai tahap awal akan dimulai pada 600 pesantren. Melibatkan camat dan Pemprov. Inspirasi program OPOP menurutnya berasal dari Pesantren Nurul Iman di daerah Parung, Bogor. Mereka mendirikan pabrik roti hingga bisa membiayai para santrinya guna menuntut ilmu dengan gratis.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat, Dudi Sudrajat Abdurachim menambahkan, program OPOP akan dilaksanakan mulai 2019 dan pada 12 Desember 2018 ini di-launching oleh Gubernur Jawa Barat. Untuk mewujudkan Pesantren Juara ada 17 program, selain OPOP, salah satunya adalah pendidikan Islam moderat dan wawasan kebangsaan.

/Pesantren Dalam Sekularisme/

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai sejarah panjang dan unik. Secara historis, pesantren termasuk pendidikan Islam yang paling awal dan masih bertahan sampai sekarang. Berbeda dengan lembaga pendidikan lain, pesantren berjasa dalam mencetak kader ulama, dan kemudian berperan aktif dalam penyebaran Islam.

Pada masa penjajahan, pesantren bahkan menjadi basis perjuangan kaum pribumi. Banyak perlawanan terhadap kolonial yang berawal di sana. Sebagai tempat pendidikan agama ia menyatu dengan masyarakat. Secara umum, terdapat akumulasi tata nilai dan kehidupan spiritual Islam di pondok pesantren.
Akan tetapi hal sebaik ini kemudian dibelokkan arahnya oleh penguasa. Sebab ketika Islam moderat masuk dalam kurikulumnya, maka kemurnian Islam sulit dijaga. Karena pada dasarnya pesantren adalah lembaga tafaqquh fid-din yang meneruskan risalah Nabi Muhammad Saw.
Bukan hanya itu, dengan dalih pemberdayaan ekonomi, penguasa memberi gelar juara pada pesantren yang mampu membiayai kebutuhan pendidikannya sendiri. Pesantren didorong mandiri. Bahkan diharapkan dalam 5 tahun ke depan, tidak mengandalkan bantuan pemerintah.

Untuk seluruh biaya operasional seperti pembangunan fasilitas pendidikan, gaji guru hingga pendidikan gratis bagi para santri, pemerintah mengharapkan pesantren bisa menutupinya melalui program ini. Satu lagi bukti bahwa sekularisme lepas tangan pada pengurusan umat. Inilah pesantren juara ala sekularisme.

Biaya pendidikan yang semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah, malah dibebankan pada umat.  Belum lagi dengan masuknya Islam moderat dengan wawasan kebangsaan pada salah satu programnya, menjadi ancaman tersendiri. Entah bagaimana kelak nasib para ulama pewaris nabi. Apakah pemikiran mereka akan tetap lurus, atau bengkok.

/Pesantren Dalam Islam/
Pendidikan adalah thariqah untuk menjaga tsaqafah. Ketika perhatian negara dan umat terhadap pendidikan melemah, pelan namun pasti umat akan semakin jauh dari Islam.   Akibatnya, umat mengalami kemunduran hampir di seluruh bidang kehidupan.

Keadaan itu semakin diperparah dengan keberhasilan Barat memasukkan tsaqafah-nya, seperti nasionalisme dan demokrasi. Maka umatpun semakin asing terhadap tsaqafah Islam, tsaqofah-nya sendiri. 
Sabda Nabi saw.:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR. al-Bukhari).
Negara Khilafah memberi perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan. Khalifah Amir Abdurrahman Al-Umawi membangun Universitas Al Qurthubah di Cordova, Andalusia. Umat Islam belajar di sana, termasuk perwakilan dari negara-negara Eropa.

Khalifah Harun Al Rasyid membangun Baytul Hikmah. Sebuah madrasah 'ilmi sekaligus perpustakaan besar di Baghdad. Sultan Utsmani bahkan membagikan Alquran beserta tafsirnya dalam bahasa Melayu karya Syaikh Abdul Ra'uf As Sinkli dari Aceh, secara gratis ke Indonesia dan Malaysia. 
Para Khalifah yang mewarisi keteladanan Rasulullah, juga menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran, dan lain sebagainya.  

Negara Khilafah juga berkewajiban menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang ahli di bidangnya, sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai yang bekerja di kantor pendidikan. Seluruh pembiayaan pendidikan di dalam negara Khilafah diambil dari Baitul Mal, yakni dari pos fai’ dan kharaj serta pos milkiyyah ‘amah.    
Seluruh pemasukan Negara Khilafah, baik yang dimasukkan di dalam pos fai’ dan kharaj, serta pos milkiyyah ‘amah, boleh diambil untuk membiayai sektor pendidikan. Perbedaan yang sangat jauh antara negara Khilafah dibandingkan penguasa kita yang hidup dalam udara sekularisme.

Perhatian Khilafah sangat besar terhadap dunia pendidikan. Karena masyarakat dibangun dengan landasan pemikiran dan keilmuan. Sebaliknya, negara sekularisme terbukti rapuh, sebab tidak mampu memberikan perhatian pada pendidikan umat. Maka kehancuran bagi negara sekuler, hanya tinggal menghitung waktu. 
Oleh sebab itu demi tegaknya izzul Islam wal muslim, tinggalkan penguasa yang ingkar janji, tak mampu mengurusi umat, beserta seluruh ideologi kufur yang diembannya. Hanya Khilafah yang tepat bagi umat yang merindukan kebangkitan. Wallahu 'alam.


Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.