Sekulerisme Menggugat Poligami

Hot News

Hotline

Sekulerisme Menggugat Poligami




Oleh: Puji Ariyanti
(Pemerhati generasi)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta tidak ada politisasi isu SARA, khususnya tentang poligami untuk kepentingan politik. Waketum MUI Zainut Tauhid mengatakan, poligami merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu bersentuhan dengan keyakinan dan syariat agama Islam.

"Ketika hal itu dieksploitasi untuk kepentingan politik, maka dipastikan menimbulkan ketersinggungan dan melukai perasaan umat Islam," kata Zainut lewat keterangan tertulis diterima, Merdeka.com (18/12/18).

Kembali, sekuler menjatuhkan bualannya. Jika belum lama ini mereka menentang perda syariah, kali ini mereka terusik praktik  poligami yang dilakukan oleh para suami. Sehingga dengan lantangnya dan sok tahu mereka mengatakan bahwa poligami bukan ajaran Islam.

Ada apa dengan mereka sehingga tiada hentinya mencabik satu persatu syariat Allah. Isu poligami bukan hal yang baru.  Banyak pro dan kontra silih berganti. Praktik poligami diklaim sebagai perusak rumah tangga sebelumnya, bahkan dengan sebutan merusak kebahagiaan istri pertama.

Hal ini cukup membuat gusar pemerintah sehingga menerbitkan undang-undang tentang poligami, Cakupan  peraturan pemerintah tentang poligami-pun  bukan hanya bagi Pegawai Negeri Sipil saja (PNS), namun juga berlaku untuk pejabat negara, pejabat pemerintah, dan masyarakat luas. (Peraturan Pemerintah [PP] Nomor 45/1990 tentang poligami).

Pertanyaannya, jika poligami dihujat bahkan dilarang dengan aneka perangkat hukum untuk menjerat pelakunya apakah tidak semakin menyuburkan perzinaan dan perselingkuhan yang kian merajalela?

Keluarga adalah sebuah institusi terkecil dalam sebuah masyarakat. Hal inilah yang perlu diwaspadai oleh kaum muslim, bahwa sekuler dan antek-antek kapitalis berupaya menghilangkan hukum-hukum Islam yang masih tersisa. Salah satunya adalah keabsahan nasab dalam keluhuran keluarga-keluarga muslim.

Benarkah poligami menjadi  ancaman bagi sebuah keluarga, sehingga pemerintah memberlakukan undang-undang pelarangan bagi pelaku poligami? Bukankah yang lebih tepat jika pelaku zina yang dijerat? Bagaimana sesungguhnya Islam memandang tentang poligami?

Harus menjadi kejelasan, bahwa Islam tidak menjadikan poligami sebagai kewajiban atas kaum muslimin. Bukan pula suatu perbuatan yang sunnah bagi mereka. Melainkan sesuatu yang mubah, yang boleh mereka lakukan.

Dasar kebolehan poligami tersebut adalah, karena Allah SWT berfirman.
”Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya”. (QS an-Nisa’ [4]: 3).

Dengan diturunkannya ayat ini, seorang Muslim dibatasi hanya boleh beristeri maksimal empat orang saja, tidak boleh lebih dari itu. Kelanjutan dalam kalimat pada ayat di atas terdapat ungkapan: Kemudian jika kalian khawatir tidak akan berlaku adil, nikahilah seorang saja. Artinya, jika seorang pria khawatir untuk tidak dapat berlaku adil (dengan beristri lebih dari satu), Islam menganjurkan untuk menikah hanya dengan seorang wanita saja sekaligus meninggalkan upaya untuk menghimpun lebih dari seorang wanita. Jika ia lebih suka memilih seorang wanita, itu adalah pilihan yang paling dekat untuk tidak berlaku aniaya atau curang. Inilah makna dari kalimat: •yang demikian adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya• (kitab terjemah sistem pergaulan dalam Islam hal 212)

Demikianlah, Alquran telah menyatakan kebolehannya dalam hal poligami, maka poligami merupakan sesuatu yang terpuji, tidak seorangpun manusia melarang ataupun mengusiknya dari sebuah ketetapan yang telah diperbolehkan Allah SWT, karena sesungguhnya poligami adalah sebuah solusi yang dimiliki manusia dalam memecahkan problema yang terjadi dalam masyarakat. Sebaliknya, jika melarang poligami merupakan perbuatan yang tercela dan yang demikian tersebut merupakan bagian dari hukum kufur.  
Wallahu'alam bissawab.


Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.