Sembako Rutin Melambung di Akhir Tahun, Mengapa Tak Diantisipasi?

Hot News

Hotline

Sembako Rutin Melambung di Akhir Tahun, Mengapa Tak Diantisipasi?




Oleh: Endang Setyowati
(Member Revowriter)


Saat akhir tahun seperti ini, membuat ibu-ibu rumah tangga harus lebih bijak mengatur keuangan. Bagaimana tidak? Karena biasanya setiap akhir tahun menjelang tahun baru, harga-harga sembako berganti harga. Walaupun sudah sering kita mengalaminya, tetapi tetap saja tidak ada penyelesaiannya. Selalu terulang lagi dan lagi.

Tren kenaikan harga pangan di akhir tahun dinilai berpotensi terjadi di tahun 2018. Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyebut ada beberapa komponen yang menyebabkan kenaikan harga pangan di akhir tahun, Kontan.co.id (15/11).

Komponen pertama adalah ancaman inflasi yang kemungkinan terjadi di akhir tahun. Menurut Eko Listianto selaku Wakil Direktur Indef menyebut, Inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price) dan inflasi bergejolak kerap menjadi pemicu lonjakan inflasi di Indonesia. 

Pemicu melonjaknya inflasi harga barang yang diatur pemerintah biasanya dipicu oleh kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Sementara inflasi barang bergejolak kerap kali terjadi ketika permintaan bahan pangan dan makanan mengalami lonjakan menghadapi lebaran, natal dan tahun baru,” kata Eko di Jakarta Selatan, Kamis (15/11/2018). 

Kebutuhan pangan adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi, yang tidak bisa ditawar lagi. Karena jika tidak terpenuhi maka yang terfatal akan mengakibatkan kematian. Kenaikan harga pangan dengan alasan akhir tahun secara berulang, seharusnya sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari. 

Ini adalah masalah tahunan yang semestinya bisa diantisipasi dan dicarikan penyelesaiannya.  Faktanya momen seperti ini sering dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan cara menimbun bahan pokok agar mendapat untung saat ada kenaikan harga. 

Padahal dalam Islam ada sanksi yang tegas bagi para penimbun barang. Namun di samping itu, tetap ada edukasi yang intens kepada masyarakat baik produsen, pedagang, maupun konsumen. Abu Umamah al-Baihaqi berkata : “Rasulullah SAW melarang penimbunan makanan” (HR. Al-Hakim). 

Kebijakan tata kelola pangan yang sesuai syariat Islam inilah yang akan menuntaskan persoalan kenaikan harga pangan. Islam juga telah mengharamkan bagi semua pihak, baik itu pengusaha, importir, produsen atau pedagang untuk melakukan kesepakatan, kolusi dan persekongkolan yang bertujuan mengatur dan mengendalikan harga suatu produk. 

Misalnya dengan menimbun maupun membuat kesepakatan harga jual. Hal itu berdasarkan sabda Rasul saw: 
Siapa saja yang turut campur (melakukan intervensi) dari harga-harga kaum muslimin untuk menaikkan harga atas mereka, maka adalah hak bagi Allah untuk mendudukkannya dengan tempat duduk dari api pada hari kiamat kelak” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Ath-Thabarani). 

Selain itu, karena problem ekonomi lebih tertumpu pada distribusi barang dan jasa. Produksi dan pertumbuhan ekonomi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan individu di masyarakat. Jika ada individu yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, maka kewajiban negaralah yang memenuhi kebutuhannya. Begitu juga dengan kebutuhan jasa yang meliputi pendidikan, kesehatan, serta keamanan.

Dana bisa didapat dengan mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya alam milik umum dan milik negara maupun melalui kebijakan secara langsung dengan memberikan subsidi dari Baitul Mal. Maka sudah sepatutnya kita menerapkan sistem ekonomi Islam secara total yang akan memberikan kestabilan dan kemakmuran bagi semua rakyat, baik muslim maupun non muslim. Wallahu a'lam bi ash shawab.

Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.