Uyghur Merana, Dunia Seakan Buta

Hot News

Hotline

Uyghur Merana, Dunia Seakan Buta




Oleh: Zahrotun N.F., S.Pd
Praktisi Pendidikan-Nganjuk


Kabar menyedihkan kembali tersiar dari tanah Xinjiang. Muslim Uyghur, salah satu etnis muslim kembali merana. Mereka ditahan dirumah sendiri, dijaga ketat bagai penjahat bumi, dan mendapat perlakuan keji.  Bahkan mereka dianggap sebagai 'musuh negara' karena ketaatannya pada Agama.

Etnis Uyghur adalah salah satu etnis muslim yang taat. Sebagaimana umat muslim lainnya, muslim Uyghur ingin menerapkan apa saja yang diperintahkan Allah. Namun ini mengusik pemerintah Xinjiang yang ingin menjadikan mereka sekuler. Berbagai upayapun penguasa lakukan untuk menjauhkan orang-orang beriman ini dari ketaatan. 

Sejak september lalu otoritas China mengirim satu juta warga Uyghur k kamp-kamp penahanan dan orang-orang yang ditangkap adalah orang-orang yang menunjukkan kepatuhannya terhadap ajaran Islam. Mereka diperlakukan sebagai penderita penyakit mental dan dipaksa mengikuti propaganda partai komunis. 

Mereka diwajibkan untuk mengikuti cuci otak  setiap hari dan jika tidak melakukannya mereka akan disiksa seperti dilarang tidur, dikurung di ruang isolasi, hingga berbagai siksaan fisik lainnya (merdeka.com, 12/9/2018)

Mereka Merana, Dunia seakan Buta

Penderitaan Uyghur ini telah lama dirasakan. Mereka merana meminta bantuan dunia namun belum membuahkan hasil. Banyak penderitaan mereka yang diekspose media namun seakan tidak ada pengaruhnya. PBB yang menyerukan kedamaian dunia dan meninggikan hak asasi manusia seakan lumpuh tak berdaya di hadapan pemerintah China. 

Penderitaan Uyghur terus berlanjut hingga korban semakin tak terbendung. Bahkan yang lebih memilukan, negara-negara berpenduduk mayoritas muslim seakan tidak melihat. Tidak ada upaya apapun yang mereka lakukan untuk membela saudaranya dan melawan negara tirani komunis ini.

Kondisi Uyghur yang merupakan kaum minoritas ini menambah deretan panjang penderitaan kaum muslim minoritas di dunia. Rohingya di Myanmar dan Palestina yang terjepit di jalur Ghaza pun tak jauh beda kondisinya. Semua menderita, semua sengsara, dan dunia seakan tak mampu melakukan apa-apa. Bahkan hanya untuk mengecap pelakunya 'teroris' tak ada yang melakukannya. 

Padahal aksi teror terorganisir bahkan genosida oleh pemerintah jelas nyata di depan mata, tak mampu membuat dunia bergerak tegas dan berani menentang itu semua. Dunia seakan tutup mata, tutup telinga, dan tutup mulut jika muslim jadi korban.  

Perbedaan nyata nampak jika muslim didakwa sebagai “tersangka”. Kejadian 11/9 di WTC 2001 silam yang diduga dilakukan oleh muslim langsung membuat dunia bergerak secara massif untuk menangkap pelaku. Bahkan semua disusun rapi dengan kesiapan yang matang.

War On Terorism pun dikeluarkan dan dipatuhi oleh dunia. Cap “teroris” tersemat pada muslim yang akhirnya mengakibatkan Islamophobia di seluruh wilayah. Bahkan tak jarang muslim yang tidak bersalah pun jadi korban. Padahal, pelakunya hanya sekelompok orang itu pun masih banyak pihak yang meragukan kebenarannya.

Beginilah wujud dunia yang saat ini nyata di depan mata. Muslim menderita dan dunia bungkam. Di manakah mereka? Semua bisa menjawabnya. Dunia tidak lagi bergerak untuk menegakkan keadilan tetapi berpihak kepada siapa yang menjadi tuan. 

Begitu banyak orang yang demo dan meminta keadilan, tidak berpengaruh karena mereka tidak menemukan keuntungan saat membela muslim yang jadi korban. Bahkan kecaman dari berbagai negara pun seakan tidak pernah dihiraukan. 

Pentingnya Persatuan Umat

Beginilah kondisi kaum muslim di dunia. Penderitaan terus berlanjut dan seakan tidak ada habisnya. Menderita saat menjadi minoritas dan tak berdaya saat menjadi mayoritas. Hal ini karena kaum muslim terpecah belah. Umat muslim dibatasi oleh sekat-sekat nasionalisme yang membuat mereka tidak memikirkan nasib saudaranya di luar. 

Kekuatan mereka dipecah dan membuat kaum muslim yang jumlahnya banyak seakan tak berdaya. Padahal Allah menyampaikan bahwa umat muslim adalah saudara dan umat yang satu. Setiap keterdiaman atas kezaliman akan ditanyakan nanti di akhirat. 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (TQS. Al-Imron:103).

Rasulullah mencontohkan bagaimana menyatukan umat muslim adalah dengan kepemimpinan yang satu, Khilafah. Bersatunya kaum muslim inilah yang menjadikannya menjadi umat kuat dan terbaik. Sehingga sejarah membuktikan Islam mampu menorehkan tinta emas peradaban. Rahmat pun bukan hanya dirasakan oleh umat muslim tetapi juga umat di seluruh dunia. Hal ini karena Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Oleh karena itu, persatuan umat inilah yang dibutuhkan dan diperjuangkan untuk melepaskan penderitaan kaum muslim di dunia. Mempersatukan umat dalam satu kepemimpinan, Khilafah ala minhajin nubuwwwah.



Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.