Yaman dan Krisis Kemanusiaan

Hot News

Hotline

Yaman dan Krisis Kemanusiaan





Oleh: Qiya Amaliah Syahidah
(Muslimah Media Konawe)



Reuni 212 berlangsung sukses. Belasan juta umat Islam hadir pada perhelatan akbar yang menyatukan kaum muslim dari berbagai ormas dan kalangan. Namun sayang, di belahan bumi lainnya, Yaman,  justru terjadi sebaliknya. Pertikaian politik yang terjadi hampir 4 tahun ini menimbulkan kepedihan mendalam bagi warga Yaman. 


Gabriel Gatehouse dari BBC Newsnight kembali dari Yaman. Ia melihat secara kasat mata krisis kemanusiaan yang sangat memilukan. Ia menyebut Yaman sebagai forgotten war. Setelah 3 tahun, situasi di Yaman bukan membaik, tapi justru memburuk. Yaman sedang mengarah pada "Negara Gagal" (Detiknews.com, 31/08/2017).


Stasiun televisi Al-Jazeera melaporkan, setidaknya menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ada 10.000 warga Yaman tewas dan 40.000 warga terluka. Menurut data PBB, ketika konflik memasuki tahun keempat, sekitar 14 juta orang di Yaman. Kira-kira setengah dari total penduduk negara itu  beresiko kelaparan.


Di lain pihak, menurut badan amal terkemuka yang berbasis di Inggris, Save The Children diperkirakan sekitar 85.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal karena gizi buruk akut, sebagai imbas dari perang Yaman yang telah berlangsung sejak 2014 (Liputan6.com, 21/11/2018).


Belum lagi ancaman penyakit kolera yang sudah akut yang bisa berakibat hilangnya nyawa dalam jumlah yang lebih besar lagi. Ribuan warga terancam tewas akibat konflik yang berkepanjangan. Kenapa semua ini bisa terjadi? 


Pada mulanya terjadi Arab Spring. Seperti halnya di Tunisia, Libya, dan Mesir, warga Yaman juga menuntut adanya kebebasan, keadilan, kehormatan, dan pergantian rezim. Rezim yang berkuasa, Ali Abdullah Saleh selama puluhan tahun dikenal korup dan otoriter itu akhirnya berhasil ditumbangkan. Namun, kebebasan, keadilan, dan kehormatan masih menjadi agenda yang terbengkalai hingga saat ini. 


Ironisnya, pergantian rezim di Yaman bukan awal dari perubahan ke arah yang lebih baik. Sebaliknya, pergantian rezim merupakan awal dari munculnya petaka. Situasi  justru semakin tidak menentu disebabkan tersumbatnya kanal dialog untuk mencapai mufakat di antara faksi-faksi politik dan suku. Pasca ditetapkannya Abd-Robbu Mansour Hadi sebagai Presiden, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden, Yaman justru makin membara.


Akar Masalah

Campur Tangan Arab Saudi dan sekutunya Amerika Serikat dalam mendikte urusan dalam negeri Yaman menjadi salah satu faktor penyebab kisruh politik. Ini juga menjadi penyebab lahirnya perlawanan dari faksi Houthi yang selama ini menguasai wilayah bagian utara Yaman. Intervensi Arab Saudi dan Amerika Serikat dalam urusan Yaman menyebabkan hilangnya kembali harapan Houthi untuk melihat masa depan yang lebih baik.


Houthi mencium gelagat buruk akan disingkirkan Arab Saudi, karena bermazhab Rafidhoh yang secara ideologis kontra-Wahabisme Arab Saudi. Houthi dan rezim Ali Abdullah Saleh saling bahu-membahu untuk melawan rezim yang dikendalikan oleh Arab Saudi. Padahal, Houthi dulunya menjadi oposisi rezim Ali Abdullah Saleh.


Sebagaimana sebelum musim semi di Yaman, di mana Arab Saudi memegang kendali rezim di Yaman, maka pasca musim semi yang berhasil menggulingkan rezim Ali Abdullah Saleh, Arab Saudi tidak mau kehilangan pengaruhnya di Yaman. Apalagi Yaman berbatasan langsung dengan Arab Saudi, sehingga ada kepentingan secara politik teritorial, khususnya dalam rangka mengamankan perbatasan.

Solusi Islam 

Runtuhnya institusi politik pemersatu kaum muslim menjadi penyebab utama kemalangan yang menimpa  umat Islam. Maka praktis, kaum muslimin hidup dalam ikatan nasionalisme dan terpecah menjadi negeri-negeri kecil yang lemah. Alih-alih menyelesaikan persoalan kaum muslim lain, persoalan negeri sendiri saja masih carut marut. Bahkan yang paling parah sesama negeri-negeri muslim pun saling perang akibat dagelan politik barat.  


Maka tugas memerangi orang-orang yang menentang Islam dan melindungi perbatasan kaum muslim agar tidak ada celah bagi musuh untuk merusak kehormatan dan menumpahkan darah orang muslim adalah salah satu dari sepuluh tugas yang harus dilakukan oleh seorang Khalifah (lihat Al-Mawardi, Al-ahkan As-sultoniyah, hlm. 23).


Khalifah pun tidak akan menyalahi syariat Islam untuk berwa'la kepada orang kafir dalam menyelesaikan persoalan kaum muslimin, karena Allah telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” (TQS.Ali Imran 118).


Persoalan Palestina, Rohingya, Suriah dan lain-lain termasuk Yaman tidak mungkin diselesaikan oleh kaum yang membenci Islam dan syariat-Nya. Lihat saja, bagaimana PBB terkesan lambat dan mengulur-ngulur waktu. Bahkan dunia pun seakan buta mata jika korbannya umat Islam. 


Maka dari itu, solusi satu-satunya untuk menyelesaikan krisis Yaman khususnya, maupun  persoalan kaum muslim umumnya. Menyatukan negeri-negeri muslim, serta  menghilangkan intervensi AS adalah mewujudkan institusi politik Islam yakni Daulah Khilafah Islamiyah, di mana Khalifah akan menyelesaikan krisis Yaman berdasarkan aturan Allah SWT. Wallahu a'lam bisshawab.


Editor Lulu

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.