Kemaksiatan Tak Berujung : Apa Solusinya?

Hot News

Hotline

Kemaksiatan Tak Berujung : Apa Solusinya?


Dapurpena.com - Tahun 2019 telah dimulai. Semua orang mengharapkan terjadi perubahan secara signifikan di tahun ini. Sebagai penyembuh dari tahun sebelumnya, tahun yang penuh musibah, berlimpah derita, karena dihujani bencana. Nyatanya kontras dengan hal itu, awal tahun telah dibuka dengan sesuatu yang meresahkan hati para orang tua. 

Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jawa Timur menetapkan dua orang tersangka dalam kasus prostitusi online yang melibatkan artis. Kedua orang yang ditetapkan tersangka adalah mucikari yang berasal dari Jakarta Selatan, berinisial TN (28) dan ES (37). (Republika.co.id ,  6/1/2019) 

Apapun dalih yang mereka jadikan kambing hitam, inilah realita sistem demokrasi yang diterapkan di tengah–tengah ummat. Mengagungkan kebebasan, kapitalisme jadi landasan, akibatnya semakin merebak kemaksiatan disebabkan tingkah manusia yang kebablasan. 

Bagaimana tidak? Sekuat apapun kita menjaga diri kita, keluarga, maupun lingkungan sekitar kita, namun jika penyedia pintu kemaksiatan masih diacuhkan, maka hancurlah masa depan bangsa.

Pada tahun 2007, Indonesia mendapatkan Medali Demokrasi oleh IAPC (International Association of Political Consultants). “Ini merupakan pengakuan masyarakat internasional bahwa Indonesia memang negara Demokratik” kata Ketua IAPC, Pri Sulistyo dalam konferensi pers di kantor presiden. Indonesia dinilai berhasil mengembangkan dan melaksanakan sistem Demokrasi dengan baik. (Tempo.com , 11/10/2007) .

Telah kita saksikan, bukti ‘keberhasilan’ demokrasi yang selama ini menguasai kita. Apakah permasalahan terselesaikan? Apakah prostitusi dan segala macam kemaksiatan telah dimusnahkan? Atau masyarakat kita ini tengah merasakan kesejahteraan? Justru sebaliknya, satu permasalahan hilang terganti dengan ratusan anak masalah baru. 

Banyak yang mengatakan bahwa hal ini hanyalah salah satu bentuk penyimpangan demokrasi, dan bukannya bagian dari demokrasi itu sendiri. Namun terbantahkan dengan fakta-fakta penyimpangan yang terjadi secara sistemik. Disebabkan karena kebijakan politik yang diamalkan hanya untuk merampas dan mempertahankan kekuasaan, bukannya terfokus pada terjaminnya hak dasar individu dan masyarakat. 

Kontradiktif dengan Islam, di mana politik dimaknai sebagai pelayanan, bukan sekadar jalan untuk meraih kekuasaan. Maka jika seseorang mendapatkan tampuk kekuasaan, hal itu didapatkan bukan untuk pemenuhan syahwat, tapi demi pelayanan kepada rakyat sekaligus sikap taat kepada Dzat Pemberi Rahmat. 

Sebagaimana sikap yang ditunjukkan sahabat Nabi SAW, Said bin Amir Aljumahi ra. saat ditawari jabatan wali (gubernur) oleh Khalifah Umar ra., beliau menjawab, “Aku nasihati engkau wahai Umar, janganlah engkau memfitnahku”.

Selaras dengan sabda Nabi SAW. kepada Abu Dzar yang meminta jabatan, “Sesungguhnya jabatan itu merupakan suatu amanah. Jabatan itu pada hari kiamat merupakan (sumber) suatu kehinaan dan penyesalan, keculai bagi yang mengambil dengan cara yang benar dan menunaikan kewajibannya dengan sebaik–sebaiknya”. (H.R. Muslim)

Sudah waktunya kita segera tersadar dan bangkit untuk segera melakukan perubahan yang fundamental. Bukan sekadar merubah rezim tapi dengan mencabut dan mengganti sistem yang terterap saat ini. Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis : Nadia Salsabyla 
Penulis adalah Mahasiswi PBA UMS



Editor : M.N. Fadillah

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.