Pencurian Motor Mengintai Masyarakat

Hot News

Hotline

Pencurian Motor Mengintai Masyarakat


Oleh: Epi Aryani*

Dapurpena.com - Tahun berganti, keamanan di Kota tercinta, Karawang, masih saja mengkhawatirkan. Sepanjang 2018, ada 1.924 tindak pidana yang terjadi. Kasus curanmor jadi yang paling tinggi. Di bawahnya menyusul kasus penyalahgunaan narkoba, 205 perkara dan pencurian dengan pemberatan atau curat 184 perkara. Sungguh prestasi yang memilukan.

Kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) paling banyak terjadi di kabupaten Karawang sepanjang tahun 2018 lalu. Polres Karawang mencatat ada 333 kejadian curanmor. Dengan jumlah tersebut, Karawang jadi daerah dengan tingkat curanmor kedua terbanyak di Jawa Barat, sesudah Kota Bandung (m.detik.com, 31/12/2018). 

Melihat kondisi masyarakat kekinian, meningkatnya tindak kriminal adalah hal yang wajar. Beberapa faktor penyebab,
Pertama, kemiskinan akut. Mahalnya harga-harga kebutuhan dasar menyebabkan masyarakat mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup secara cepat. Salah satunya adalah dengan melakukan tindak kriminal, termasuk curanmor.

Kedua, sanksi bagi pelaku kejahatan yang tidak memberikan efek jera. Penjara bukan lagi tempat menakutkan. Justru menjadi pilihan tempat yang nyaman dan aman dari kekejaman dunia luar. Karena mendapat pemeliharaan. Tidak perlu memikirkan biaya hidup yang justru lebih menyeramkan. Ketikapun keluar penjara, kembali beraksi (melakukan tindak kriminal). Karena ketiadaan lapangan pekerjaan.

Ketiga, fasilitas publik yang buruk. Seperti kurangnya cctv di area publik. Banyak jalan yang masih sepi dari penerangan. Sehingga para begal atau pelaku kejahatan merasa bebas untuk melakukan aksi curanmor.

Terakhir, rapuhnya keimanan. Mudahnya seseorang terseret dalam tindak kriminal adalah karena kekosongan jiwanya dari keberadaan Allah yang Maha Kaya. Sehingga nekat melakukan pelanggaran syariat Islam yang berefek merugikan di akhirat kelak.

Peningkatan tindak kriminal, alamiah di sistem Kapitalis. Maka, sebanyak apapun aparat yang di turunkan, tindak curanmor tidak akan berkurang. Kecuali negara melakukan perbaikan ekonomi, yaitu mensejahterakan masyarakat. Sehingga tidak ada lagi yang melakukan kejahatan atas dorongan kemiskinan.

Kemudian perbaikan hukum dengan memberikan sanksi yang memberikan efek jera (jawazir). Dalam Islam. Pencuri akan mendapat hukum potong tangan jika jumlahnya melebihi 4.25 gr dinar/emas. 

"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (TQS. Al-maidah: 38).
Hukum seperti ini akan membuat orang akan berpikir berkali-kali untuk mencuri, karena memiliki efek sosial. Terlihat, yang tangannya buntung, dia mantan pencuri. 

Selain itu, hukum yang berasal dari Allah juga memiliki efek jawabir alias sebagai penebus dosa. Pelaku pencurian yang telah dipotong tangannya oleh negara, maka dosa mencurinya telah dibersihkan. Berbeda dengan sekarang. Di dunia dimasukkan ke penjara, di akhirat masih dihisab. 

Kemudian membina pemikiran masyarakat dengan pemahaman Islam. Sehingga kondisi sesempit apapun, tidak bisa menyeretnya kedalam tindak kejahatan. Karena memahami, apa yang diperbuat di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Maka, sudah sepatutnya kita tinggalkan sistem kapitalis yang menyengsarakan manusia di dunia dan akhirat ini. Dan beralih kepada sistem Islam yang menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu alam





*Muslimah Praktisi Pendidikan dari Karawang

Editor Lulu






This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.