Aku Rindu Padamu

Hot News

Hotline

Aku Rindu Padamu


Oleh Aisyah Syafa


Prolog :

Semua orang punya masa lalu dalam hidupnya. Entah masa lalu itu baik atau buruk. Namun, orang-orang beruntung adalah mereka yang bangkit dan mengambil pelajaran dari lembaran kisah masa lalunya. Meski terkadang kejadian buruk yang menimpa, bukan semata mata ulah kita. Pembiaran kemaksiatan. Penerapan hukum dan tatanan kehidupan yang dibuat dengan kecongkakan, seakan bangga menandingi syariat yang telah Allah wahyukan, membuat kisah ini acap kali terjadi.

***

Hari ini.

Hembusan angin menerpa kerudung panjang Kayla. Gadis cantik berusia 23th itu, telah 1 tahun menutup auratnya dengan syar'i. Kain penutup kepala warna kuning kunyit terjuntai menutup dada, berkibas-kibas mengikuti liuk angin. Dipadu gamis maron polos model payung, penampilan Kayla terlihat sangat anggun.

Di dalam angkot jurusan Gubeng-Wonokromo Kayla duduk di kursi belakang. Lengang keadaan mobil berbayar ini, di hari pertama awal tahun 2019.

Sesekali Kayla merapikan kerudungnya yang tersibak angin nakal. Merasa dipermainkan sang angin dari belakang tubuhnya, Kayla mencoba membalikkan badan. "Ah, ini penyebabnya." lirih Kayla berucap. Kaca jendela angkot tepat dibelakangnya terbuka lebar. Merasa angin menerpa tubuhnya telalu kencang dan khawatir membuat auratnya tersingkap, kaca jendela pun ia tutup rapat.

"Cukup, aku mendapatkan hembusan angin dari pintu di depanku ini saja," gumam Kayla yang duduk berhadapan dengan pintu keluar masuk penumpang.

Kayla melihat penunjuk waktu di pergelangan kirinya. Sudah Jam 11.00, apa orang-orang masih tertidur pulas jam segini lantaran begadang semalaman? atau sudah malas keluar karena beberapa hari dimanja dengan libur beruntutan? Malam tahun baru kali ini, dirasakan Kayla tak seperti bisanya. Sepi, tidak ada kembang api berbunyi atau makan bersama warga sekitar di rumah dengan hiburan layar tancap ditambah music karaoke atau single electone sewaan. Apakah mereka tersadar? Merayakan tahun baru masehi, memang bukan bagian dari ajaran Islam,

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan)

Selama perjalanan, angkot berwarna senada dengan kerudung Kayla, sama sekali tidak mendapatkan penumpang di jalan. Hanya aku, dan satu ibu, bersama anak lelakinya yang berusia sekitar 10 tahunan.
Kayla merogoh tas kesayangannya, hari ini giliran buletin 'kaffah' yang terbit mingguan, sebagai bacaan. Semenjak mengikuti kelas menulis, Kayla jadi suka membaca sebagai amunisi kala menulis. Cita-cita besarnya menjadi "Novelis Religi" sebagai wasilah penyadar umat.

Setelah buletin itu selesai dibaca, pandangan Kayla berbalik melihat kaca depan sopir. Sekilas melirik wajah pengemudi itu.

"Kasian Pak sopir. Kalau keadaan seperti ini, gimana dia bawa pulang hasil kerja untuk anak istrinya? Bisa-bisa malah tekor karena uang harus dipake bayar setoran."

Laju angkot itu tenang, membuat Kayla nyaman. Tak seperti sopir angkot kebanyakan, yang ugal-ugalan.

Sadar sorot mata kayla mengarah padanya, sopir itu bertanya.

"Mbak, turun mana?" Sopir itu bertanya padaku melalui kaca belakang.

"Wonokromo, Pak," jawab Kayla.

Sejak memutuskan berhijrah, Kayla menjadi pribadi berbeda. Dia mudah sekali merasa iba, kala bola matanya menangakap derita manusia. Lebih sensitif. Kepekaannya mulai terasah saat negeri tercintanya jadi carut marut lantaran ketidakbecusan manusia yang bergaya layaknya Sang Pencipta.

Rasulullah pernah bersabda.
“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.”
Ada seorang sahabat bertanya?
"Bagaimana maksud amanat disia-siakan?"
Nabi menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari-6015)

"Apa tidak cukup, tanda-tanda peringatan Allah! Bencana terjadi di mana-mana! Seakan mengintai dan siap melakukan tugas pentingnya." Kayla menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan cepat.

Kayla sungguh tak ingin negaranya hancur lebur karena sistem demokrasi buatan manusia yang membuat amburadul.  Dia berusaha memantaskan diri dengan terus semangat menghadiri kajian. Ilmu yang didapat, membuatnya siap belajar berdakwah di tengah umat. Ditambah lagi dengan potensi dirinya, Menulis.

"Kalau ucapanku tak kalian dengar mungkin tulisanku tak bisa kalian acuhkan." Senyuman manis tersungging di bibirnya kala 'Quote' melintas apik dibenaknya.

Padahal dulu, Kayla termasuk gadis cuek, kata sejenisnya 'acuh', nggak perduli dengan keadaan sekitar. Jangankan mengomentari keadaan pemerintahan saat ini berpikir tentang saudara, teman, lingkungan sekitar saja dia enggan. Tipe gadis yang asyik dengan dunia sendiri. Untung daya magnet Kayla kuat karena kecantikan dan kemudahan dia bergaul. Meski perangainya terkadang mengesalakan, jumlah temannya lumayan.

***
1 Tahun 8 bulan lalu.


Duduk di bibir tempat tidur wanita berusia tiga puluhan. Raut wajahnya begitu teduh, pulasan bedak tipis terlihat di wajah ayunya. Polos tak ada pensil yang menggaris alisnya, tak ada gincu merah melekat di bibirnya.

Bu Hasna nama panggilannya, berprofesi sebagai seorang psikolog dengan pengetahuan keagamaan yang tinggi. Ketika ada yang ingin berkonsultasi, Bu Hasna bukan hanya memberikan solusi dari sudut pandang manusia tapi juga agama. Paling penting solusi yang diberikan selalu harus berdasarkan syariat dan Allah ridho atau tidak atas solusi itu.

Bu Hasna sudah lama dikenal oleh keluarga Kayla. Karena beliau kadang mengisi kajian islam yang diikuti Bunda Kayla.

"Mbak Kayla, sayang sama Bunda?" Tanya Bu Hasna di sela pembicaraan satu arah. Karena jika Bu Hasna yang bertanya, Kayla hanya membisu. Usapan lembut pada lengan Kayla selalu dilakukan di sela pertanyaan yang dilontarkan dan memberikan efek pada Kayla. Kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca. Tak lama butiran bening dari kedua sudut matanya menetes keluar.

"Mbak Kayla, kalau seperti ini terus, Bunda Mbak Kayla pasti sedih."

Kayla, terus meneteskan air matanya meski tanpa kata. Nanar indra Kayla, nampak kosong. Tak sedikitpun dia berusaha menatap Bu Hasna yang duduk di sampingnya. Tatapan Kayla lurus ke depan, begitu tajam, fokusnya hanya menuju satu titik. Titik dendam. Setiap pertanyaan yang membuat Kayla gusar, tangan kirinya akan mengerat erat kain penutup tempat tidur lebih kencang. Sedang tangan kanananya memainkan beberapa helai rabutnya dengan ritme semakin cepat. Posisi Kayla selalu ada di situ, tak berubah. Di sudut tempat tidur itu Kayla terdiam. Membisu.

Sudah 3 kali pertemuan antara Bu Hasna dengan Kayla. Pada awalnya memang Bunda Kayla sendiri yang meminta.

"Saya minta tolong Bu Hasna. Tolong bantu Kayla. Perjalanan hidup putri saya masih panjang, Bu." Isak tangis wanita yang membesarkan Kayla memuncah. Wanita itu sangat menyayangi Kayla. Dialah orang yang paling tersiksa melihat gadis kecilnya yang telah tumbuh dewasa, tiba-tiba tak punya harapan dalam hidupnya. 

Kejadian 8 bulan lalu, sungguh membuat Kayla hancur. Perlakuan tak senonoh dari sosok manusia berhati binatang menghantui hari hari Kayla ke depan. Tragedi itu terjadi saat Kayla sedang menunggu angkot sepulang kerja. Tempat kerja yang lengang menjadikan tragedi menjijikkan berjalan aman. Sebuah mobil mewah melintas depan Kayla, kemudian berhenti. 2 orang lelaki penampilan menakutkan, menarik paksa Kayla dalam mobil. Selanjutnya tak ada yang tau nasib Kayla di tengah kebengisan mereka. Kadang orang tua Kayla berpikir, kenapa kejadian itu bisa terjadi pada anak gadisnya, apakah kegemaran Kayla menggunakan busana minim dengan dandanan menor menarik perhatian lelaki tak beriman. Tak ada yang mengerti alasan semua itu terjadi.

Allah ternyata masih sayang pada Kayla juga orang tuanya. Beberapa kali bertemu Bu Hasna, seakan menjadi penawar racun kesakithatian, dendam, amarah juga keputus asaan Kayla. Pertolongan Allah melalui Bu Hasna sebagai penyemangat saat hati dan pikirannya tercabik perih seketika bangkit melawan kenestapaan. Keadaan Kayla berangsur angsur membaik. Malah semakin baik. Semua berubah. Cara berpenampilan, cara berpakaian, cara pandang berubah 180°.

***

"Kau boleh merenggut ragaku, tapi tidak pikiranku! Kisahku yang kalian torehkan boleh merampas masa laluku, tapi tidak masa depanku!" Ucap Kayla lantang dalam hati, dengan tangan mengepal.

Angkot masih melaju, bersamaan dengan laju semangat Kayla yang membuncah kuat tak tertahan akan adanya perubahan.

"Ya Allah, Ini aku, sekarang. Kayla gadis lugu yang acuh itu telah berubah." Senyuman manis namun dingin mengukir bibirnya.

"Aku, adalah gadis yang sama sekali tidak beruntung karena terlahir dalam sistem pemerintahan ini! Akulah produk kebrobrokan sistem kufur ini! Di mana kalian, hai! para pemimpin negeri ini! Saat aku berteriak kencang ketika seorang lelaki hitam berbadan kekar, dengan bibir menyeringai menakutkan, mulai mendekati diriku dengan liur menjijikkan menetes dari bibir hitam sama persis seperti binatang yang diharamkan." Bayangan mengerikan itu terkadang muncul, sungguh menyesakkan.

"Alih-alih membelaku, kalian malah tergiur tumpukan uang membuat biadab itu berlenggang. Di mana keadilan di negara sekuler kapitalis ini. Kala uang seolah menggantikan takdir tuhan." Raut wajah Kayla berubah merah.

Kayla mulai teringat sebuah kisah tentang seorang wanita muslimah yang disingkap auratnya dengan paksa oleh Yahudi di pasar. Rasulullah yang mendengar kabar itu langsung mengumpulkan pasukan untuk mengepung perkampungan Bani Qainuqa.

"Ya Allah, dulu di zaman kejayaan Islam, satu wanita saja mengadu mendapatkan pelecehan, Rasulullah langsung mengutus pasukan besar. Itu baru satu wanita muslimah. Kalau sekarang?"

Terlihat di depan mata, jelas. Begitu banyak tindak kejahatan pada wanita. Pemerkosaan, pelecehan, penyiksaan tapi tersangka tidak mendapatkan hukuman berat. Padahal apa yang mereka lakukan bisa saja membuat hancur kehidupan anak manusia.

"Aku rindu suasana itu,  aku rindu penerapan cara kepemimpinan seperti yang kau ajarkan. Aku rindu hidup dalam naungan khilafah dengan penerapan Islam secara kaffah. Aku rindu padamu, Ya Rasulullah."

"Kiri, Pak."
"Ok, Mbak, di sini aja?"
"Iya, Pak. Sini aja." Sambil turun, kuberikan uang kertas 20 ribuan.

"Mbak, ini kebanyakan!?
"Nggak papa, Pak. Ambil aja."
"Makasih ya, Mbak."
"Sama-sama." Angkot itu kembali lengang, kosong tak berpenumpang. 

Kayla telah sampai pada tujuan. Perjalanan di angkot jurusan Gubeng-Wonokromo telah menghentakkan kembali tekadnya untuk berjuang, dalam jalan dakwah. Perjuangan dalam barisan panji Rasulullah untuk menegakkan Islam kaffah.

TAMAT


Aisyah Syafa (Member Akademi Menulis Kreatif dari Surabaya)


 




This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.